RADAR BANYUWANGI – Iran melancarkan sindiran keras terhadap Amerika Serikat (AS) setelah muncul usulan agar utang mahasiswa dan kartu kredit warga muda AS dihapus sebagai imbalan kesediaan mereka bergabung dalam perang melawan Iran. Teheran menilai gagasan tersebut tak ubahnya menjadikan persoalan ekonomi generasi muda sebagai alat perekrutan untuk konflik bersenjata.
Sindiran itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei melalui unggahan di X pada Jumat.
Baghaei mempertanyakan alasan anak-anak muda Amerika harus diberi tawaran penghapusan utang apabila bersedia berperang dan menghadapi risiko kematian dalam konflik yang, menurut Iran, ingin dilanjutkan dan diperluas Israel.
“Mengapa anak-anak kalian harus ditawari penghapusan utang sebagai imbalan untuk berperang dan mati?” tulis Baghaei.
Pernyataan tersebut merujuk pada sebuah artikel opini di The Jerusalem Post yang mengusulkan skema penghapusan utang sebagai insentif untuk merekrut ratusan ribu warga Amerika apabila Washington memutuskan melakukan invasi darat ke Iran.
Gagasan Kontroversial dari Artikel Opini
Usulan tersebut datang dari AJ Jaff. Dalam artikelnya, Jaff berargumen bahwa kekuatan personel militer Amerika saat ini belum memadai jika Washington hendak menjalankan invasi darat berskala besar ke Iran.
Ia memperkirakan operasi semacam itu membutuhkan antara 750 ribu hingga 1,5 juta tentara Amerika. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan jumlah personel aktif Angkatan Darat AS yang disebut sekitar 452 ribu.
Jaff menilai kesenjangan tersebut membuat kebutuhan perekrutan menjadi persoalan serius.
“Jumlah rekrutmen berada di bawah kebutuhan untuk invasi darat ke Iran. Hitungannya jelas tidak masuk akal,” tulis Jaff, seperti dikutip TRT World.
Dari persoalan kebutuhan personel itulah muncul gagasan memanfaatkan masalah ekonomi yang dihadapi sebagian generasi muda Amerika.
Jaff mengusulkan penghapusan pinjaman mahasiswa dan utang kartu kredit sebagai insentif bagi warga muda yang bersedia bergabung dengan militer.
Konsep tersebut disebut dapat mengambil inspirasi dari program insentif militer Amerika pada masa lalu, termasuk GI Bill.
Utang Generasi Muda Jadi Sorotan
Jaff menyoroti kelompok warga Amerika berusia 18 hingga 34 tahun. Dalam artikelnya, kelompok tersebut disebut rata-rata memiliki utang non-hipotek lebih dari USD 40 ribu.
Utang yang dimaksud mencakup berbagai kewajiban, mulai pinjaman pendidikan, kredit kendaraan, hingga pinjaman pribadi.
Persoalan itulah yang kemudian menjadi sasaran serangan retoris Teheran.
Baghaei menggambarkan gagasan tersebut sebagai pertukaran yang tidak seimbang: persoalan utang generasi muda ditawarkan sebagai imbalan untuk kesediaan mereka mempertaruhkan nyawa dalam perang.
“Nyawa kalian. Pajak kalian. Perang milik orang lain,” tulis Baghaei dalam unggahannya.
Ia juga menyerukan agar masyarakat Amerika tidak membiarkan anak-anak mereka digunakan untuk kepentingan perang.
“Jangan biarkan siapa pun mengubah anak-anak Anda menjadi tentara bayaran untuk perang ilegal pilihan mereka,” lanjutnya.
Iran bahkan menyertakan meme satir yang merujuk serial Squid Game. Materi tersebut memperkuat pesan propaganda dan sindiran Teheran terhadap gagasan menjadikan kesulitan ekonomi sebagai alat perekrutan militer.
Sindiran Muncul di Tengah Konflik Washington-Teheran
Polemik tersebut muncul ketika hubungan Amerika Serikat dan Iran masih dibayangi konflik militer terbuka.
Dalam laporan yang menjadi dasar informasi tersebut, AS disebut bergabung dengan Israel dalam serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, sejumlah pejabat senior militer, serta ratusan warga sipil.
Iran kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah sasaran di kawasan Teluk. Teheran juga meningkatkan tekanan di sekitar Selat Hormuz.
Dalam situasi seperti itu, isu perekrutan personel untuk kemungkinan operasi darat menjadi sangat sensitif.
Bagi Iran, munculnya gagasan penghapusan utang sebagai insentif perekrutan menjadi celah untuk menyerang kebijakan Washington sekaligus membangun narasi bahwa generasi muda Amerika berpotensi menjadi pihak yang menanggung biaya sosial dan manusiawi dari konflik.
Sementara itu, penting dicatat bahwa gagasan penghapusan utang tersebut berasal dari artikel opini, bukan pengumuman resmi pemerintah Amerika Serikat mengenai kebijakan perekrutan militer.
Perbedaan antara opini dan kebijakan resmi menjadi penting agar usulan tersebut tidak disalahartikan sebagai program pemerintah AS yang telah diterapkan.
Pada akhirnya, perang tidak hanya memunculkan pertarungan di medan militer. Di tengah konflik Washington-Teheran, isu ekonomi, utang generasi muda, hingga propaganda ikut menjadi senjata dalam perang narasi kedua negara. (*)
Editor : Ali Sodiqin