“Saya ingin jadi hafidzah dan qiroati yang hebat, dan memberikan mahkota untuk abah dan umi di akhirat nanti,” kata Yasmin Najma Falihah, 10, pemenang ajang pencarian bakat religi yang ditayangkan salah satu televis nasional selama Ramadan 2025.
Salis Ali Muhyidin, Glenmore.
Cita-cita putri bungsu pasangan KH Muhammad Nur Chotib Tolib dan Hj Nina Nur Aminah asal Dusun Sepanjang Wetan, Desa Sepanjang, Kecamatan Glenmore, itu merujuk satu hadis yang menerangkan jika penghafal Alquran akan memberikan mahkota kepada kedua orang tuanya di akhirat kelak.
Sejak usia sembilan bulan, Yasmin mengalami Retinoblastoma alias kanker mata yang terjadi pada retina. Penyakit itu mengharuskan putri cantik ini kehilangan penglihatan lantaran harus operasi di usianya yang menginjak 2,5 tahun. Di balik itu, putri cantik ini memiliki banyak keistimewaan.
Salah satunya, Yasmin yang memiliki kemampuan sebagai qiroati dan penghafal Alquran itu, dalam puncak resepsi 1 Abad NU di Stadion Delta Sidoarjo yang digelar PBNU pada 2023 lalu, dipercaya melantunan selawat Asygil hingga membuat jutaan warga nahdliyin dibuat kagum.
Yang terbaru, putri Gus Muh, sapaan KH Muhammad Nur Chotib Tolib yang juga pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah, Desa Sepanjang itu memenangi Hafiz Indonesia 2025 di salah satu televisi nasional, dan mengalahkan banyak anak-anak hebat lain yang jadi pesaingnya dalam ajang bergengsi itu.
Padahal selama ini, Yasmin belajar hafalan dengan cara yang tidak biasa dengan dibantu oleh ibunya, Hj Nina Nur Aminah. “Cara hafalannya berbeda dengan anak pada umumnya. Saya membacakan ayat, nanti Yasmin menirukan, lalu ayat tersebut diulang-ulang sampai dihafal,” kata Hj Nina pada Jawa Pos Radar Genteng.
Dengan cara belajar tersebut, Yasmin tetap menujukkan progres yang ciamik. Ia tergolong cepat hafal sehingga bisa mengumpulkan banyak hafalan, meski dengan kondisi terbatas. “Setoran hafalannya tidak ke saya, tapi ke Kiai Muhammad Thohir Qolby, (pengasuh Pondok Pesantren Sunan Kalijogo di Dusun Sumberkepuh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo),” terangnya.
Sejak mulai menghafal Aquran pada usia empat tahun, Yasmin terus digembleng agar bisa mewujudkan mimpinya. Di enam juz hafalannya, oleh Kiai Tohir pada 2024 didaftarkan lomba hafidz. Setelah lolos, Yasmin harus mengikuti karantina selama 1.5 bulan. “Awalnya diikutkan yang tahun sebelumnya, tapi karena saya belum siap, akhirnya ikut HI (Hafidz Indonesia) yang kemarin,” ujarnya.
Lolos audisi, Yasmin senang bukan kepalang. Dengan mood yang sedang bagus lantaran lolos ke ajang prestisius itu, ia meminta tambahan porsi hafalan. Sehari bisa sampai mengulang hafalan dua juz. “Latihannya ditambah lagi karena persiapan untuk lomba itu juga,” terangnya.
Hasilnya, dalam ajang tersebut Yasmin selalu tampil memukau dan maksimal. Ia selalu bisa menjawab seluruh pertanyaan dewan juri, sampai akhirnya dinobatkan sebagai juara. “Awalnya tidak ada target juara. Bagi saya ini latihan yang bagus, apalagi di karantina juga ada pembinaan yang ketat,” ungkapnya.
Jadi juara di ajang tersebut tidak meninggikan dia. Yasmin justru semakin bertekad mengembangkan bakatnya. Terlebih, dengan kekurangannya, oleh Allah dianugerahi keistimewaan lain, suara yang merdu. “Selain hafalan, dia juga pandai qiroati dan selawatan,” katanya.
Bakat selawat Yasmin diketahuinya lima tahun lalu. Ketika hendak tidur, Yasmin yang belum pernah dicekoki lagu-lagu Islami, tiba-tiba melantunkan selawat. Suaranya indah sampai menghipnotis ibunya. “Mendengar itu saya tidak jadi tidur, saya berpikir kok indah sekali suara anak saya,” tandasnya.
Setelah momen itu, Hj Nina kerap merekam Yasmin saat selawat. Ia juga memberi referensi selawat-selawat lain untuk dihafalkan bocah yang kini kelas III SDN 3 Sepanjang itu. “Akhirnya bakatnya diketahui salah satu pemusik dan content creator. Ia semakin sering diajak membuat video selawat,” katanya.
Keahlian Yasmin itu sempat menjadi fenomena di wilayah Kecamatan Glenmore. Nyaris setiap kali ada acara keagamaan, panitia mengundang Yasmin untuk tampil. “Mulai sering diundang-undang untuk selawat dan qiroati. Banyak yang menangis kalau Yasmin tampil,” tandasnya.
Leistimewaan Yasmin itu, seolah menjadi satu oase di tengah padang gurun. Hatinya sempat kalut saat melihat mata Yasmin menunjukkan tanda-tanda Retinoblastoma. Terlebih dua dari kakaknya sudah mengalami hal serupa. “Anak pertama saya juga seperti itu, sekarang sudah meninggal. Anak kedua juga sama, tapi hanya satu mata saja dan sekarang belajar di Yaman,” ungkapnya.
Saat kali pertama mengetahui mata Yasmin bermasalah, sedang duduk di ruang tengah rumahnya. Ia kaget melihat mata putrinya bercahaya saat terkena sinar. “Kok matanya seperti mata kucig kalau kena cahaya, saya langsung sedih. Kok anak saya seperti ini lagi,” tandasnya.
Setelah membawa Yasmin berobat dan akhirnya dioperasi yang akhirnya seperti saat ini, Hj Nina mengaku sudah bisa menerima, terlebih Yasmin tumbuh menjadi anak hebat dan berbakat. “Ya itu tadi, cita-citanya pingin ngasih mahkota ke abah sama uminya. Meski begitu gak ada target kapan khatam hafalan 30 juz,” pungkasnya.(abi)
Editor : Agus Baihaqi