Umrah wajib itu diawali jemaah kloter 58 yang berangkat pukul 21.30 Waktu Arab Saudi (WAS). Disusul kloter 57 pada pukul 22.00 WAS, kloter 59 pada Selasa (28/5) pukul 02.00 WAS, dan yang terakhir kloter 60 pada pukul 03.00 WAS.
”Jemaah haji sengaja umrah malam hari, untuk menghindari panas yang mencapai 42 derajat,” ujar Ketua Kloter 58 Syafaat.
Dalam umrah wajib, jemaah yang tidak kuat berjalan untuk tawaf menggunakan jasa pendorong dengan membayar 250 rial. Biaya sebesar itu, untuk tawaf dan sai.
”Jemaah keluar dari hotel untuk umrah setelah jemaah Isya selesai, jangan sampai berangkat umrah bersamaan jemaah Isya keluar dari Masjidilharam,” terang Syafaat.
Syafaat menyebut, jemaah asal Banyuwangi ke Masjidilharam dengan mengendarai bus selawat yang gratis dan berhenti di Terminal Jiyat. ”Dari Terminal Jiyat berjalan menuju Masjidilharam, tidak jauh, kok,” katanya.
Rombongan jemaah haji asal Banyuwangi bisa melaksanakan umrah bersama, meski kloternya berbeda. Bahkan, Ketua Kloter SUB-58 Syafaat standby di terminal bersama PPIH Arab Saudi untuk memberikan pengarahan kepada jemaah yang baru datang.
”Sebagian besar jemaah haji ini baru kali pertama ke Masjidilharam, jika tidak diberi pengarahan bisa salah terminal, karena ada tiga terminal yang berdekatan dengan rute perjalanan berbeda,” jelas Syafaat.
Ketua Kloter 59 Mustain Hakim melaporkan, kondisi seluruh jemaah tampak sehat. Mereka terlihat semangat dalam beribadah. Baru tiba di hotel, langsung keluar asrama untuk menunaikan umrah wajib.
”Istirahat hanya satu jam untuk makan, jemaah langsung tawaf dan sai,” jelasnya.
Bagaimana dengan jemaah yang masuk kloter 57? Ketua Kloter 57 Saeroji melaporkan, seluruh jemaahnya telah menyelesaikan umrah wajib, khusus lansia dibantu menggunakan kursi roda.
”Bagi jemaah yang sudah umrah wajib langsung istirahat, untuk memulihkan stamina,” tandasnya. (ddy/abi/c1)
Editor : Niklaas Andries