RADARBANYUWANGI.ID - Tragedi penembakan massal di Bondi Beach, Sydney, yang menewaskan 15 orang dan melukai puluhan lainnya, mengguncang Australia dan memicu penyelidikan mendalam lintas negara.
Aparat keamanan kini menaruh perhatian khusus pada perjalanan dua pelaku, ayah dan anak Sajid serta Naveed Akram, ke Filipina pada November lalu, hanya beberapa pekan sebelum serangan terjadi.
Perjalanan ke Filipina Jadi Fokus Investigasi
Otoritas Australia mengonfirmasi bahwa kedua pelaku berada di Filipina selama hampir satu bulan, dengan tujuan akhir tercatat di Kota Davao, wilayah selatan negara tersebut.
Meski belum ada bukti resmi yang memastikan keterkaitan langsung antara perjalanan itu dan aksi teror di Sydney, aparat mendalami kemungkinan adanya paparan ideologi ekstrem atau pelatihan bergaya militer.
Polisi New South Wales menyatakan bahwa tujuan, aktivitas, serta lokasi detail yang dikunjungi pelaku selama di Filipina masih dalam tahap penyelidikan.
Menariknya, perjalanan tersebut tidak memicu peringatan keamanan apa pun di tingkat internasional.
Mindanao dan Sejarah Panjang Ekstremisme
Filipina selatan, khususnya Pulau Mindanao, memiliki sejarah panjang konflik bersenjata dan ekstremisme berbasis agama.
Sejumlah kelompok militan, seperti Abu Sayyaf dan faksi yang berafiliasi dengan Islamic State Asia Timur (ISEA), telah aktif selama puluhan tahun dan kerap menjadikan wilayah terpencil sebagai basis pelatihan.
Para pakar keamanan menyebut Filipina pernah dikenal sebagai “akademi terorisme” di Asia karena kombinasi faktor geografis, lemahnya pengawasan di wilayah tertentu, serta keberadaan jaringan militan yang telah lama mengakar.
Namun demikian, pemerintah Filipina menolak keras pelabelan negaranya sebagai pusat pelatihan ISIS dan menegaskan belum ada bukti bahwa pelaku menerima pelatihan dari kelompok lokal.
Penurunan Terorisme, Ancaman Belum Hilang
Dalam beberapa tahun terakhir, tingkat terorisme di Filipina menunjukkan tren penurunan signifikan, terutama setelah diberlakukannya undang-undang antiterorisme pada 2020 dan pendekatan keamanan berbasis komunitas.
Meski begitu, sisa-sisa kelompok bersenjata dan elemen pembangkang masih dianggap berpotensi menimbulkan ancaman.
Otoritas Australia dan Filipina kini bekerja sama erat untuk memastikan penyelidikan berjalan transparan serta mencegah potensi serangan lintas batas di masa depan.
Serangan Bermotif Ideologi dan Dampaknya
Serangan di Bondi Beach secara resmi ditetapkan sebagai aksi teror bermotif ideologi Islamic State.
Target utama adalah komunitas Yahudi yang tengah merayakan Hanukkah.
Korban tewas termasuk tokoh agama, seorang penyintas Holocaust, serta seorang anak berusia 10 tahun.
Naveed Akram, pelaku yang selamat, kini menghadapi puluhan dakwaan serius, termasuk 15 tuduhan pembunuhan dan kejahatan terorisme.
Kasus ini dijadwalkan berlanjut hingga 2026.
Aksi Heroik di Tengah Teror
Di tengah tragedi, publik Australia menyoroti keberanian Ahmed Al Ahmed, seorang warga sipil yang berhasil melumpuhkan salah satu pelaku meski mengalami luka tembak serius.
Berbekal pengalaman militer dan kepolisian di Suriah sebelum bermigrasi ke Australia, aksinya dinilai menyelamatkan banyak nyawa.
Ahmed kini dirawat intensif dan mendapat dukungan luas dari masyarakat, pemerintah, hingga komunitas internasional.
Ia disebut sebagai simbol keberanian dan persatuan di tengah upaya teror yang bertujuan memecah belah masyarakat.
Editor : Lugas Rumpakaadi