RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah perang yang masih berlangsung sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, kritik terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali mencuat dari dalam Israel. Kali ini datang dari kolumnis senior harian Yedioth Ahronoth, Nadav Eyal, yang menilai slogan "kemenangan mutlak" yang diusung pemerintah telah berubah menjadi ilusi politik yang justru memperdalam krisis strategis negara tersebut.
Pandangan tersebut disampaikan Eyal dalam ulasan yang dipublikasikan melalui platform X dan dikutip Al Jazeera pada Minggu (21/6/2026). Dalam tulisannya, ia mengulas kondisi politik dan militer Israel dari perspektif sejarah serta mengkritisi arah kebijakan pemerintahan Netanyahu selama perang berlangsung.
Menurut Eyal, sejak awal para pendiri gerakan Zionisme tidak pernah meyakini bahwa konflik dengan dunia Arab dapat diakhiri melalui kemenangan total. Mereka, kata dia, memahami keterbatasan strategi militer dan memandang penyelesaian politik sebagai bagian penting dalam menjaga keberlangsungan negara.
Ia mencontohkan kebijakan pemerintahan Perdana Menteri Levi Eshkol setelah Perang Enam Hari 1967 yang memandang wilayah pendudukan sebagai instrumen diplomasi untuk membuka peluang perdamaian, bukan semata-mata sebagai hasil penaklukan permanen.
Namun, menurut Eyal, paradigma tersebut berubah setelah Israel berkembang menjadi kekuatan regional dengan dukungan teknologi militer, aliansi erat dengan Amerika Serikat, serta dampak psikologis akibat serangan Hamas pada Oktober 2023.
Dalam situasi itu, lanjutnya, muncul keyakinan bahwa perang harus diakhiri melalui kemenangan mutlak. Ia menilai Netanyahu memanfaatkan suasana tersebut dengan menjanjikan kemenangan total tanpa menawarkan strategi politik yang jelas.
Eyal berpendapat bahwa Israel sebenarnya memiliki peluang memperoleh hasil yang lebih berkelanjutan apabila sejak awal menyiapkan pemerintahan sipil Palestina yang didukung komunitas internasional, disertai pembangunan kembali Gaza dan pembentukan kekuatan keamanan alternatif untuk menekan Hamas.
Sebaliknya, ia menilai pemerintah Israel justru memilih pendekatan yang terlalu berorientasi pada operasi militer serta mengabaikan solusi politik jangka panjang.
Dalam analisisnya, Eyal juga menyebut gagasan tentang kemenangan total telah memengaruhi cara pandang institusi keamanan Israel. Menurutnya, sejumlah prinsip strategis seperti penggunaan kekuatan secara terukur, disiplin militer, dan perencanaan jangka panjang mulai terkikis oleh semangat pembalasan.
Ia mengingatkan bahwa doktrin keamanan Israel selama puluhan tahun dibangun di atas prinsip perang yang singkat, efisien, dan hanya dilakukan ketika benar-benar diperlukan, sembari tetap menjaga legitimasi internasional.
Selain mengkritik arah strategi perang, Eyal menilai pemerintah kurang terbuka kepada publik mengenai berbagai keterbatasan operasi militer.
Sebagai contoh, ia menyebut pemerintah tidak secara jujur menjelaskan bahwa pelucutan total kelompok Hizbullah di Lebanon merupakan target yang sangat sulit dicapai. Menurutnya, keberadaan pasukan Israel di Lebanon bahkan berpotensi memberikan keuntungan strategis bagi Iran maupun Hizbullah dalam jangka panjang.
Eyal juga menilai keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik tanpa tujuan akhir yang jelas telah menguras modal diplomatik Israel, melemahkan kemampuan militernya, serta memicu ketegangan baru dalam hubungan strategis kedua negara.
Pada bagian akhir tulisannya, Eyal memperingatkan bahwa perang berkepanjangan bertentangan dengan tradisi militer Israel yang selama ini mengutamakan efisiensi, pembangunan nasional, serta keseimbangan antara pertahanan dan diplomasi.
Ia berpendapat Israel perlu kembali mengedepankan pendekatan politik yang realistis, memperkuat daya tangkal nasional, serta mempersiapkan rekonstruksi pascakonflik. Tanpa perubahan arah kebijakan tersebut, menurut Eyal, Israel berisiko terus terjebak dalam konflik berkepanjangan demi mengejar slogan kemenangan yang tidak memiliki tujuan strategis yang jelas.
Tulisan tersebut memicu beragam respons di media sosial. Sejumlah pengguna dari Israel maupun luar negeri menyatakan dukungan terhadap analisis Eyal, sementara yang lain mempertahankan pandangan bahwa operasi militer pemerintah masih diperlukan. Perbedaan respons itu mencerminkan kuatnya perdebatan publik mengenai arah kebijakan Israel di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. (*)
Editor : Ali Sodiqin