AS Kehilangan 45 Drone Reaper, Kerugian Rp 21 Triliun Lebih Tekan Trump

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 19:00 WIB
Ilustrasi Drone MQ-9 Reaper. (GENERAL ATOMICS AERONAUTICAL)
Ilustrasi Drone MQ-9 Reaper. (GENERAL ATOMICS AERONAUTICAL)

RADAR BANYUWANGI – Tekanan baru menghantam Amerika Serikat di tengah perang melawan Iran. Sedikitnya 45 drone tempur MQ-9 Reaper dilaporkan hilang, angka yang setara hampir seperempat dari total armada Reaper yang dioperasikan Angkatan Udara dan Korps Marinir AS.

Kerugian itu bukan hanya soal jumlah. Dengan harga satu unit MQ-9 Reaper diperkirakan mencapai USD 30 juta hingga USD 50 juta, nilai 45 drone yang hilang secara teoritis menembus lebih dari USD 1,3 miliar atau puluhan triliun rupiah.

Hilangnya puluhan drone tersebut juga memunculkan persoalan lebih besar bagi Washington. Armada yang selama ini digunakan untuk pengintaian, pengumpulan informasi, hingga serangan terhadap sasaran tertentu kini semakin menipis di saat persediaan rudal AS juga berada di bawah tekanan.

Tiga pejabat Amerika Serikat yang mengetahui persoalan tersebut mengonfirmasi jumlah kehilangan drone itu. Jika dibandingkan dengan sekitar 185 MQ-9 Reaper yang dioperasikan Angkatan Udara dan Korps Marinir AS, kehilangan sedikitnya 45 unit menjadi pukulan besar setelah konflik berlangsung hampir enam bulan.

MQ-9 Reaper selama ini menjadi salah satu aset penting dalam operasi militer Amerika Serikat.

Drone tersebut mampu bertahan cukup lama di udara dan menjalankan misi pengawasan di wilayah berisiko tanpa menempatkan pilot secara langsung di medan operasi. Namun, keunggulan itu juga memiliki kelemahan.

MQ-9 Reaper terbang dengan kecepatan relatif lebih lambat dibandingkan pesawat tempur dan dalam sejumlah operasi dapat berada pada ketinggian yang membuatnya rentan terhadap sistem pertahanan udara serta serangan dari pihak lawan.

Mengapa Banyak MQ-9 Reaper Hilang?

Sejumlah faktor disebut menjadi penyebab tingginya kehilangan drone Reaper.

Di kawasan konflik, MQ-9 digunakan untuk mengawasi wilayah sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia yang kini menjadi titik ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Selain menghadapi ancaman dari Iran, drone-drone AS juga beroperasi di lingkungan yang dipenuhi risiko serangan dari kelompok Houthi di Yaman dan kelompok milisi yang didukung Teheran di Irak.

Seorang pejabat AS juga menyebut sebagian MQ-9 Reaper jatuh setelah hubungan komunikasi antara drone dan operatornya terputus.

Kehilangan sebuah Reaper, dengan demikian, tidak selalu berarti drone tersebut ditembak jatuh. Gangguan komunikasi dan masalah operasional juga dapat menyebabkan pesawat tanpa awak tersebut hilang dari kendali.

Namun, jumlah kehilangan yang mencapai sedikitnya 45 unit tetap menjadi persoalan serius.

Setiap Reaper yang hilang berarti berkurangnya kemampuan Amerika Serikat dalam memantau pergerakan lawan, mengumpulkan informasi intelijen, dan melakukan operasi di kawasan konflik tanpa menempatkan awak pesawat dalam bahaya langsung.

Armada Sudah Menipis Sejak Mei

Kekhawatiran mengenai jumlah MQ-9 Reaper sebenarnya sudah muncul beberapa bulan sebelumnya.

Pada Mei, Letnan Jenderal David Tabor menyampaikan kepada Senat AS bahwa jumlah MQ-9 Reaper yang tersisa telah turun menjadi sekitar 135 unit.

Saat itu, Tabor mengakui adanya kekhawatiran terhadap kondisi armada dan menyebut Angkatan Udara AS sedang mencari cara untuk mengisi kembali persediaan Reaper dengan lebih cepat.

Jika angka sekitar 135 unit tersebut dibandingkan dengan basis armada sekitar 185 drone, penurunan jumlah Reaper menunjukkan tekanan besar terhadap kemampuan operasi Amerika Serikat.

Laporan kehilangan sedikitnya 45 drone memperkuat gambaran bahwa perang telah menggerus aset penting Washington dalam jumlah yang tidak kecil.

Persoalan menjadi semakin rumit karena hilangnya drone terjadi bersamaan dengan penggunaan amunisi dalam jumlah besar.

Selama perang, militer Amerika Serikat disebut telah menggunakan lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk serta lebih dari 1.000 rudal pertahanan udara Patriot dan THAAD.

Penggunaan dalam skala besar tersebut menunjukkan intensitas operasi militer AS. Namun, pada saat yang sama, stok persenjataan juga terus terkuras.

Trump Hadapi Tekanan Baru

Situasi ini menjadi tantangan tambahan bagi pemerintahan Presiden Donald Trump.

Trump berulang kali menegaskan Amerika Serikat tidak mengalami kekurangan senjata. Namun, berkurangnya armada drone dan tekanan terhadap persediaan rudal membuat kemampuan Washington mempertahankan operasi berintensitas tinggi menjadi sorotan.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintahan AS juga disebut telah menarik diri dari opsi serangan yang lebih luas ke wilayah Iran.

Kombinasi antara hilangnya aset udara tanpa awak dan tingginya konsumsi rudal berpotensi memaksa Washington melakukan perhitungan ulang mengenai strategi militernya.

Masalahnya, tekanan tidak hanya datang dari medan perang.

Ketegangan di Selat Hormuz juga terus meningkat. Uni Emirat Arab menuduh Iran berada di balik serangan terhadap dua kapal yang memiliki keterkaitan dengan Abu Dhabi National Oil Company.

Dewan Kerja Sama Teluk atau GCC turut mengecam serangan tersebut.

Selat Hormuz memiliki arti strategis karena menjadi salah satu jalur utama perdagangan energi dunia. Setiap peningkatan konflik di kawasan itu berpotensi mengganggu pelayaran internasional dan memperbesar risiko terhadap distribusi minyak serta gas.

Bagi Amerika Serikat, hilangnya 45 MQ-9 Reaper memperlihatkan sisi lain dari perang modern.

Keunggulan teknologi tidak selalu menjamin sebuah aset dapat beroperasi tanpa risiko. Drone yang dirancang untuk menjalankan misi pengawasan jarak jauh tetap dapat menjadi sasaran pertahanan udara, gangguan komunikasi, maupun ancaman lain di medan konflik.

Kini, Washington menghadapi dua persoalan sekaligus: menjaga kemampuan pengintaian setelah armada Reaper menyusut dan memastikan persediaan rudal tetap cukup jika konflik dengan Iran kembali meningkat.

Dengan Selat Hormuz yang masih menjadi pusat ketegangan, tekanan terhadap Amerika Serikat berpotensi belum berakhir.

Kehilangan puluhan drone bernilai lebih dari USD 1,3 miliar mungkin hanya menjadi salah satu indikator. Tantangan yang lebih besar adalah seberapa cepat Amerika Serikat mampu mengganti aset yang hilang dan mempertahankan kapasitas militernya jika perang memasuki fase yang lebih panjang. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
MQ-9 Reaper Drone Amerika selat hormuz donald trump perang iran