Iran Tantang Trump: Selat Hormuz Tak Bisa Direbut dengan Cuitan atau Kapal Induk

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi konfrontasi militer antara AS-Israel dengan Iran. (Gemini AI)
Ilustrasi konfrontasi militer antara AS-Israel dengan Iran. (Gemini AI)

RADAR BANYUWANGI – Perseteruan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump menyatakan akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS. Teheran langsung membalas dengan penolakan keras dan meminta Washington mengakui apa yang disebutnya sebagai kekalahan strategis.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada dalam kendali Iran. Ia bahkan memperingatkan bahwa jalur pelayaran strategis tersebut hanya akan dibuka atau ditutup berdasarkan keputusan Teheran.

Pernyataan itu disampaikan Gharibabadi pada Sabtu (15/8/2026), sehari setelah Trump mengumumkan rencana tersebut dalam kunjungannya ke Akademi Kepolisian Nassau County di Garden City, New York. 

“Terimalah kenyataan ini sekali dan untuk selamanya; sejauh ini, Anda telah mengalami kekalahan serius dan strategis,” kata Gharibabadi melalui media sosial X.

Ia kemudian menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi milik Iran dan pembukaan maupun penutupannya berada dalam keputusan Teheran.

Trump Klaim AS Sudah Menguasai Selat Hormuz

Pernyataan Gharibabadi muncul setelah Trump mengatakan Amerika Serikat akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayahnya setelah Iran dikalahkan.

Trump juga mengklaim Angkatan Laut AS telah memberlakukan blokade total di jalur perairan tersebut. Menurut dia, tidak ada kapal yang dapat melintas tanpa izin Amerika Serikat.

Pernyataan Trump menjadi eskalasi terbaru dalam konflik AS-Iran yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026.

Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik tersebut. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu merupakan rute penting bagi perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelumnya melewati kawasan tersebut. 

Iran: Hormuz Tak Bisa Direbut dengan Cuitan

Gharibabadi tidak hanya menolak klaim Trump, tetapi juga mengejek gagasan bahwa Selat Hormuz dapat direbut hanya melalui pernyataan politik atau kekuatan militer.

“Selat Hormuz tidak bisa direbut hanya melalui sebuah cuitan atau dengan kapal induk, ataupun dengan mengeluarkan perintah, atau dengan menyampaikan pidato kampanye pemilu,” tegasnya. 

Menurut Gharibabadi, Iran juga tidak akan terintimidasi oleh ancaman maupun demonstrasi kekuatan militer Amerika Serikat.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa Teheran belum menunjukkan tanda-tanda akan menyerahkan kendali atas jalur strategis tersebut.

Blokade Hormuz Jadi Titik Panas Konflik

Perselisihan mengenai Selat Hormuz bukan isu baru dalam konflik AS-Iran. Sejak perang pecah pada akhir Februari, lalu lintas kapal di jalur tersebut terganggu secara drastis.

Iran mempertahankan pembatasan pelayaran sebagai bagian dari respons terhadap serangan AS dan Israel. Di sisi lain, Washington menuntut kebebasan navigasi dan menolak klaim bahwa Iran dapat menentukan sendiri akses seluruh kapal yang melintas.

Ketegangan bahkan terus terjadi di perairan tersebut. Pada 14 Agustus, dua kapal tanker yang dioperasikan perusahaan energi milik negara Uni Emirat Arab dilaporkan diserang drone saat melintasi Selat Hormuz. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu, tetapi kejadian tersebut semakin menyoroti risiko terhadap pelayaran komersial. 

Diplomasi Belum Menemukan Jalan Keluar

Di tengah meningkatnya ketegangan, jalur diplomasi juga belum menghasilkan terobosan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada Sabtu bahwa Teheran belum memutuskan apakah akan kembali melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat. Pertukaran pesan melalui pihak ketiga, menurutnya, belum dapat disebut sebagai negosiasi.

Kondisi tersebut membuat Selat Hormuz bukan sekadar persoalan perebutan pengaruh antara Washington dan Teheran. Setiap gangguan berkepanjangan terhadap pelayaran di kawasan itu berpotensi menekan pasar energi dan meningkatkan risiko terhadap rantai pasok global.

Bagi Iran, mempertahankan kendali atas akses Selat Hormuz merupakan kartu strategis dalam menghadapi tekanan AS.

Sementara bagi Washington, memastikan jalur tersebut tetap terbuka menjadi bagian penting dari klaim kebebasan navigasi.

Kini, setelah Trump mengancam menjadikan Hormuz sebagai wilayah AS dan Iran membalas dengan menyatakan tidak akan tunduk, pertarungan kedua negara memasuki babak yang jauh lebih berisiko.

Selat Hormuz bukan lagi sekadar jalur perdagangan energi. Ia telah berubah menjadi simbol pertarungan siapa yang akan lebih dulu mengalah dalam konflik AS-Iran. (*)

Editor : Ali Sodiqin
AS Iran blokade Hormuz selat hormuz iran donald trump