RADARBANYUWANGI.ID - Aktor papan atas Hollywood Jake Gyllenhaal kembali menjadi sorotan setelah pandangannya mengenai maskulinitas dan identitas pria mendapat perhatian publik. Pemeran yang dikenal lewat karakter-karakter kompleks dalam berbagai film itu dinilai tengah mendefinisikan ulang makna maskulinitas melalui pilihan peran yang dijalaninya.
Sorotan tersebut muncul di tengah perubahan iklim sosial yang memunculkan beragam perdebatan mengenai konsep gender. Dalam ulasan yang ditulis jurnalis Coleman Spilde di media Salon.com pada 27 Mei 2026, Gyllenhaal disebut memilih karakter-karakter yang menampilkan maskulinitas klasik atau machismo, sekaligus menghadirkan pendekatan yang lebih reflektif terhadap identitas laki-laki.
Pandangan tersebut sejatinya pernah disampaikan Gyllenhaal dalam wawancara bersama majalah Another Man pada awal 2020 saat menjalani tur promosi film. Saat itu, ia mengaku telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memahami arti menjadi seorang pria.
"Ide menjadi dewasa, menjadi seorang pria, adalah sesuatu yang saya cari. Saya telah menghabiskan bertahun-tahun mencoba memahami apa arti hal itu. Film demi film, pengalaman hidup demi pengalaman hidup, pergi ke titik ekstrem tertentu untuk berkata, 'Oh, apakah itu ada di dunia fisik? Apakah pria adalah dia yang memegang pistol? Apakah dia yang masuk ke ring tinju? Apakah dia yang jatuh cinta dengan pria lain?' Apa itu maskulinitas? Dan tanpa disadari, saya pikir itulah yang saya cari," ujar Gyllenhaal.
Aktor tersebut menjelaskan bahwa pencarian itu diwujudkan melalui karakter-karakter yang ia perankan di layar lebar. Mulai dari petinju, polisi, hingga tentara, semuanya menjadi medium untuk mengeksplorasi gambaran maskulinitas yang selama ini melekat dalam masyarakat.
Namun, seiring bertambahnya pengalaman hidup, Gyllenhaal mengaku tidak lagi merasa perlu menyembunyikan sisi emosionalnya. Menurutnya, kerentanan dan sensitivitas justru menjadi bagian penting dalam memahami identitas seorang pria.
"Gagasan yang lebih klise tentang apa itu pria adalah sesuatu yang coba saya eksplorasi melalui peran-peran yang saya mainkan. Saya bermain sebagai petinju, polisi, tentara, dan ada semacam pemahaman akan gagasan yang lebih klasik tentang 'pria.' Namun pada titik ini, kerentanan dan sensitivitas saya sendiri adalah hal-hal yang saya rasa tidak perlu lagi dicarikan pembenaran atau alasan. Itu menarik dalam konteks identitas seorang pria. Kita hidup di dunia di mana pria pada umumnya mencari tahu apa sebenarnya maskulinitas itu," katanya.
Melalui kombinasi karakter-karakter yang menonjolkan kekuatan fisik dan pengakuan terhadap sisi emosionalnya, Gyllenhaal berupaya menghadirkan pemahaman yang lebih luas mengenai maskulinitas. Baginya, identitas pria tidak hanya dibentuk oleh stereotip tentang keberanian atau kekuatan, tetapi juga oleh kemampuan menerima kerentanan sebagai bagian dari pengalaman manusia.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa dunia seni peran tidak sekadar menjadi ruang hiburan, melainkan juga media refleksi untuk mempertanyakan sekaligus memahami kembali makna maskulinitas di tengah perubahan perspektif masyarakat modern.
Editor : Lugas Rumpakaadi