GENTENG, RadarBanyuwangi.id – Laju industri kreatif di Banyuwangi, khususnya dunia desain grafis, berkembang pesat.
Banyak desainer asal Kota Gandrung Banyuwangi berhasil mendunia dengan karyanya.
Salah satunya, Tony Midiyanto, 36, asal Perumahan Permata Valenta, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng.
Warga Banyuwangi mesti bangga. Karena sosok Tony, motif batik gajah oling bisa terpampang di jaket pembalap MotoGP legendaris, Valentino Rossi.
Saat peresmian tim Pertamina Enduro VR46 Racing di Riccione, Italia pada Rabu (24/1) lalu, Valentino Rossi mengenakan jaket resmi tim dengan motif batik yang ciamik di bagian dadanya.
Ilustrator motif batik itu warga asli Banyuwangi, Tony Midiyanto, 36, asal Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng.
Pemuda yang sudah menjadi desainer grafis sejak 2011 itu, menunjukkan kualitasnya setelah berhasil membawa desain buatannya hingga mancanegara.
Kesempatan menggambar desain jaket untuk legenda balap motor kelahiran Kota Urbino, Italia, itu bermula saat Tony dihubungi salah satu brand jaket lokal Indonesia, Iwearzule.
”Saya diminta buat desain dengan tema batik untuk ditaruh di jaket,” katanya sambil membetulkan kacamatanya.
Tony yang memiliki ciri khas seni garis alias line art lalu menyetujui tawaran kerja sama itu dan langsung mengeksekusi desain dengan tema Batik Nusantara.
”Prosesnya cukup panjang, mulai awal Desember 2023, sampai benar-benar di-ACC pada 5 (Januari) kemarin,” ucapnya.
Di motif batik yang dibuat, Tony tidak langsung memadupadankan motif batik dengan tema persatuan.
Ia mengambil beberapa motif batik dari Jawa, Papua, Dayak, Sumatra, hingga motif batik Gajah Oling Banyuwangi.
”Ada lima kali revisi, dan akhirnya motif itu diterima dan dipakai oleh VR 46 (Valentino Rossi),” ungkapnya.
Tony mengaku bangga karena karyanya bisa dipakai oleh idolanya.
Malahan, masyarakat Indonesia, khususnya Banyuwangi harusnya juga angkat topi untuk karya ini.
Motif batik dengan kombinasi warna merah putih dan hitam itu, terlihat gagah dipakai Rossi.
”Saya bangga, ini bisa jadi motivasi. Siapa yang tidak bangga karyanya bisa dipakai legend,” ucapnya.
Rupanya bukan hanya kali ini saja karya bapak tiga anak ini go international.
Tony mengaku sudah pernah bekerja sama dengan Universal Studio, grup band Scorpions, film Star Wars, hingga Deadpool.
”Untuk dalam negeri, desain saya sudah pernah dipakai grup band Dewa 19, sejumlah produk rokok, dan lainnya,” katanya seraya menyebut mayoritas customer-nya datang dari luar negeri.
Seraya menunjukkan beberapa portofolionya, Tony menjelaskan, awal menjadi seorang desain grafis itu tidak mudah.
Ia sudah punya ketertarikan untuk menggambar, sejak masih belajar di bangku SD.
”Dari dulu memang hobi, kalau jago (gambar) atau tidak, ya bisa dibilang biasa saja,” ujarnya.
Dari hobinya itulah, Tony menjadi percaya diri dengan gambaran masa depannya.
Setiap kali ditanya, entah oleh teman, keluarga, atau guru, ia selalu ingin menjadi seorang seniman.
”Sampai SMA tetap seperti itu, kalau ditanya mau jadi apa, saya pasti jawab ingin jadi seniman,” ungkapnya.
Setelah lulus dari SMA Muhammadiyah 2 Genteng, Tony melanjutkan kuliah di Wearnes Malang mengambil jurusan sesuai keinginannya, yakni Desain Grafis.
”Saya ambil D-1, kuliah satu tahun bayarnya Rp 4 juta, meski tidak punya uang. Alhamdullillah, oleh bapak tetap dikuliahkan,” katanya.
Lulus dari Wearnes, pada 2008 Tony mulai bekerja di perusahaan advertising. Dari tempat kerjanya ini, mendapat pemasukan yang lumayan besar, sekitar Rp 2 juta per bulan.
”Pada masa itu Rp 2 juta sudah lumayan besar. Intinya saya bisa hiduplah, apalagi belum menikah,” ungkapnya.
Tony mengaku sejak dulu punya ambisi tinggi untuk mendunia. Ia enggan stuck di titik itu saja. Baginya, tak ada pencapaian yang nyaman.
”Saya keluar dari pekerjaan, pada 2011 memutuskan untuk freelance. Saya ingin keluarkan potensi diri dengan membuat karya sebagus mungkin,” paparnya.
Tahun-tahun pertamanya menjadi desainer grafis freelance memang tak mulus.
Apalagi, ia tak cukup pandai memasarkan hasil karyanya. Terlebih, internet dan situs-situs untuk memasarkan karya desain grafis kala itu masih sangat sulit ditemui.
”Saya unggah portofolio di Instagram dan situs yang bisa dibuat jualan,” jelasnya.
Mengalami tiga tahun pertama penuh penderitaan dengan kesulitan menjual karya, pada 2014 Tony mulai mendapat angin segar.
Karyanya dilirik Universal Studio hingga akhirnya dikontrak untuk menggarap project-nya.
”Sampai sekarang kalaupun ada project, mereka pasti hubungi saya,” katanya.
Sejak saat itulah, Tony mengaku terus mempertebal ilmunya.
Menurutnya, seorang seniman, khususnya di seni grafis harus bisa meng-upgrade kemampuan secara berkala.
Dengan tren yang terus berjalan, seniman harus bisa menyesuaikan.
”Tren itu selalu berubah-ubah, kalau kita tidak bisa mengikuti, pasti akan mati,” katanya.
Meski punya ciri khas tersendiri, Tony mengaku harus tetap mengikuti tren yang ada.
Nantinya, tren itu akan dipautkan dengan gaya line art ciri khasnya.
”Aromanya harus ada dari tren sekarang, kita harus terbuka agar bisa bertahan,” tuturnya seraya menyebut dalam sebulan bisa menggarap sekitar 10 project. (sas/abi/c1)
Editor : Ali Sodiqin