GAMBIRAN – Budidaya ikan dengan memanfaatkan selokan di Dusun Krajan, RT 6 RW 3, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, pernah populer sejak dilaunching pada April 2018 silam. Saat itu, lokasi yang tidak jauh dari jalan raya ini memiliki daya tarik di masyarakat, salah satunya karena ribuan ikan berkembangbiak di selokan yang memanjang hingga 200 meter.
Lokasi yang dikelola kelompok Budidaya Ikan Perairan Umum Banyu Bening itu, juga dipercantik dengan lukisan mural bertema ikan, empat gubuk juga didirikan warga. Lokasi itu pun menjadi tempat kunjungan warga dan siswa di setiap akhir pekan. Setelah lama tidak terdengar, kini lokasi itu kurang terawat. Gubuk yang sempat didirikan warga juga mulai reyot, sebagian warga mulai membuang dan membakar sampah di sekitar lokasi itu.
Ketua Pokmas Banyu Bening, Muyadi, 52, mengatakan munculnya gerakan budidaya ikan itu bermula dari kesadaran warga untuk menjaga kebersihan lingkungan, khususnya di selokan yang ada di kampungnya. “Awal itu, warga supaya tidak buang sampah, lalu parit diberi ikan,” ungkapnya.
Selama warga bersama-sama mengelola ikan di selokan itu, setidaknya sudah tiga kali merasakan panen. Di samping pemasukan dari panen ikan setiap tiga bulan sekali, penghasilan harian yang mereka dapatkan dari penjualan konsentrat untuk pakan ikan. “Kelompok bisa memanfaatkan jual beli sentrat, kita dapat dari situ,” jelasnya.
Saat itu, setidaknya telah dilakukan tiga kali penebaran benih ikan. Semuanya hasil swadaya warga. Setelah dilaunching, menerima bantuan benih dari Dinas Perikanan Banyuwangi. “Kalau gagasan awal dari warga,” ungkapnya.
Terkait surutnya kegiatan pengelolaan ikan di kelompok Banyu Bening, Muyadi menegaskan itu terjadi beberapa waktu sebelum pandemi. Secara mendasar, ada dua faktor yang mengakibatkan Banyu Bening mati suri. “Karena faktor teknis, dan kelembagaan,” ujarnya.
Respon masyarakat sebenarnya cukup tinggi dengan hadirnya Banyu bening itu. Hanya saja, ketersediaan air yang belum bisa dipastikan setiap musim. Ketika musim kemarau, air yang masuk ke selokan itu harus dibagi dengan lainnya. “Pernah airnya itu benar-benar habis, ikan sampai tidak bisa bergerak,” jelasnya.
Dari sisi internal kelembagaan, kemunculan Banyu Bening ini awalnya dipelopori kalangan buruh. Sehingga, waktu dan tenaga sedikit banyak harus terbagi dengan pekerjaan serabutan yang dijalani. “Dulu orang-orang kuli, seperti saya,” jelasnya.
Jika harus melakukan pengelolaan secara pribadi, Muyadi mengaku memiliki kesanggupan waktu. Hanya saja, ia masih harus memikirkan pekerjaan lain untuk nafkah keluarganya. “Kalau sendiri, terus terang tidak bisa, kami butuh kerja,” ujarnya seraya menyebut redupnya pengelolaan Banyu Bening, tidak karena ada konflik seperti pengelolaan keuangan.
Kepala Desa Jajag, Parno mengatakan pemerintah desa berencana menggalakkan kembali kegiatan itu setelan pandemi. Kondisi di lapangan memang cukup komplek, sumber air terkadang mengalami penurunan. Sedangkan upaya mengandalkan sumur tidak mencukupi. “Kalau sumber tidak mampu, terlalu kecil,” ujarnya.
Di daerah tersebut, jelas dia, ada empat lokasi budidaya ikan di parit, yakni Banyu Bening 1, 2, dan 3, serta Sumbersuko. Permasalahan yang terjadi, tidak semua karena faktor kekurangan air. “Di Sumbersuko malah airnya terlalu besar,” ungkapnya.(sli/abi)
Editor : Ali Sodiqin