Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Makam Mbah Dowo di Dusun Kutorejo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Kurang Diminati Peziarah

Lugas Rumpakaadi • Senin, 24 Juli 2023 | 21:00 WIB
SEPI: Lokasi makam Mbah Dowo di Dusun Kutorejo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo sepi peziarah pada 1 Suro, , Minggu (23/7).
SEPI: Lokasi makam Mbah Dowo di Dusun Kutorejo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo sepi peziarah pada 1 Suro, , Minggu (23/7).

TEGALDLIMO, Jawa Pos Radar Genteng – Makam Mbah Dowo yang berada di Dusun Kutorejo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, tampaknya sudah mulai ditinggal para peziarah. Pada malam 1 Suro yang biasanya ramai, makam yang dulu dikenal sakral itu sepi dari pengunjung.

Sejak enam tahun terakhir, makam Mbah Dowo itu terus mengalami penurunan jumlah pengunjungnya. Bahkan, saat malam 1 Suro atau Selasa (18/7) malam hingga Rabu (19/7), jumlah peziarah bisa dihitung jari. “Dulu makam Mbah Dowo jadi jujugan para pejiarah, tertutama menjelang 1 Suro. Sekarang turun 50 persen,” terang juru kunci makam Mbah Dowo, Ponirin, 45.

Menjelang malam 1 Suro, jelas dia, jumlah peziarah umumnya membludak sekitar 50 hingga seratus orang dalam sehari. Tapi belakangan ini turun. “Sekarang tinggal 25 sampai 50 orang saja dalam sehari,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Menurut Ponirin, pengunjung yang datang pada Selasa (18/7) malam, atau beberapa jam menjelang 1 Suro, tidak banyak dan bisa dihitung jari. “Tidak sampai sepuluh orang yang datang,” ungkapnya.

Makam Mbah Dowo, terang Ponirin, tempat senjata yang ditumbalkan untuk menyerap aura gelap di tanah Jawa. Aura gelap itu disebabkan ilmu dari Calonarang yang hidup semasa pemerintahan Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan. “Jadi ini bukan makam orang,” terangnya.

Karena aura yang gelap itu, jelas dia, Raja Airlangga memerintahkan Mpu Bharada untuk menyerap aura tersebut. Aura itu oleh Mpu Bharada dibuat tombak dan dipotong menjadi tiga bagian, dan ditanam di tiga lokasi. Ketiga lokasi itu makam Mbah Dowodi  dekat Taman Nasional Alas Purwo, di Gunung Tidar, dan di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. “Ujung tombak di sini, bagian tengah di Gunung Tidar, dan sisanya di Ujung Kulon,” cetusnya.

Karena fungsinya untuk menyerap aura gelap, lanjut dia, tombak itu juga disebut sebagai Suryo Bujonegoro. “Surya itu artinya matahari yang memberi terang, bujo itu artinya untuk, dan negoro artinya negara,” jelasnya.

Makam Mbah Dowo inbi, lanjut dia, baru ditemukan oleh warga sekitar 1930-an. Saat itu, warga menggembalakan ternak. “Dulu tempat ini rawa, tapi  di bagian tengahnya ada yang menonjol dan tidak pernah terkena air, bagian itulah makam Mbah Dowo ini,” pungkasnya.(gas/abi)

Editor : Agus Baihaqi
#1 Suro #peziarah #pengunjung #makam #matahari #Negara #sakral #bojonegoro #lokasi #tombak #warga