RADAR BANYUWANGI — Perang Iran dan Amerika Serikat kembali memanas di kawasan Selat Hormuz. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim berhasil menghantam dua kapal perang AS menggunakan rudal balistik hingga mengalami kerusakan dan terpaksa meninggalkan area pertempuran pada Minggu (6/9).
Klaim tersebut disampaikan IRGC ketika ketegangan militer antara Teheran dan Washington terus meningkat. Iran menyebut dua kapal perang AS menjadi sasaran serangan di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik kedua negara.
IRGC, sebagaimana dikutip Anadolu Agency, juga mengklaim Komando Pusat AS (CENTCOM) telah mengakui adanya serangan terhadap dua kapal perang angkatan laut AS. Teheran menjadikan pernyataan tersebut sebagai konfirmasi atas keberhasilan operasi militernya.
Namun, rincian mengenai jenis kapal, lokasi persis serangan, jumlah rudal yang diluncurkan, maupun tingkat kerusakan belum dijelaskan secara terperinci dalam pernyataan IRGC.
Iran Klaim Kapal Perang AS Kabur
IRGC menyebut kedua kapal perang AS mengalami kerusakan dan kemudian "kabur dari area pertempuran".
Pernyataan itu disampaikan sebagai bagian dari respons Iran terhadap aktivitas militer AS di sekitar perairan strategis tersebut. Teheran juga mengirim peringatan keras kepada Washington.
Iran memperingatkan bahwa aksi militer AS yang terus dilakukan akan dibalas dengan respons yang disebut "lebih berat" dari angkatan bersenjatanya.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa Teheran tidak berniat mengendurkan tekanan militernya meski sebelumnya kedua negara sempat mencapai kesepakatan untuk menghentikan pertempuran.
Kapal Tanpa Awak AS Juga Jadi Sasaran
Selain klaim serangan terhadap kapal perang, IRGC mengatakan pasukannya sebelumnya menyerang kapal militer AS yang dikendalikan dari jarak jauh.
Kapal tersebut disebut berusaha memasuki Selat Hormuz. Pasukan Iran kemudian melancarkan serangan terhadap kapal tersebut.
IRGC tidak memberikan rincian lebih jauh mengenai jenis operasi yang dilakukan maupun dampak serangan terhadap kapal militer tersebut.
Dalam perkembangan lainnya, pasukan Iran juga disebut telah menargetkan tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz serta tiga kapal yang memiliki keterkaitan dengan AS di lokasi lain.
Serangkaian serangan itu disebut Iran sebagai respons atas serangan Washington terhadap kapal-kapal tanker milik Teheran.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas
Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian dalam konflik Iran-AS. Perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut memiliki posisi strategis bagi lalu lintas energi dunia.
Setiap peningkatan aktivitas militer di kawasan itu berpotensi mengganggu keamanan pelayaran dan distribusi minyak. Karena itu, aksi saling serang antara Iran dan AS di sekitar Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada kedua negara, tetapi juga berpotensi meningkatkan ketidakpastian di pasar energi global.
Bagi Iran, penguasaan dan kemampuan mengganggu aktivitas militer maupun pelayaran di kawasan tersebut menjadi bagian penting dari strategi menghadapi tekanan Washington.
Perang Berlanjut meski Pernah Ada Kesepakatan
Iran dan AS telah terlibat dalam pertempuran sejak akhir Februari. Kedua negara sebelumnya sempat mencapai gencatan senjata dan menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang diarahkan untuk mengakhiri perang.
Namun, kesepakatan tersebut tidak mampu menghentikan sepenuhnya konflik.
Teheran menuduh Washington melanggar kesepakatan dengan terus melakukan serangan terhadap Iran. AS dan Iran kemudian kembali terlibat dalam aksi militer yang membuat situasi kawasan semakin bergejolak.
Klaim terbaru IRGC mengenai dua kapal perang AS yang rusak menambah daftar konfrontasi langsung kedua negara. Iran sekaligus menegaskan bahwa setiap serangan AS akan mendapat balasan yang lebih besar.
Dengan Selat Hormuz tetap menjadi salah satu medan utama konfrontasi, risiko eskalasi konflik masih terbuka lebar. (*)
Editor : Ali Sodiqin