Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Pilu di Balik Tugu Inkai Pantai Boom Banyuwangi, Jadi Saksi Meninggalnya 26 Karateka Saat Ujian

Fredy Rizki Manunggal • Senin, 20 Januari 2025 | 17:39 WIB
SAKSI BISU: Ratusan karateka dari berbagai penjuru Banyuwangi berdoa di Tugu Inkai pada Sabtu (18/1).
SAKSI BISU: Ratusan karateka dari berbagai penjuru Banyuwangi berdoa di Tugu Inkai pada Sabtu (18/1).

RadarBanyuwangi.id - Tugu Inkai yang terletak di kawasan wisata Marina Boom, Kelurahan Kampung Mandar, dipenuhi ratusan karateka dari berbagai penjuru Banyuwangi pada Sabtu sore (18/1).

Mereka datang untuk mengenang peristiwa tragis yang merenggut nyawa puluhan karateka. Tugu Inkai menjadi saksi bisu tragedi kematian para atlet karateka pada 43 tahun silam.

Hujan lebat disertai angin kencang mengguyur kawasan Pantai Marina Boom sore itu. Di bawahnya, ada ratusan karateka dengan dogi atau karategi berwarna putih.

Mereka berdiri memutari Tugu Inkai yang berada tepat di tengah-tengah persimpangan jalan.

Para karateka tersebut menunduk sembari mengucapkan  doa-doa. Setelah berdoa, lantunan puisi berjudul Kepasrahan dibacakan oleh salah seorang karateka dengan bantuan pengeras suara. Lirik puisi tersebut seolah memberikan pesan atas berpulangnya puluhan karateka di tempat tersebut 43 tahun silam.

Sore itu ratusan karateka yang bernaung di bawah perguruan Institut Karate-Do Indonesia (Inkai) memperingati tragedi Tugu Inkai.

Setiap tahun, ratusan karateka dari berbagai usia datang ke tempat tersebut untuk mengenang kepergian 26 senior mereka yang tengah menyiapkan diri untuk mengikuti ujian kenaikan sabuk.

Saksi sejarah peristiwa kelam 43 tahun lalu menyempatkan datang ke Tugu Inkai. Salah satunya adalah Farid.

Pria berusia 75 tahun itu tampak duduk di antara jajaran tamu undangan yang ikut menyaksikan peringatan tahunan Tugu Inkai.

Sembari sesekali menyeka air mata, Farid tampak khidmat mengikuti jalannya prosesi upacara peringatan.

Tragedi tenggelamnya 26 karateka masih melekat di ingatannya. Farid ingat betul saat ikut berlari dengan puluhan peserta ujian kenaikan tingkat.

Hari itu ujian kenaikan tingkat akan digelar di kantor PMI Banyuwangi.

Sembari menunggu penguji dari Pengda Inkai Jatim, Farid dan puluhan peserta lainnya melakukan pemanasan dengan berlari-lari dari Pulau Santen, lalu ke Pantai Boom.

”Waktunya sama seperti peringatan hari ini, sore sekitar pukul 15.00 tanggal 17 Januari 1982. Kami berlari untuk pemanasan. Langitnya juga sama, mendung dan hujan,” kenang Farid.

Begitu tiba di sungai yang membelah Pulau Santen dan Pantai Boom, puluhan karateka mulai menyeberangi sungai dekat muara Boom.

Sore itu, genangan air tak begitu tinggi. Hanya setinggi lutut orang dewasa. Mereka pun mulai berjalan menyeberangi sungai.

Namun nahas, tiba-tiba air dari arah sungai meninggi. Pada waktu yang sama, ombak tinggi tiba-tiba muncul dari arah laut.

Seketika tinggi air yang awalnya hanya selutut, dengan cepat naik hingga seleher. Bagian dasar sungai yang awalnya terasa, tiba-tiba seperti lumpur dan membuatnya terseret.

”Suasananya mendadak berubah, banyak yang tidak bisa berenang. Akhirnya sebagian terseret air ke laut. Banyak yang tenggelam,” kisah Farid dengan mata berkaca-kaca.

