RadarBanyuwangi.id – Nasib tragis menimpa siswi kelas 2 SDN 1 Sembulung, Kecamatan Cluring. Bocah berinisial FA, 8, asal Dusun Krajan, Desa Sembulung, itu ditabrak sepeda motor di jalan raya depan sekolahnya hingga meninggal pada Sabtu (30/11) sekitar pukul 09.00. Saat kejadian, korban yang sedang istirahat itu akan menyeberang jalan untuk membeli cilok.
Dalam kecelakaan itu, FA sempat terseret hingga 25 meter dan mengalami luka serius di bagian kepala, leher, dan patah tulang pada kaki kanan. Korban yang sempat dibawa ke RS Al Rohmah Jajag, Kecamatan Gambiran dan dirujuk ke RS Al Huda Gambiran, itu akhirnya meninggal. “Korban luka cukup serius,” terang Kanit Lantas Polsek Muncar, Ipda Gatot Dwi Handoko.
Menurut Gatot, kecelakan itu bermula saat korban yang sedang istirahat di sekolahnya akan jajan dengan membeli cilok di seberang jalan. Saat langkahnya di tengah badan jalan, dari arah utara meluncur motor Honda Vario dengan nomor polisi P 4142 QAV yang dinaiki Ahmad Fatoni Al’ala, 20, asal Dusun Krajan, Desa Sembulung, Kecamatan Cluring. “Motor melaju dengan kecepatan tinggi,” ungkapnya.
Karena jarak yang sudah dekat, Fatoni tidak bisa mengendalikan laju motornya. Siswi SDN kelas 2 itu langsung ditabrak dan sempat terseret motor hingga sejauh 25 meter. “Saat kejadian di depan SDN 1 Sembulung banyak anak-anak yang sedang jajan, pemotor tidak mengurangi kecepatannya,” terangnya pada Jawa Pos Radar Genteng.
FA yang saat itu terkapar di tengah jalan dengan kondisi tidak sadar, oleh guru dan warga ditolong dengan dilarikan ke RS Al Rohmah Jajag, Kecamatan Gambiran. “FA dibawa ke rumah sakit, sedangkan Fatoni pulang ke rumahnya dengan santai,” cetus Gatot.
Karena kondisi FA yang cukup kritis, jelas dia, selanjtnya dirujuk ke RS Al Huda Gambiran. Setelah sempat dirawat selama dua jam, sekitar pukul 17.00, korban ini meninggal. “Mau dibawa ke RSUD Blambangan, korban keburu meninggal,” jelas Kanit Lantas Polsek Muncar itu.
Salah satu warga di sekitar lokasi kejadian, Ahmad Susanto, 64, mengatakan FA itu hanya tinggal bersama neneknya di rumah. Kedua orang tua bocah delapan tahun tersebut sudah lama bercerai dan meninggalkannya bersama neneknya. “Ayahnya kerja di Bali, sedangkan ibunya kerja di Singapura,” terangnya.
Ayah korban yang di Bali dan ibu korban di Singapura langsung pulang setelah mengetahui putrinya meninggal karena ditabrak motor. “Kok bisa FA keluar, padahal sudah dilarang oleh sekolah, apa gurunya lalai?,” cetus ayah korban, Susanto.(cw2/abi)
Editor : Agus Baihaqi