RADAR BANYUWANGI — Tiga tahun sebelum serangan 11 September 2001 atau 9/11 menewaskan hampir 3.000 orang, CIA ternyata telah berulang kali memperingatkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan penerusnya, George W. Bush, tentang tekad Osama bin Laden menyerang Amerika.
Peringatan itu kini bisa dibaca publik setelah CIA membuka puluhan dokumen intelijen yang sebelumnya berstatus rahasia. Salah satu laporan bahkan menyebut kemungkinan pendukung bin Laden menerbangkan pesawat berisi bahan peledak ke sebuah kota di Amerika Serikat.
Dokumen tersebut dirilis CIA pada Jumat, 11 September 2026, bertepatan dengan peringatan 25 tahun serangan teror 9/11. Isinya berasal dari President's Daily Brief, laporan intelijen harian yang diberikan kepada Clinton dan Bush.
Direktur CIA John Ratcliffe menyebutnya sebagai rilis analisis CIA terbesar yang pernah dibuka terkait 9/11.
Peringatan Muncul Sejak 1998
Dokumen yang dibuka mencakup periode Februari 1998 hingga 12 September 2001. Totalnya lebih dari 100 halaman, meski sebagian besar masih mengalami penyuntingan atau penghapusan informasi sensitif.
Salah satu laporan penting berasal dari September 1998. Saat itu, intelijen AS menyampaikan bahwa pendukung bin Laden kemungkinan memiliki rencana menggunakan pesawat berisi bahan peledak untuk menyerang sebuah kota di AS.
Namun, laporan yang sama juga menunjukkan keterbatasan informasi intelijen saat itu. CIA menyatakan belum memiliki informasi konklusif mengenai bagaimana dan kapan serangan tersebut akan dilakukan.
Artinya, ancaman sudah terdeteksi, tetapi gambaran mengenai bentuk serangan belum cukup jelas untuk memprediksi tragedi 11 September secara spesifik.
Ancaman Al Qaeda Terus Menguat
Peringatan kepada Gedung Putih tidak berhenti pada satu laporan.
Berbagai memo intelijen menunjukkan bahwa jaringan bin Laden terus mempersiapkan serangan terhadap kepentingan Amerika, baik di dalam negeri maupun terhadap kedutaan dan pangkalan militer AS di luar negeri.
Intelijen juga mencatat sejumlah aktivitas mencurigakan. Di antaranya pelatihan untuk membajak pesawat komersial, uji coba keamanan bandara AS, eksperimen menggunakan senjata kimia atau senjata nonkonvensional, rencana penyanderaan hingga perdagangan narkotika untuk membiayai operasi teror.
Delapan hari setelah serangan rudal AS pada 20 Agustus 1998 yang gagal membunuh bin Laden, sebuah laporan intelijen menyimpulkan bahwa pemimpin Al Qaeda tersebut dan sejumlah tokoh teroris lainnya selamat.
Jaringan komunikasi mereka juga disebut masih berfungsi. Pelatihan militan bahkan kembali berlangsung di sejumlah kamp.
Taliban Tak Kunjung Menyerahkan Bin Laden
Dokumen tersebut juga menggambarkan persoalan lain yang dihadapi pemerintahan AS: keberadaan bin Laden di Afghanistan.
Laporan intelijen secara konsisten menilai rezim Taliban tidak memiliki kecenderungan menyerahkan pemimpin Al Qaeda tersebut.
Dalam laporan 26 Maret 2001, intelijen AS memperkirakan Taliban tidak akan menyerahkan bin Laden kecuali memperoleh pengakuan diplomatik penuh serta bantuan rekonstruksi dalam jumlah signifikan.
Kondisi itu membuat bin Laden tetap memiliki ruang untuk menjalankan aktivitasnya di Afghanistan.
Peringatan Paling Terkenal: 6 Agustus 2001
Puncak rangkaian peringatan muncul hanya sekitar sebulan sebelum serangan 9/11.
Pada 6 Agustus 2001, komunitas intelijen AS memberikan laporan kepada Presiden George W. Bush dengan judul yang kemudian menjadi sangat terkenal:
“Bin Ladin Determined to Strike in US.”
Laporan itu kembali menggambarkan tekad bin Laden untuk menyerang wilayah Amerika.
Namun, seperti peringatan-peringatan sebelumnya, informasi yang tersedia belum memberikan kepastian mengenai waktu, lokasi, maupun metode serangan.
Kurang dari enam minggu kemudian, empat pesawat komersial dibajak. Dua ditabrakkan ke Menara Kembar World Trade Center di New York, satu menghantam Pentagon, sementara satu lainnya jatuh di Pennsylvania setelah penumpang melawan para pembajak.
Serangan yang dilakukan jaringan Al Qaeda itu menewaskan hampir 3.000 orang dan mengubah kebijakan keamanan Amerika serta geopolitik dunia.
Bukan Temuan Baru, tetapi Gambaran yang Lebih Lengkap
Meski dramatis, dokumen yang baru dibuka tersebut tidak serta-merta menghadirkan pengungkapan besar yang sebelumnya sama sekali tidak diketahui.
Berbagai penyelidikan Kongres AS dan kesaksian pejabat pemerintahan saat itu sebelumnya telah mengungkap bahwa badan-badan intelijen Amerika memang mengetahui ancaman Al Qaeda yang semakin besar.
Nilai penting dokumen terbaru lebih pada kemampuannya memperlihatkan alur peringatan secara langsung dari waktu ke waktu.
Dari 1998 hingga beberapa hari sebelum 9/11, laporan intelijen menunjukkan pola yang relatif sama: ancaman terhadap Amerika terus meningkat, tetapi informasi yang diterima pemerintah masih terlalu samar untuk menentukan secara pasti kapan dan bagaimana serangan besar akan terjadi.
Pembukaan dokumen ini, menurut Ratcliffe, memungkinkan publik melihat sendiri informasi intelijen yang mengarah menuju salah satu tragedi paling mematikan dalam sejarah Amerika. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : NBC News