Kesedihan masih menyelimuti keluarga Bintang Balqis Maulana, 14, yang tinggal di Dusun Kendenglembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore.
Ibu kandungnya Suyanti, 38, sering menangis saat teringat putra bungsunya dari tiga bersaudara yang meninggal secara tragis.
Sejumlah tetangga dan saudara, masih terus berdatangan di rumah keluarga Bintang. Selain menghibur keluarga yang ditinggalkan, juga membantu persiapan pengajian yang digelar.
“Bintang itu anak yang baik, bahkan baik sekali,” terang Sunarto, 45, tetangga korban di Dusun Kendenglembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore.
Pria yang akrab disapa Igo itu menyampaikan Bintang anak yang santun. Tidak hanya kepada keluarganya, tapi juga kepada para tetangga sangat menghormati.
“Dia anak yang tidak neko-neko, tindak tanduknya memang bagus,” kenangnya.
Igo menilai Bintang sebagai anak yang pendiam, selama berada di rumah tidak banyak bicara, atau bahkan nakal.
Bocah itu tidak pernah berani melawan pada orang tua atau bahkan membalas perkataan dengan tindakan.
“Kalau saya oco-oco (dijahili), dia tidak pernah berkomentar apa-apa. Paling marahnya hanya melirik, dia tidak pernah mau melawan dengan kata-kata,” ucapnya.
Kesan yang Bintang tinggalkan kepada keluarga dan para tetangga begitu baik dan indah.
Maka tidak heran, jika para tetangga tidak percaya saat Bintang dibilang anak yang nakal selama tinggal di pondok pesantren.
“Saya tidak percaya kalau Bintang nakal. Dia dan para saudaranya itu semuanya baik, tidak ada yang nakal,” terangnya.
Sifat dan perilaku baik yang dimiliki Bintang merupakan didikan dari sang kakek Buasan, 73.
Dari kecil Bintang, dirawat oleh sang kakek yang kesehariannya bekerja sebagai pencari madu.
“Yang membesarkan Bintang itu ya kakeknya,” kata Igo.
Memori tentang Bintang tidak akan pernah dilupakan oleh sang ibu kandung Suyanti, 38.
Anak bungsunya itu tidak banyak tingkah dan permintaan.
“Dia sangat pendiam dan menurut kalau dibilangi. Saya percaya, insya Allah anak saya ini sholeh,” ucapnya.
Suyanti merasa sedih ketika ada informasi Bintang di pondok anak yang nakal.
Dia tidak percaya saat mendapat kabar kalau Bintang itu sulit disuruh salat, nakal, dan mudah kerasukan.
“Kata pelaku seperti itu, makanya sering memukuli anak saya supaya sadar (kerasukan),” katanya dengan menahan tangis.
Meski semua sudah terjadi, Suyanti berharap keadilan didapatkan Bintang.
Dia hanya berdoa dan berharap Bintang tenang dan bahagia di akhirat.
“Saya yakin anak saya husnul khotimah karena niat menuntut ilmu agama,” pungkasnya.(abi)
Editor : Niklaas Andries