RADAR BANYUWANGI – Setelah berminggu-minggu diwarnai konflik militer yang mengguncang Asia Barat, Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan memulai perundingan langsung di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu pagi. Pemerintahan Presiden Donald Trump mengirim delegasi tingkat tinggi sebagai bagian dari upaya mencari jalan keluar diplomatik menyusul gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua pekan.
Pertemuan tersebut dipandang sebagai momentum penting untuk menguji peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Di tengah situasi keamanan yang masih rapuh, kedua negara akhirnya bersedia mengirim perwakilan senior guna membahas langkah lanjutan setelah jeda pertempuran.
Mengutip News on Air, delegasi Amerika Serikat akan dipimpin Wakil Presiden JD Vance, didampingi Utusan Khusus Timur Tengah Steve Witkoff dan penasihat Gedung Putih Jared Kushner. Informasi itu disampaikan Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian memastikan Teheran akan menghadiri perundingan setelah melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Delegasi Iran diperkirakan dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, salah satu tokoh berpengaruh dalam struktur politik Iran selama konflik berlangsung.
Gencatan Senjata Jadi Pintu Diplomasi
Pertemuan di Islamabad digelar setelah pemerintahan Trump mengumumkan jendela gencatan senjata selama dua pekan. Washington menyatakan jeda tersebut diberikan setelah operasi militer Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari diklaim berhasil melemahkan kemampuan Iran memasok persenjataan kepada kelompok-kelompok proksinya di kawasan.
Karoline Leavitt mengatakan kemampuan Iran dalam mendukung kelompok bersenjata di Timur Tengah telah berkurang secara signifikan akibat operasi militer tersebut.
Meski demikian, kondisi keamanan di kawasan belum sepenuhnya stabil.
Lebanon Masih Membara
Di saat Amerika Serikat dan Iran bersiap berunding, pertempuran di Lebanon masih berlangsung. Militer Israel terus melancarkan serangan terhadap sasaran Hezbollah, sementara Iran menilai operasi tersebut bertentangan dengan semangat gencatan senjata.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mendesak Washington menunjukkan komitmennya terhadap proses perdamaian.
"Dunia sedang menyaksikan pembantaian di Lebanon. Bola kini berada di tangan Amerika Serikat, dan dunia melihat apakah mereka akan memenuhi komitmennya," kata Araghchi.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan serangan Israel sehari sebelumnya menewaskan 182 orang, menjadi jumlah korban harian tertinggi sejak perang Israel-Hezbollah pecah.
Secara keseluruhan, lebih dari lima pekan konflik dilaporkan menyebabkan sedikitnya 1.739 orang tewas dan 5.873 lainnya terluka.
Israel Dukung Diplomasi dengan Syarat
Pemerintah Israel menyatakan mendukung keputusan Presiden Trump menghentikan sementara operasi militer terhadap Iran selama dua pekan. Namun, dukungan tersebut tidak mencakup operasi militer Israel terhadap Hezbollah di Lebanon.
Menurut pernyataan Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Israel menginginkan sejumlah syarat dipenuhi agar gencatan senjata dapat terus berlanjut. Di antaranya pembukaan kembali Selat Hormuz serta penghentian seluruh serangan terhadap Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara lain di kawasan.
Wakil Presiden JD Vance juga mengingatkan agar perkembangan konflik di Lebanon tidak menggagalkan proses diplomasi yang tengah dibangun.
Dalam kunjungannya ke Hungaria, Vance menyebut keputusan untuk mempertahankan jalur negosiasi sepenuhnya berada di tangan Iran.
Selat Hormuz Jadi Isu Krusial
Selain pembahasan mengenai gencatan senjata, Selat Hormuz diperkirakan menjadi salah satu agenda utama dalam perundingan.
Media Iran melaporkan jalur pelayaran strategis tersebut masih sebagian diblokade, sedangkan Gedung Putih menyebut aktivitas pelayaran mulai menunjukkan peningkatan.
Di sisi lain, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC Navy) mengumumkan jalur pelayaran alternatif untuk menghindari ranjau laut. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari komitmen Iran membuka kembali akses Selat Hormuz apabila proses negosiasi menghasilkan kesepakatan.
Pertemuan di Islamabad kini menjadi sorotan dunia. Hasil pembicaraan antara delegasi Amerika Serikat dan Iran dinilai akan menentukan apakah gencatan senjata mampu berkembang menjadi kesepakatan damai yang lebih permanen atau justru kembali memicu eskalasi baru di kawasan Asia Barat. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : jawapos.com