Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Survei: Mayoritas Warga Israel Sebut Iran Menang, Kepercayaan kepada Netanyahu Terus Merosot

Ali Sodiqin • Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:38 WIB
Jajak pendapat ungkap 92 persen warga Israel sebut Iran pemenang konflik. (ChatGPT)
Jajak pendapat ungkap 92 persen warga Israel sebut Iran pemenang konflik. (ChatGPT)

RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah upaya diplomasi mengakhiri konflik di Timur Tengah, hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan persepsi publik Israel justru bergerak ke arah yang berlawanan dengan narasi pemerintah. Mayoritas warga Israel menilai Iran menjadi pihak yang lebih diuntungkan dalam perang melawan Israel dan Amerika Serikat (AS), sementara tingkat kepercayaan terhadap kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terus mengalami penurunan.

Temuan tersebut terungkap dalam survei yang dilakukan Hebrew University of Jerusalem bekerja sama dengan Agam Institute. Jajak pendapat melibatkan 3.644 responden warga Israel dan dilaksanakan pada 17–20 Juni 2026, dengan hasil dipublikasikan pada Minggu (21/6).

Hasil survei menunjukkan 92,1 persen responden meyakini Iran telah memenangkan atau memperoleh keuntungan lebih besar dari konflik yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Tak hanya itu, sebanyak 82,9 persen responden menilai keamanan jangka panjang Israel justru melemah setelah perang berlangsung.

Temuan menarik juga terlihat di kalangan pendukung koalisi sayap kanan yang selama ini menjadi basis politik Netanyahu. Sebanyak 93,1 persen pemilih blok kanan tetap beranggapan Iran menjadi pihak yang paling diuntungkan dari konflik tersebut.

Survei ini juga memperlihatkan meningkatnya penolakan terhadap kesepakatan damai sementara yang telah dicapai antara Amerika Serikat dan Iran. Sebanyak 63,2 persen responden menyatakan menolak kesepakatan tersebut, sementara hanya 12,1 persen yang mendukung.

Selain mencerminkan pandangan terhadap konflik regional, hasil survei juga menggambarkan menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Israel.

Sebanyak 72,5 persen responden mengaku tidak mempercayai klaim Netanyahu mengenai keberhasilan operasi militer Israel. Bahkan, 56,4 persen responden menilai penanganan operasi militer oleh pemerintahan Netanyahu tergolong "gagal" atau "buruk".

Penurunan kepercayaan itu turut berdampak pada tingkat elektabilitas sang perdana menteri. Dukungan terhadap kepemimpinan Netanyahu tercatat turun tajam dari 40,5 persen pada Maret 2026 menjadi hanya 29,4 persen pada Juni 2026.

Meski demikian, survei tersebut juga menunjukkan sebagian masyarakat Israel masih mendukung pendekatan militer terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon.

Sebanyak 48,2 persen responden menyatakan mendukung operasi militer besar-besaran terhadap Hizbullah, bahkan jika langkah tersebut berpotensi memicu ketegangan dengan Amerika Serikat. Sebaliknya, hanya 21 persen responden yang menolak opsi tersebut.

Hasil survei dirilis bertepatan dengan berlangsungnya perundingan di Swiss untuk mengubah kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran menjadi perjanjian yang lebih permanen. Namun, proses diplomasi itu masih dibayangi eskalasi konflik di Lebanon yang dinilai berpotensi mengganggu jalannya negosiasi.

Survei ini menjadi indikator penting bahwa tantangan yang dihadapi pemerintahan Netanyahu tidak hanya berasal dari dinamika keamanan kawasan, tetapi juga dari menurunnya kepercayaan publik di dalam negeri. Persepsi bahwa Iran memperoleh keuntungan strategis dari konflik berpotensi semakin memperkuat tekanan politik terhadap pemerintah menjelang agenda politik berikutnya di Israel. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Iran Israel #survei Israel #warga Israel #perang timur tengah #benjamin netanyahu