Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Hubungan Trump dan Netanyahu Retak, Washington Lirik Oposisi Israel, Segera Digulingkan?

Ali Sodiqin • Selasa, 23 Juni 2026 | 14:30 WIB
Netanyahu.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut-sebut bakal digulingkan AS, benarkah? (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Hubungan Amerika Serikat dan Israel yang selama ini dikenal sangat erat dilaporkan memasuki fase baru yang penuh dinamika. Di tengah meningkatnya ketegangan politik antara Washington dan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, sejumlah pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump disebut mulai menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh oposisi Israel.

Perkembangan tersebut memunculkan spekulasi baru mengenai arah hubungan kedua negara sekaligus masa depan kepemimpinan Netanyahu yang kini menghadapi tekanan politik dari dalam dan luar negeri.

Laporan yang disiarkan media Israel, Channel 12, mengungkap bahwa pemerintahan AS mulai melihat peluang terjadinya perubahan politik di Israel. Karena itu, Washington disebut membuka jalur komunikasi informal dengan sejumlah figur penting oposisi, termasuk Naftali Bennett, pemimpin Partai Together, serta Gadi Eisenkot dari Partai Yashar.

Langkah itu dinilai sebagai upaya membaca kemungkinan perubahan peta kekuasaan menjelang pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang.

Kekhawatiran terhadap Kelompok Garis Keras

Menurut laporan tersebut, pemerintahan Trump semakin khawatir terhadap pengaruh kelompok garis keras yang berada di dalam kabinet Netanyahu.

Kelompok tersebut dianggap berperan besar dalam mendorong kebijakan keamanan dan diplomasi yang semakin konfrontatif di kawasan Timur Tengah. Kondisi itu disebut memunculkan perbedaan pandangan dengan sebagian kalangan di Washington.

Channel 12 menyebut pendekatan kepada oposisi dilakukan sebagai bagian dari upaya membangun hubungan dengan kekuatan politik alternatif yang berpotensi memainkan peran penting jika terjadi pergantian pemerintahan.

“Pemerintahan AS telah menyatakan kekhawatiran terhadap kelompok garis keras dalam pemerintahan Netanyahu dan berupaya membangun basis dukungan baru menjelang pemilu,” demikian laporan media tersebut.

Meski demikian, hingga kini Presiden Donald Trump belum memberikan dukungan resmi kepada tokoh mana pun yang diproyeksikan sebagai penantang Netanyahu.

Oposisi Mulai Mendapat Angin Segar

Di sisi lain, kubu oposisi Israel juga disebut aktif memperkuat hubungan dengan pemerintahan AS dalam beberapa bulan terakhir.

Laporan Channel 12 menyebut sejumlah tokoh oposisi berhasil memperoleh akses dan komunikasi dengan pejabat-pejabat Washington yang selama ini kritis terhadap kebijakan Netanyahu.

Situasi itu dianggap sebagai sinyal bahwa hubungan politik antara AS dan Israel tidak lagi sepenuhnya bergantung pada figur perdana menteri yang sedang berkuasa.

Bagi oposisi, dukungan atau setidaknya komunikasi yang lebih terbuka dengan Washington dapat menjadi modal politik penting menjelang pemilu.

Survei Perburuk Posisi Netanyahu

Tekanan terhadap Netanyahu semakin besar setelah hasil survei terbaru yang dipublikasikan harian Maariv menunjukkan blok oposisi berpeluang membentuk pemerintahan apabila pemilu digelar saat ini.

Dalam survei tersebut, kubu oposisi diproyeksikan meraih 61 kursi di parlemen Israel atau Knesset. Sementara blok pendukung Netanyahu hanya memperoleh 49 kursi.

Partai-partai Arab diperkirakan mengamankan sekitar 10 kursi, yang berpotensi menjadi faktor penentu dalam pembentukan koalisi pemerintahan mendatang.

Hasil survei tersebut menjadi indikator bahwa dominasi politik Netanyahu mulai menghadapi tantangan serius setelah bertahun-tahun menjadi figur sentral dalam politik Israel.

Bayang-Bayang Konflik Timur Tengah

Dinamika politik domestik Israel tidak dapat dipisahkan dari perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah.

Belakangan, Amerika Serikat dan Iran diketahui menggelar perundingan di Swiss dengan mediasi Pakistan guna meredakan konflik militer yang pecah setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Teheran pada Februari lalu.

Perundingan tersebut menghasilkan kesepakatan sementara berupa penghentian permusuhan di berbagai front konflik, termasuk wilayah Lebanon.

Namun, pemerintah Israel tetap mempertahankan sikap kerasnya. Netanyahu menolak mengaitkan persoalan Iran dengan konflik di Lebanon dan menegaskan bahwa pasukan Israel tidak akan ditarik dari wilayah yang diduduki di Lebanon selatan.

Keputusan tersebut kembali memicu sorotan internasional. Data resmi pemerintah Lebanon menyebut konflik yang berlangsung sejak awal Maret telah menyebabkan hampir 4.000 orang tewas dan lebih dari 12.000 lainnya mengalami luka-luka.

Menanti Arah Baru Hubungan AS-Israel

Pendekatan Washington kepada tokoh oposisi Israel menjadi perkembangan penting yang berpotensi memengaruhi lanskap politik Timur Tengah dalam beberapa bulan ke depan.

Meski belum ada sinyal bahwa Amerika Serikat akan meninggalkan Netanyahu secara terbuka, komunikasi dengan kubu oposisi menunjukkan bahwa Washington mulai menyiapkan berbagai kemungkinan politik menjelang pemilu Israel.

Apabila tren survei terus berlanjut dan oposisi mampu mempertahankan momentum, Israel berpotensi memasuki era politik baru yang dapat mengubah arah hubungan dengan Amerika Serikat maupun kebijakan keamanan di kawasan.

Untuk saat ini, Netanyahu masih memegang kendali pemerintahan. Namun tekanan politik yang datang dari dalam negeri, ditambah perubahan sikap sebagian kalangan di Washington, membuat masa depan kepemimpinannya menjadi salah satu isu paling menarik untuk dicermati di Timur Tengah. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Oposisi Israel #Politik Israel #timur tengah #netanyahu #donald trump