RADARBANYUWANGI.ID - Konflik Israel vs Iran kini menjadi perhatian dunia. Banyak pihak khawatir, jika AS benar-benar turun tangan, perang bisa meluas ke wilayah Teluk dan seluruh Timur Tengah.
Seruan untuk de-eskalasi terus bergema, namun semua mata kini tertuju pada keputusan Trump dalam beberapa hari ke depan.
Ketegangan antara Iran dan Israel semakin memanas. Di tengah eskalasi senjata yang terus berlanjut, Iran mengirim sinyal keras kepada Amerika Serikat, khususnya kepada mantan Presiden Donald Trump, agar tidak ikut campur.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh menegaskan, konflik yang terjadi bukanlah urusan Washington.
Dalam wawancara dengan BBC, ia mengingatkan bahwa campur tangan AS hanya akan memperburuk keadaan.
“Ini bukan perang Amerika. Jika Trump masuk, sejarah akan mencatatnya sebagai presiden yang menyeret AS ke konflik yang bukan urusannya,” tegasnya, Kamis (19/6).
Pernyataan tersebut muncul di tengah spekulasi bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan intervensi langsung di kawasan, menyusul serangan rudal Iran yang menghantam wilayah dekat Rumah Sakit Soroka, Israel selatan.
Iran berdalih target utamanya adalah instalasi militer yang berdekatan dengan rumah sakit, bukan fasilitas sipil.
Namun, versi berbeda disampaikan Israel. Kementerian Kesehatan negara itu mengklaim ada 71 korban luka akibat serangan tersebut.
Respons militer Israel pun langsung menyasar sejumlah fasilitas penting Iran, termasuk reaktor air berat di Arak dan kompleks nuklir Natanz.
Iran belum merilis data resmi soal jumlah korban, tetapi kerusakan disebut signifikan.
Baca Juga: Konon Bisa Hapus Daratan dari Peta! Iran Luncurkan Rudal Sejjil ke Israel
Gedung Putih menyatakan bahwa Trump akan mengumumkan keputusan final soal keterlibatan langsung dalam dua pekan ke depan.
“Keputusan ini bisa jadi titik balik, apakah menuju penyelesaian diplomatik atau konflik terbuka yang meluas,” ujar seorang analis Timur Tengah kepada media lokal Iran.
Khatibzadeh menyebut serangan Israel pada 13 Juni lalu—yang menewaskan sejumlah jenderal dan ilmuwan nuklir Iran—telah menggagalkan putaran keenam perundingan nuklir yang rencananya digelar di Oman.
“Trump tahu kami hampir mencapai kesepakatan. Tapi Israel menghancurkan peluang itu,” katanya.
Iran berdalih serangan balasan terhadap Israel dilakukan atas dasar Pasal 51 Piagam PBB, yang mengatur hak pembelaan diri.
Pihak Teheran juga menyoroti gaya komunikasi Trump yang dianggap “membingungkan dan kontradiktif”, terutama lewat media sosial.
“Pernyataannya justru memberi kesan bahwa AS tahu banyak soal eskalasi ini. Bahkan mungkin terlibat,” sindir Khatibzadeh. (*)
Editor : Ali Sodiqin