RADARBANYUWANGI.ID - Kecelakaan kereta api tragis terjadi di Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand, pada Rabu (14/1/2026), menewaskan puluhan orang, termasuk warga negara asing asal Jerman dan Korea Selatan.
Insiden ini kembali memicu sorotan tajam terhadap standar keselamatan proyek konstruksi di negara tersebut.
Kementerian Luar Negeri Thailand pada Kamis (15/1/2026) mengonfirmasi bahwa dua korban tewas merupakan warga negara asing.
Dalam pernyataan resminya melalui platform X, Kemlu Thailand menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban yang meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut.
Sementara itu, Kedutaan Besar Rusia di Bangkok memastikan tidak ada warga negara Rusia yang menjadi korban luka maupun meninggal dalam peristiwa itu.
Kronologi Kecelakaan Kereta Api
Kecelakaan bermula ketika sebuah derek konstruksi roboh dan menimpa jalur kereta api di Nakhon Ratchasima pada Rabu (14/1/2026) pagi.
Akibatnya, kereta penumpang yang tengah melakukan perjalanan dari Bangkok menuju Ubon Ratchathani tergelincir dari rel.
Kantor pusat penyelamatan setempat melaporkan jumlah korban tewas mencapai 32 orang, dengan 66 penumpang lainnya mengalami luka-luka.
Tiga penumpang yang sempat dilaporkan hilang akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat dan tengah menjalani perawatan di rumah sakit.
Adapun penumpang yang tidak mengalami cedera telah dipulangkan ke rumah masing-masing.
Pemerintah Thailand menyatakan komitmennya untuk memberikan seluruh bantuan yang diperlukan kepada keluarga korban, baik warga negara Thailand maupun asing.
Pemerintah Akui Celah Keselamatan dan Hukum
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menyampaikan kekecewaannya atas berulangnya insiden kecelakaan yang melibatkan runtuhnya derek konstruksi.
Ia menilai terdapat kelemahan serius dalam sistem pengawasan serta celah hukum yang memungkinkan instansi terkait saling melepaskan tanggung jawab.
“Saya telah menerima laporannya, namun masih memerlukan penjelasan lengkap. Instansi-instansi saling menyalahkan dan mengklaim tidak memiliki kewenangan. Jika demikian, undang-undangnya harus diubah,” ujar Anutin kepada wartawan.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul insiden terpisah pada Kamis, ketika derek konstruksi runtuh di proyek jalan raya utama di selatan Bangkok, menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya.
Audit Keselamatan Proyek Konstruksi
Menteri Transportasi Thailand, Phiphat Ratchakitprakarn, dilaporkan tengah mempertimbangkan penghentian sementara seluruh proyek aktif milik kontraktor yang terlibat dalam kecelakaan untuk dilakukan audit keselamatan menyeluruh.
Langkah ini diambil setelah kecelakaan serupa sebelumnya terjadi di lokasi proyek kereta cepat di Provinsi Nakhon Ratchasima, yang juga melibatkan kontraktor yang sama.
Pemerintah bahkan mengancam akan menghentikan sementara proyek-proyek serupa di seluruh Thailand apabila standar keselamatan tidak segera diperbaiki.
Salah satu kecelakaan terbaru terjadi di Jalan Rama 2, Provinsi Samut Sakhon, di lokasi pembangunan jalan tol layang yang dikelola oleh Italian-Thai Development PCL.
Petugas darurat menggunakan derek berkapasitas besar untuk mengevakuasi lempengan beton dan besi yang menimpa kendaraan serta mengangkat jenazah para korban.
Insiden demi insiden ini memicu reaksi keras dari publik dan pemerintah, mengingat Jalan Rama 2 telah lama dikenal sebagai lokasi rawan kecelakaan konstruksi besar dalam beberapa tahun terakhir.
Editor : Lugas Rumpakaadi