Dua pelatih karate saat itu berusaha menyelamatkan kohainya sebanyak mungkin. Farid ingat betul dengan Senpai Bekti Sutadji dan Senpai Jauhari yang berusaha berenang ke tengah laut untuk menyelamatkan murid-muridnya yang tenggelam.

Nahas, keduanya malah ikut menjadi korban dalam peristiwa pilu tersebut. Jauhari maupun Bekti sama-sama tenggelam di tengah lautan.

”Saya lihat Senpai Bekti menggotong anak, dia malah hilang di tengah lautan,” ucap Farid sambil beberapa kali mengusap air matanya.

Jenazah Senpai Bekti ditemukan tiga hari kemudian di perairan Cekik, Jembrana, Bali. Kali pertama ditemukan, separo bagian tubuhnya sudah habis karena dimakan ikan.

Sebelum ditemukan, keluarga sempat menabur bunga di lautan sembari berdoa agar jenazah Senpai Bekti bisa ditemukan.

”Waktu itu ada orang yang mengira Senpai Bekti melarikan diri. Keluarganya berdoa dengan harapan mayatnya bisa ditemukan. Tiga hari kemudian jenazahnya muncul di perairan Cekik,” tutur Farid.

Farid yang saat itu berusia 32 tahun berupaya sekuat tenaga ikut menyelamatkan teman-temanya.

Setelah sampai di pinggir, pria yang tinggal di Kelurahan Lateng itu kemudian mengumpulkan sabuk-sabuk milik karateka yang selamat.

Diikatnya sabuk itu hingga membentuk tali panjang, lalu dilempar ke tengah lautan.

”Ujungnya buat bonggol, Alhamdulillah ada beberapa yang bisa diselamatkan,” kata Farid.

Kini setelah 43 tahun peristiwa itu berlalu, Farid mengaku masih tetap sedih saat berada di depan Tugu Inkai.

Dia berharap, para karateka yang terus memperingati kejadian pilu tersebut bisa mengambil hikmah dan tetap menjaga nama perguruan agar tetap berprestasi.

”Sejak kejadian itu, saya tidak ikut lagi semua kegiatan karate. Orang tua juga melarang, tapi saya berharap Inkai tetap berprestasi. Membawa nama baik di semua kejuaraan,” kata kakek tujuh cucu itu.

Ketua Umum Pengcab Inkai Banyuwangi Basuki Rachmad mengatakan, ritual mengenang tragedi Tugu Inkai terus dilakukan perguruannya.

Setiap tahun mereka menggelar latihan bersama yang diikuti semua karateka Inkai di Pantai Boom. Setelah itu acara dilanjutkan dengan upacara penghormatan di Tugu Inkai.

”Semua kami lakukan persis seperti tragedi itu. Kami berlatih dulu, lalu upacara di lokasi kejadian, waktunya juga sama,” jelasnya.

Basuki berharap dengan mengenang peristiwa tersebut, para karateka bisa mengambil hikmah. Sekaligus menjadikan peristiwa itu sebagai sebuah spirit agar terus berlatih dengan semangat tinggi.

”Aksi heroik dua pelatih yang ikut menjadi korban mengajarkan kepada kita bahwa para karateka ikut menjaga semangat. Karateka ini membentuk karakter yang bertanggung jawab,” kata Basuki.

Dandim 0825 Banyuwangi Letkol (Arh) Joko Sukoyo yang ikut hadir dalam peringatan tahunan tersebut mengaku terkejut dengan sejarah Tugu Inkai. Dandim mengaku baru mengetahui ada kisah yang cukup pilu di balik berdirinya Tugu Inkai.

 ”Semoga generasi saat ini bisa mengambil hikmah positif. Karate saat ini menjadi olahraga yang sarat prestasi,” pungkasnya. (fre/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#tenggelam #Tugu #pantai boom #karate #kisah pilu #ujian kenaikan tingkat #inkai #banyuwangi