
RADAR BANYUWANGI - Tidak semua lelah terlihat dari luar. Ada orang yang tetap bangun pagi, menyiapkan keperluan keluarga, bekerja, menyelesaikan tugas, menjawab pesan, tersenyum ketika bertemu orang lain, bahkan masih sempat membantu orang di sekitarnya. Dari luar, tidak ada yang tampak bermasalah.
Namun, ketika sendirian, ia merasa ingin berhenti sejenak dari semuanya. Bukan karena tidak bersyukur atau tidak mampu menjalani hidup. Ia hanya merasa tenaganya terus berkurang, sementara kehidupan tidak pernah benar-benar memberi kesempatan untuk berhenti. Inilah jenis lelah yang sering tidak terlihat.
Kelelahan fisik biasanya lebih mudah dikenali. Tubuh memberi tanda: mengantuk, pegal, atau lemas. Kita tahu kapan harus beristirahat. Namun, kelelahan yang bersumber dari tekanan emosional tidak selalu hadir dengan tanda yang jelas.
Seseorang bisa tetap bekerja, berkomunikasi, mengurus rumah, bahkan menjadi tempat penolong bagi orang lain. Tetapi di dalam dirinya ada bagian yang mungkin sudah lama bekerja terlalu keras.
Yang melelahkan kadang bukan banyaknya pekerjaan, melainkan banyaknya hal yang harus dipikirkan dan dirasakan sekaligus. Memikirkan orang tua, anak, pekerjaan, kondisi ekonomi, menjaga perasaan pasangan, menyelesaikan masalah yang tidak kunjung selesai, menahan kecewa, hingga menjawab, “Tidak apa-apa,” ketika sebenarnya ada sesuatu yang ingin disampaikan. Jika berlangsung terus-menerus, beban itu akan menumpuk.
Stres merupakan respons manusia yang wajar ketika menghadapi tekanan atau situasi sulit. Masalahnya bukan semata-mata karena seseorang mengalami stres, melainkan ketika tekanan berlangsung terus dan kemampuan untuk memulihkan diri tidak lagi seimbang dengan tuntutan yang dihadapi.
WHO mencatat bahwa stres berlebihan dapat memengaruhi tubuh maupun pikiran, termasuk pola tidur, konsentrasi, suasana hati, dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Karena itu, seseorang mungkin mulai bertanya, “Mengapa sekarang saya mudah tersinggung?” Hal kecil terasa mengganggu. Pesan yang sebenarnya biasa saja terasa melelahkan untuk dibalas. Percakapan yang dahulu menyenangkan mulai terasa menguras tenaga. Konsentrasi menurun dan keputusan sederhana pun terasa berat.
Terkadang bukan karena persoalannya menjadi lebih besar. Bisa jadi, kapasitas diri untuk menanggung persoalan tersebut sudah semakin berkurang.
Dalam kondisi seperti itu, seseorang sering kali justru menyalahkan dirinya sendiri. “Kenapa saya tidak sekuat dulu? Padahal masalah saya tidak seberapa.” Atau, “Orang lain juga punya masalah. Seharusnya saya bisa mengatasinya.”
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




