Polemik Frankenstein Netflix Kembali Mencuat, Adaptasi Klasik Dinilai Cerminkan Krisis Kreativitas Hollywood

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 20:51 WIB
Adaptasi terbaru Frankenstein garapan Netflix memicu perdebatan mengenai dominasi remake di Hollywood. (Netflix)
Adaptasi terbaru Frankenstein garapan Netflix memicu perdebatan mengenai dominasi remake di Hollywood. (Netflix)

RADARBANYUWANGI.ID - Proyek adaptasi terbaru Frankenstein yang digarap Netflix kembali memancing perdebatan di kalangan pengamat perfilman. Film tersebut dinilai menjadi gambaran kecenderungan industri Hollywood yang semakin mengandalkan pengerjaan ulang karya lama dibanding menghadirkan gagasan baru yang orisinal.

Sorotan tersebut mengemuka setelah media hiburan ScreenRant mengulas proyek adaptasi tersebut dan mengaitkannya dengan tren yang berkembang di industri film. Meski didukung jajaran aktor ternama serta anggaran produksi besar, sejumlah kritikus menilai langkah itu semakin mempertegas kecenderungan studio besar memilih jalur yang lebih aman secara bisnis.

Dalam wawancara bersama ScreenRant di Los Angeles, California, Jumat (1/8/2026), seorang pengamat industri perfilman menilai keputusan Netflix mengadaptasi kembali Frankenstein mencerminkan strategi studio yang lebih mengutamakan karya yang telah memiliki basis penggemar.

"Keputusan Netflix menggarap Frankenstein menunjukkan bagaimana Hollywood saat ini lebih memilih jalan aman dengan mengeksploitasi karya lama yang sudah dikenal publik, ketimbang memberi ruang bagi ide-ide baru yang segar dan berani," ujarnya.

Pandangan serupa juga disampaikan kritikus budaya populer dalam kesempatan yang sama. Menurutnya, tantangan terbesar dari sebuah proyek adaptasi bukan sekadar menghadirkan kembali cerita lama, melainkan memberikan alasan kuat mengapa karya tersebut layak diproduksi ulang.

Ia menegaskan bahwa adaptasi akan kehilangan daya tarik apabila hanya mengandalkan popularitas judul tanpa menawarkan sudut pandang maupun interpretasi baru yang relevan bagi penonton masa kini.

"Tantangan terbesar dari proyek daur ulang adalah memberikan alasan yang jelas mengapa film tersebut harus dibuat ulang. Jika hanya menjual nama besar tanpa menawarkan penafsiran baru yang berarti, penonton akan merasa jenuh," katanya.

Sementara itu, pandangan penikmat sinema yang dikutip ScreenRant menunjukkan bahwa publik pada dasarnya tidak menolak kehadiran adaptasi baru. Namun, mereka berharap rumah produksi tetap berani menghadirkan cerita-cerita segar yang belum pernah diangkat ke layar lebar.

"Penonton sebenarnya tidak menolak adaptasi baru, namun mereka merindukan keberanian studio untuk menghadirkan cerita-cerita baru yang belum pernah disaksikan sebelumnya di layar lebar," ungkap perwakilan penikmat sinema.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : ScreenRant
Frankenstein Netflix