RadarBanyuwangi.id – Worthy Farm, Somerset - Panggung West Holts Stage di festival Glastonbury 2025 menjadi tempat salah satu penampilan paling kontroversial dalam sejarah festival musik yang terkenal.
Grup rap asal Irlandia, Kneecap, menarik perhatian global tidak hanya berkat musik mereka yang penuh energi, tetapi juga karena pernyataan politik yang berani dan mengundang perdebatan selama penampilan mereka pada hari Sabtu (28/6).
Sebelum kontroversi memuncak, popularitas Kneecap sudah terlihat dari antrean panjang para penggemar yang rela menunggu berjam-jam untuk melihat pertunjukan mereka.
Dilaporkan bahwa banyak orang ditolak aksesnya ke West Holts Stage karena penampilan Kneecap sangat diminati oleh para pengunjung Glastonbury.
Ribuan penggemar memadati area panggung, menciptakan atmosfer yang elektrik bahkan sebelum trio asal Belfast ini muncul di atas panggung.
Kepadatan kerumunan ini tidak mengejutkan mengingat reputasi Kneecap sebagai salah satu grup rap paling energik dan kontroversial dari Irlandia Utara.
Dengan gaya musik yang menggabungkan rap berbahasa Irlandia dengan elemen punk dan elektronik, mereka telah membangun basis penggemar yang loyal di seluruh Inggris dan Irlandia.
Puncak kontroversi terjadi ketika grup yang terdiri dari Mo Chara (Liam Óg Ó hAnnaidh), Móglaí Bap, dan DJ Provaí ini mengkritik Israel dalam penampilan mereka, seraya meneriakkan "Free, free Palestine".
Pernyataan politik yang jelas ini langsung memicu beragam reaksi dari puluhan ribu penonton yang hadir, mulai dari dukungan yang meriah hingga penentangan yang tegas.
Kondisi di West Holts Stage semakin memanas ketika trio ini tidak hanya berhenti di slogan politik, tetapi juga menyampaikan pidato mendadak mengenai situasi geopolitik di Timur Tengah.
Momen demi momen dalam penampilan tersebut diabadikan oleh ribuan ponsel penggemar dan kemudian menjadi viral di media sosial, menciptakan perdebatan yang berlangsung berhari-hari setelah festival berakhir.
Respons politik terhadap aksi Kneecap datang dengan cepat dan keras. Polisi Inggris memulai penyelidikan terhadap komentar yang dilontarkan oleh Kneecap (dan juga Bob Vylan) selama penampilan mereka, menilai apakah pernyataan tersebut melanggar hukum, termasuk berkaitan dengan kejahatan kebencian.
Keadaan semakin rumit karena salah satu anggota Kneecap, Liam Óg Ó Hannaidh (Mo Chara), tengah menghadapi tuduhan teror di Inggris setelah insiden pada 21 November di sebuah tempat di London utara. Latar belakang hukum ini menambah lapisan kompleks pada kontroversi penampilan mereka di Glastonbury.
Kedutaan Besar Israel menyatakan sangat terganggu oleh retorika yang penuh provokasi dan kebencian yang diungkapkan di panggung festival Glastonbury.
Pernyataan resmi ini menunjukkan bagaimana penampilan singkat tersebut telah menimbulkan gema hingga ke ranah diplomatik internasional.
Aspek menarik lainnya dari drama ini adalah dilema yang dihadapi BBC sebagai penyiar resmi festival Glastonbury. Politisi konservatif Kemi Badenoch mengungkapkan bahwa "BBC tidak seharusnya menampilkan propaganda Kneecap" dan menyebut platform yang didanai publik itu "tidak seharusnya memberi dukungan pada ekstremisme".
Tanggapan BBC terhadap tekanan politik ini cukup diplomatis namun mengundang kontroversi.
Penampilan Kneecap di Glastonbury tidak ditayangkan secara langsung dalam liputan festival khusus oleh BBC, sebuah keputusan yang memicu perdebatan mengenai masalah penyensoran dan kebebasan dalam berkesenian di media publik.
Ironisnya, para penonton di Amerika tidak memiliki cara untuk menyaksikan penampilan Glastonbury Kneecap, karena festival itu tidak dapat diakses di wilayah Amerika Serikat. Hal ini menyebabkan isu tersebut sebagian besar hanya terjadi di kalangan pemirsa Eropa.
Dampak dari penampilan yang menuai kontroversi ini masih dirasakan hingga saat ini. Beberapa pertunjukan Kneecap terpaksa dibatalkan karena dampak dari kontroversi tersebut, mencerminkan bagaimana satu penampilan di festival bisa berpengaruh secara signifikan pada jalur karier sebuah band.
Namun, bagi beberapa penggemar, perdebatan ini justru meningkatkan daya tarik Kneecap sebagai seniman yang berani mengungkapkan posisi politik yang tegas.
Media sosial dipenuhi dengan berbagai pendapat baik yang mendukung maupun yang menentang, menjadikan nama Kneecap populer di berbagai platform selama beberapa hari setelah festival.
Penampilan Kneecap di Glastonbury 2025 akan dikenang sebagai salah satu momen paling polarisasi dalam sejarah festival tersebut, menegaskan bahwa musik dan politik tetap menjadi kombinasi yang menggetarkan di zaman sekarang.
Terlepas dari pandangan orang tentang pesan politik mereka, tidak dapat disangkal bahwa trio dari Belfast ini berhasil membentuk salah satu topik pembicaraan terbesar di Glastonbury tahun ini. ***
- Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News.