BANGOREJO-Umat Hindu Banyuwangi berduka. Salah satu Sulinggih, Romo Singgih Pandita Mpu Srijati yang tinggal di di Griya Jati Sarana, Dusun Kedungagung, Desa Sambirejo Kecamatan Bangorejo, meninggal dengan usia 94 tahun.
Romo Singgih yang meninggal pada Sabtu (11/11), kini disemayamkan di rumah duka sambil menunggu upacara ngaben yang akan dilaksanakan pada Minggu (19/11) di Setra, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari.
Sejak meninggal pada Sabtu itu, umat Hindu dari berbagai daerah banyak yang berdatangan untuk memanjatkan doa. Kemarin (17/11), puluhan siswa didampingi seorang guru datang melakukan puja pitara. “Kami sengaja mengajak siswa untuk datang,” terang Untung Wahyudi, salah satu guru agama Hindu.
Wahyudi mengungkapkan datang ke rumah duka itu selain mendoakan, juga bertujuan para generasi muda bisa meneladani perjuangan Singgih Pandita semasa masih hidup. “Kita melangsungkan puja pitara atau doa untuk roh,” jelasnya.
Selama hidupnya, terang dia, Singgih Pandita ini sosok panutan bagi umat Hindu, baik dalam peribadatan maupun bermasyarakat. Sejak meninggalnya Singgih, umat Hindu merasa kehilangan sosok panutan bagi kalangan muda. “Singgih Pandita ini menjadi panutan, kami merasa sangat kehilangan,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu tokoh agama Hindu, Eko Prasetyo, mengungkapkan di kediaman Singgih Pandita sedang dilakukan persiapan upacara ngaben, di antaranya menyiapkan perlengkapan yang akan disertakan dalam prosesi yang akan digelar di Desa Patoman pada Minggu besok (19/11). Sejumlah pemuka agama termasuk Guru Nabe dari Bali, direncanakan hadir dalam prosesi itu. “ Ini kita sedang persiapan untuk ngaben,” katanya.(sli/abi)
Editor : AF Ichsan Rasyid