RADARBANYUWANGI.ID - Penyelidik militer Amerika Serikat meyakini pasukan AS kemungkinan besar bertanggung jawab atas serangan terhadap sebuah sekolah perempuan di Minab, Iran selatan, yang menewaskan lebih dari 160 siswi. Insiden tragis ini terjadi pada hari pertama invasi AS dan Israel ke Iran, Sabtu (28/2/2026).
Berdasarkan keterangan dua pejabat AS yang enggan disebutkan namanya, sebagaimana dilaporkan Reuters, penyelidik militer AS menilai kemungkinan besar pasukan mereka sendiri berada di balik serangan tersebut.
Namun penyelidikan belum mencapai kesimpulan akhir dan tidak menutup kemungkinan munculnya bukti baru yang mengarah pada pihak lain.
Duta Besar Iran untuk PBB di Jenewa, Ali Bahreini, menyebut serangan itu menewaskan 150 siswi, sementara laporan Reuters memperkirakan jumlah korban melampaui 160 orang.
Rincian terkait jenis amunisi yang digunakan, pelaku spesifik, maupun alasan di balik serangan ke fasilitas pendidikan itu belum terungkap secara resmi.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengakui adanya penyelidikan atas insiden tersebut, sekaligus membantah AS sengaja menargetkan warga sipil.
"Kami sedang menyelidikinya. Tentu saja, kami tidak pernah menargetkan sasaran sipil. Tetapi kami sedang meninjau dan menyelidikinya," ujar Hegseth.
Pernyataan senada disampaikan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menegaskan AS tidak akan sengaja menyerang sekolah.
"Departemen Perang akan menyelidiki hal itu jika itu adalah serangan kami, dan saya akan merujuk pertanyaan Anda kepada mereka," katanya.
Pentagon memilih bungkam lebih dalam. Kapten Timothy Hawkins mewakili Komando Pusat Militer AS menyatakan, "Tidak pantas berkomentar mengingat insiden tersebut sedang dalam penyelidikan."
Insiden ini memicu kecaman internasional dan semakin memperumit posisi AS di tengah konflik yang telah merenggut ratusan nyawa warga sipil Iran sejak serangan pertama dilancarkan.
Editor : Lugas Rumpakaadi