Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pidato Netanyahu Diinterupsi Sorakan "Mundur", Krisis Politik Israel Memanas

Ali Sodiqin • Sabtu, 27 Juni 2026 | 07:35 WIB
Netanyahu.
Benjamin Netanyahu.

RADARBANYUWANGI.ID – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mendapat sorakan dan desakan agar mundur dari jabatannya saat menyampaikan pidato dalam upacara kelulusan perwira tempur di pangkalan militer Bahad 1, Israel selatan, Kamis (26/6). Insiden tersebut menjadi gambaran terbaru meningkatnya tekanan politik terhadap pemerintahan Netanyahu di tengah perang yang masih berlangsung di kawasan dan gelombang demonstrasi yang belum mereda.

Menurut laporan harian Yedioth Ahronoth yang dikutip Anadolu Agency, teriakan dari peserta maupun hadirin terdengar ketika Netanyahu menyampaikan pidatonya di sekolah pelatihan perwira Angkatan Bersenjata Israel tersebut.

Dalam pidatonya, Netanyahu menyatakan Israel masih berada di tengah perang regional yang berkelanjutan. Ia juga mengeklaim pemerintahannya telah "mengubah aturan main" di kawasan, menghancurkan rasa takut terhadap musuh, serta menunjukkan kekuatan militer Israel.

Namun, pernyataan tersebut justru diwarnai sorakan yang meminta dirinya mengundurkan diri dari kursi perdana menteri.

Desakan itu muncul di tengah aksi demonstrasi yang terus berlangsung di berbagai kota di Israel. Para demonstran menuntut digelarnya pemilihan umum lebih awal sekaligus menyalahkan pemerintahan Netanyahu atas kegagalan mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 serta dampak perang yang berkepanjangan di Jalur Gaza dan kawasan sekitarnya.

Tekanan terhadap Netanyahu juga datang dari dinamika politik internasional. Awal pekan ini, media Israel melaporkan adanya kekhawatiran dari sejumlah pejabat Amerika Serikat terhadap arah pemerintahan Netanyahu yang dinilai semakin didominasi kelompok garis keras.

Stasiun televisi Channel 12 melaporkan para pejabat di pemerintahan Presiden Donald Trump disebut meyakini pemerintahan Netanyahu perlu diganti. Menurut laporan tersebut, Washington dikabarkan berupaya membangun basis dukungan politik baru menjelang pemilihan umum Israel.

"Pemerintahan AS telah menyatakan keprihatinan terhadap kelompok garis keras dalam pemerintahan Netanyahu dan berupaya membangun basis dukungan populer baru sebelum pemilihan umum Israel," demikian isi laporan Channel 12 yang dikutip Anadolu Agency.

Sementara itu, hasil jajak pendapat yang dipublikasikan harian Maariv menunjukkan posisi politik koalisi Netanyahu terus melemah. Jika pemilu digelar saat ini, blok oposisi diproyeksikan meraih 61 kursi di parlemen, unggul atas koalisi Netanyahu yang diperkirakan hanya memperoleh 49 kursi.

Survei tersebut juga memperkirakan partai-partai Arab akan mengamankan sekitar 10 kursi dalam pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang.

Insiden sorakan di upacara militer ini menambah daftar tantangan yang dihadapi Netanyahu. Selain memimpin operasi militer yang masih berlangsung, ia juga harus menghadapi tekanan politik dari dalam negeri yang terus menguat, mulai dari tuntutan pemilu lebih awal hingga meningkatnya dukungan terhadap blok oposisi. Situasi tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi dinamika politik Israel dalam beberapa bulan ke depan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#protes Israel #pemilu Israel #Jalur Gaza #Israel #netanyahu