Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Cerita Horor Kisah Nyata: Teror Kontrakan Lawas di Jember, Nyaring Suara ‘Tolong Aku Masih Disini’

Agung Sedana • Senin, 28 Juli 2025 | 05:02 WIB
Cerita horor di Jember.
Cerita horor di Jember.

RADARBANYUWANGI.ID - Di sudut kota Jember, Jawa Timur, berdiri sebuah rumah tua bergaya lawas yang tampaknya tak pernah benar-benar kosong. Letaknya berada di ujung gang kecil di salah satu desa (narsum minta dirahasiakan).

Lokasi ini berjarak hanya sekitar 10 menit dari salah satu kampus ternama.

Sekilas, rumah itu terlihat seperti rumah biasa berdinding tebal, berlantai tegel lama, dan jendelanya lebar dengan daun kayu yang sudah mulai lapuk.

Tapi bagi warga sekitar, rumah itu menyimpan cerita yang tak semua orang berani ungkapkan.

Lani (bukan nama sebenarnya), seorang alumni mahasiswi di Jember asal Lumajang, menjadi saksi hidup dari misteri yang melekat pada rumah itu.

Saat itu tahun 2018, ia sedang mencari kontrakan murah. Seorang kenalan memberinya informasi tentang rumah kosong yang bisa disewa dengan harga sangat terjangkau. Lani langsung tertarik.

"Aku waktu itu mikirnya cuma, ‘Murah banget! Lokasi strategis pula’. Nggak mikir aneh-aneh," kenangnya.

Baca Juga: Cerita Horor Kisah Nyata: Bau Singkong Rebus di Tengah Malam di Kontrakan Karyawan Indomaret Depok

Awal yang Tenang, Lalu Mulai Janggal

Tiga hari pertama berjalan normal. Lani membereskan barang, mengecat ulang kamar, dan mulai merasa nyaman.

Namun, mulai malam keempat, sesuatu terasa tidak beres. Sekitar jam 2 dini hari, ia terbangun oleh suara ketukan dari arah dapur. Pelan. Teratur. Tok... tok... tok.

Ia pikir mungkin tikus atau suara pipa. Tapi kejadian itu berulang dua malam berturut-turut. Ketukannya tetap di jam yang sama, dengan ritme seperti mengetuk pintu.

Malam ke-6, suasana rumah makin aneh. Angin malam tak terasa sejuk, justru dingin menggigit. Lani mulai merasa tak nyaman tidur sendiri.

Ia pun menghidupkan radio kecil sebagai pengalih suasana. Tapi puncaknya datang di malam ke-7.

Bisikan yang Tak Bisa Dijelaskan

Malam itu Lani lembur mengerjakan tugas di ruang tengah. Hanya ada lampu temaram, laptop, dan secangkir kopi.

Sekitar pukul 01.45, ia merasa ada suara-suara halus di luar kamar mandi belakang. Bukan suara hewan atau manusia... tapi seperti suara perempuan menangis.

Lani berusaha mengabaikannya. Namun, ketika ia mulai mengetik, terdengar bisikan pelan, sangat dekat, seolah dari balik telinga kanannya:
“Tolong… aku masih di sini...”

Lani sontak berdiri, tubuhnya gemetar hebat. Ia berbalik, tapi tak melihat siapa-siapa. Seluruh tubuhnya dingin. Nafasnya tercekat.

Ia berlari ke kamar, menarik selimut, dan membaca doa dalam hati sambil menyalakan Al-Qur’an dari ponselnya.

Tapi rasa takut itu tidak hilang. Justru semakin jelas ia merasa... ada yang berdiri di depan pintunya. Tak terlihat, tapi terasa sangat nyata.

Bayangan di Cermin & Sosok di Sudut Ruang

Esoknya, Lani mencoba tetap tenang. Ia bahkan mencoba meyakinkan diri bahwa semua hanya sugesti karena kelelahan. Namun malam berikutnya, gangguan kembali muncul.

Saat menyisir rambut di depan cermin kecil dekat lemari, ia sempat melihat bayangan hitam berdiri di belakangnya. Bukan bayangannya sendiri.

Sosok itu berdiri dengan rambut panjang menjuntai, wajahnya tertunduk, memakai daster bercorak bunga.

Ketika ia menoleh cepat, tak ada siapa-siapa. Tapi di lantai... ada jejak kaki basah mengarah ke kamar mandi belakang. Saat itu juga, Lani memutuskan "besok aku harus pindah".

Kebenaran yang Disimpan Tetangga

Sebelum pergi, Lani menyempatkan mampir ke warung kecil dekat gang. Ia bertanya secara halus tentang rumah itu.

Pemilik warung, seorang ibu setengah baya, tampak ragu-ragu sebelum menjawab.

“Dulu ada cewek tinggal di situ. Katanya... gantung diri. Sejak itu, sering ada suara minta tolong malam-malam, tapi pas dicek nggak ada siapa-siapa. Yang ngontrak juga nggak ada yang tahan lama,” kata Lani menirukan ucapan pemilik warung.

Lani akhirnya pindah, meski harus menanggung biaya ganda selama sebulan. Rumah tua itu kini dibiarkan kosong.

Catnya mengelupas, dedaunan menumpuk di teras, dan jendelanya selalu tertutup rapat.

Kadang-kadang, warga masih mendengar suara ketukan dari arah dapur. Selalu di jam yang sama. Dan konon, kalau kamu tinggal cukup lama di sana, kamu akan mendengar suara itu juga...

“Tolong… aku masih di sini.”


Disclaimer: Cerita ini berdasarkan pengakuan narasumber dan kepercayaan masyarakat lokal di Jember. Narasi disusun untuk tujuan hiburan dan dokumentasi budaya lisan. Harap dibaca secara bijak.

Editor : Agung Sedana
#cerita horor kisah nyata #jember