Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

16 Tahun Pengabdian Guru Honorer di Sekolah Terpencil Pringgodani, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Bilang Potret Ketulusan

Agung Sedana • Selasa, 6 Mei 2025 | 09:45 WIB
BERI DUKUNGAN: Bupati Ipuk Fiestiandani berbincang dengan Agus Hermanto di Dusun Pringgondani, Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo, Senin (5/5).
BERI DUKUNGAN: Bupati Ipuk Fiestiandani berbincang dengan Agus Hermanto di Dusun Pringgondani, Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo, Senin (5/5).

RADARBANYUWANGI.ID – Dedikasi Agus Hermanto, guru honorer asal Dusun Pringgondani, Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, menuai apresiasi Bupati Ipuk Fiestiandani.

Sudah 16 tahun Agus mengabdi di sekolah terpencil, tepatnya SMPN 3 Wongsorejo.

Sejak 2009 Agus telah melintasi jalanan berbatu dan menanjak, menempuh medan sulit untuk satu tujuan, yakni memastikan tidak ada anak desa yang putus sekolah hanya karena kendala biaya atau letak geografis.

Pengabdian Agus selama 16 tahun itu menyedot perhatian khusus dari Pemkab Banyuwangi.

Bersama rombongan, Bupati Ipuk datang dan berbincang langsung dengan sang guru honorer, Senin (5/5).

Kedatangan Ipuk disambut hangat oleh Agus bersama keluarga di kediamannya yang cukup sederhana. Tak lupa, suguhan berupa hasil bumi menghiasi meja.

Bukan tangan kosong, dalam kunjungan kali ini Bupati Ipuk juga menyerahkan bantuan komputer jinjing (laptop) untuk Agus.

”Dia (Agus) adalah potret ketulusan. Masih muda, namun memiliki keikhlasan luar biasa. Di saat banyak orang berpikir soal kepastian dan kenyamanan kerja, beliau memilih tetap bertahan di tempat yang jauh dari sorotan,” ujar Ipuk.

Menurut Ipuk, perjuangan Agus bukan hanya soal mengajar, tapi soal menyalakan harapan. Guru muda tersebut adalah teladan yang patut diapresiasi atas dedikasinya dalam mengabdi.

”Saya ingin agar perjuangan seperti ini tidak berjalan sendiri. Pemkab akan terus hadir mendukung, karena pendidikan di pelosok adalah tanggung jawab bersama,” imbuhnya.

Dari cerita Agus, Ipuk dapat lebih mengoptimalkan berbagai program pemkab untuk anak-anak putus sekolah. Salah satunya dengan Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah (Garda Ampuh).

Program ini berfokus menjaring anak putus sekolah dan membantunya kembali ke bangku sekolah melalui berbagai skema.

Pemkab Banyuwangi juga memberikan program khusus bagi pelajar kurang mampu seperti pemberian uang saku, uang transportasi, tabungan pelajar, hingga pemberian bantuan peralatan sekolah.

Ada juga program Siswa Asuh Sebaya (SAS) yang merupakan gerakan solidaritas antarsiswa di Banyuwangi.

Gerakan tersebut kini semakin meluas jangkauannya. Tidak hanya membantu siswa di dalam sekolah, namun meluas antarsekolah. 

Pemkab juga rutin memberikan beasiswa bagi siswa kurang mampu melalui program Banyuwangi Cerdas serta berbagai program kolaboratif untuk mengatasi anak putus sekolah lainnya. 

Sementara itu, kepada wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) Agus bercerita bahwa dia tidak mengajar layaknya guru pada umumnya.

Dia menjadi motivator, penggerak, sekaligus penjaga mimpi bagi anak-anak di daerah pelosok. Bukan rupiah atau sekadar tepuk tangan sebagai tujuannya.

Melainkan kesuksesan anak desa serta tumbuhnya minat belajar sejak dini yang jadi harapannya.

”Pagi masuk kelas saya tidak langsung mengajar, ada sesi dialog dahulu. Bertanya apa kabarnya, bagaimana semangatnya, dan menanyakan apakah ada kendala. Setelah itu baru pelajaran,” kata Agus.

Agus juga senantiasa mendoktrin anak-anak pedesaan agar tidak minder dengan kilauan kota. Justru dari desa, imbuhnya, harapan tidak pernah sirna.

”Murid di desa tidak perlu minder. Justru batu permata berasal dari desa yang kemudian jadi incaran warga kota,” tuturnya.

Lebih dari sekadar mengajar, Agus melakukan jemput bola. Ratusan kali dia mendatangi rumah-rumah warga, membujuk orang tua agar mengizinkan anaknya bersekolah. 

Tak jarang, saat ada siswa yang tidak masuk saat ujian, dia menjemputnya sendiri, membangunkan, menunggu hingga selesai mandi, lalu memboncengkan dengan motor ke sekolah.

Ngajar di pelosok itu capek, tapi begitu lihat anak-anak semangat belajar, hati ini rasanya hangat. Rasa capai pun hilang,” ungkapnya.

Agus mengucapkan terima kasih atas kunjungan Ipuk ke rumahnya. Laptop yang diberikan akan dia manfaatkan untuk mengakses referensi dan menjangkau dunia pendidikan yang lebih luas. 

Karena menurut Agus, di balik medan berat, di balik suara motor yang melintasi jalan setapak, ada satu tekad yang tak pernah lelah. Yakni memastikan tidak ada satu anak pun yang tertinggal dari bangku sekolah.

Sebelumnya, sepak terjang Agus telah diberitakan secara eksklusif Jawa Pos Radar Banyuwangi pada edisi Sabtu, 3 Mei 2025 lalu.

Tepatnya, pada halaman utama (halaman 13) dengan judul ”Perjuangan Melelahkan Agus Hermanto, Guru Honorer yang Bertugas di Sekolah Terpencil Pringgondani. Setiap Tahun Gerilya Cari Murid Baru, Bertamu dari Rumah ke Rumah”. (cw4/sgt/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#guru honorer #Bupati Banyuwangi #pringgodani #Siswa Asuh Sebaya #pelosok #Ipuk Fiestiandani #banyuwangi #sekolah terpencil