Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bahan Baku Minim Gegara Musim Kemarau, Harga Gula Merah di Banyuwangi Justru Turun

Lugas Rumpakaadi • Sabtu, 11 November 2023 | 23:30 WIB
TURUN HARGA: Perajin gula merah di Dusun Krajan Baru, Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, Banyuwangi, mengeluhkan penurunan harga gula merah, Jumat (10/11).
TURUN HARGA: Perajin gula merah di Dusun Krajan Baru, Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, Banyuwangi, mengeluhkan penurunan harga gula merah, Jumat (10/11).

SRONO, RadarBanyuwangi.id – Harga gula pasir di pasaran meningkat, tapi untuk harga gula pasir malah mengalami penurunan.

Perajin gula mengeluhkan penurunan harga itu karena bahan baku nira kelapa juga mengalami penurunan akibat musim panas.

Salah satu perajin gula merah Marwan, 60, asal Dusun Krajan Baru, Desa Wonosobo, Kecamatan Srono mengaku resah dengan harga gula merah yang turun di pasaran.

“Gula pasir naik, tapi gula merah malah turun,” ungkapnya, Jumat (10/11).

Harga gula merah, kata dia, biasanya bergerak beriringan dengan harga gula pasir. Saat harga gula pasir naik, harga gula merah akan ikut terkerek.

“Gula pasir bisa sampai Rp 16 ribu per kilogram, sedangkan gula merah hanya dihargai Rp 11.200 per kilogram,” cetusnya.

Penurunan harga gula merah hingga Rp 11.200 per kilogram ini, terang dia, baru terjadi dalam sepekan terakhir.

Seminggu lalu, harga gula merah di tingkat perajin masih di kisaran Rp 12 ribu hingga Rp 13 ribu per kilogram.

“Ini kalau harganya (gula merah) turun lagi, bisa bangkrut,” cetusnya.

Perajin gula merah lainnya, Siti Halimah, 47, warga Dusun Krajan Baru, Desa Wonosobo, Kecamatan Srono mengungkapkan pembuatan gula merah butuh waktu lama dan ketelatenan.

“Dalam sehari, perajin rata-rata menghasilkan sebanyak 20 kilogram gula merah,” ungkapnya.

Untuk membuat gula merah sebanyak itu, kata Halimah, dibutuhkan sekitar 75 liter nira kelapa yang diambil langsung dari pohonnya.

“Nira itu direbus hingga tiga sampai empat jam di atas tungku, setelah itu dicetak dan dijual,” terangnya.

Siti berharap, harga gula merah di tingkat perajin bisa kembali meningkat seperti harga gula pasir di pasaran.

“Kasihan para pengumpul nira yang sehari harus dua kali memanjat pohon kelapa, sedang hasilnya tidak seberapa,” harapnya.

Di Pasar Srono, Kecamatan Srono, harga gula pasir sepekan terakhir berada di kisaran Rp 15.500 hingga Rp 16 ribu per kilogram. Sebulan sebelumnya, harga gula pasir hanya Rp 13 ribu per kilogram.

“Kenaikan sudah berlangsung satu bulan terakhir, setiap hari naiknya Rp 100,” cetus salah satu pedagang, Nanang Hermansyah, 45, warga Dusun/Desa Kebaman, Kecamatan Srono.

Pedagang tidak mengetahui secara pasti penyebab kenaikan harga gula pasir itu. Mereka mengaku hanya bisa pasrah dan berharap harga gula pasir bisa stabil lagi di harga Rp 11 ribu per kilogram.

“Harga setinggi ini membuat omzet ikut turun, karena pembeli sepi,” cetusnya.

Nanang mengaku hanya membeli gula pasir di distributor dengan jumlah secukupnya.

Biasanya, dia membeli tiga karung kemasan 25 kilogram dan laku terjual dalam dua atau tiga hari.

“Sekarang hanya beli sekarung, itupun kadang dua hari belum habis,” pungkasnya. (gas/abi)

Editor : Ali Sodiqin
#srono #gula merah #gula pasir #Perajin #Nira #banyuwangi #harga