RADAR BANYUWANGI – Konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) belum menunjukkan tanda-tanda segera berakhir. Data intelijen terbaru AS justru mengindikasikan Teheran semakin percaya diri dengan kemampuannya menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah dan bersiap menghadapi konflik yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan.
Laporan The New York Times pada Jumat menyebut sejumlah pejabat AS menilai belum ada indikasi cukup kuat bahwa Iran siap memenuhi tuntutan Washington dan mencapai kesepakatan sebelum pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.
Situasi itu membuat jalur diplomasi kembali berada di bawah bayang-bayang eskalasi militer.
Iran Belum Menunjukkan Tanda Menyerah
Menurut laporan yang mengutip data intelijen terbaru AS, Iran disebut semakin yakin terhadap kemampuan militernya dalam melakukan serangan terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan Timur Tengah.
Keyakinan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Teheran dinilai tidak terburu-buru menerima tuntutan Washington.
Dengan kondisi itu, konflik yang sebelumnya diharapkan segera mereda justru berpotensi berlangsung lebih panjang.
Presiden AS Donald Trump bahkan mengatakan pada awal pekan ini bahwa dirinya tidak mengetahui kapan konflik dengan Iran akan berakhir.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Washington sendiri belum memiliki kepastian mengenai kapan permusuhan kedua negara dapat dihentikan secara permanen.
Serangan Dibalas Serangan
Ketegangan terbaru berawal pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran.
Teheran kemudian merespons dengan serangkaian serangan balasan.
Sejak saat itu, konflik berkembang menjadi rangkaian aksi militer dan tekanan politik yang belum sepenuhnya terputus.
Upaya diplomatik sempat muncul pada pertengahan Juni. Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman yang ditujukan untuk menghentikan permusuhan.
Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama.
Kedua pihak kembali saling melancarkan serangan. Permusuhan pun berlanjut secara sporadis hingga sekarang.
Washington Pilih Senjata Ekonomi
Di tengah belum jelasnya jalan keluar militer, Washington juga meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi AS untuk menekan Teheran melalui tambahan tekanan finansial.
Artinya, pertarungan antara kedua negara tidak hanya berlangsung melalui serangan militer.
Tekanan ekonomi kini menjadi instrumen lain yang digunakan Washington untuk memaksa Iran mengubah sikapnya.
Namun, berdasarkan laporan intelijen terbaru yang dikutip The New York Times, tekanan tersebut belum menunjukkan tanda bahwa Iran akan segera menerima tuntutan AS.
Pemilu AS Ikut Jadi Sorotan
Waktu juga menjadi faktor penting dalam konflik tersebut.
Pemilihan paruh waktu AS pada 3 November menjadi salah satu tenggat politik yang mendapat perhatian. Washington disebut berharap ada perkembangan menuju kesepakatan sebelum momentum politik tersebut.
Namun, laporan intelijen yang dikutip The New York Times menunjukkan belum terdapat cukup bukti bahwa Iran siap mencapai kesepakatan dengan memenuhi tuntutan Washington dalam periode tersebut.
Jika penilaian itu bertahan, konflik AS-Iran berpotensi menjadi persoalan yang semakin panjang dan kompleks.
Bagi kawasan Timur Tengah, kondisi tersebut berarti ancaman eskalasi belum benar-benar hilang.
Iran masih memiliki kemampuan dan kemauan untuk melawan, sementara AS terus meningkatkan tekanan. Di titik inilah konflik yang semula diharapkan segera selesai justru berisiko berubah menjadi konfrontasi berkepanjangan. (*)
Editor : Ali Sodiqin