RadarBanyuwangi.id – Salah satu tempat yang ramai diziarahi atau dikunjungi saat berwisata religi di Banyuwangi adalah Situs Kawitan.
Situs ini juga ramai pengunjung saat musim pemilu. Lokasinya berdekatan dengan Pura Giri Griya Saloka Alas Purwo.
Situs Kawitan masuk dalam area Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi.
Situs kawitan ini kerap dikunjungi umat Hindu tidak hanya dari Banyuwangi, namun juga umat Hindu dari Bali.
Butuh waktu sekitar satu jam perjalanan dari gerbang masuk Taman Nasional Alas Purwo untuk sampai di Situs Kawitan.
Aroma dupa langsung tercium menyengat begitu mengunjungi Situs Kawitan.
Aroma tersebut berasal dari dupa sesajen yang baru saja dibakar.
Kawitan berasal dari kata ”wiwitan” yang berarti awal. Adapun situs tersebut berada di tengah hutan yang dikelilingi pepohonan tinggi menjulang.
Lokasinya berdekatan dengan Pura Giri Griya Saloka. Meski lokasinya berada di tepi jalan, namun suasananya sangat mistis.
Tampak luar situs tersebut seperti pura pada umumnya. Ada gapura sebagai pintu masuk dan patung di setiap sisinya.
Lalu ada tumpukan batu yang tersusun mengelilingi situs yang dianggap suci bagi umat Hindu.
Tumbuhan hijau seperti lumut dan paku-pakuan menutupi permukaan batuan yang tersusun. Ini menambah kesan bahwa situs tersebut sudah lama eksis.
Juru kunci Situs Kawitan, Mangku Sulemi mengatakan, situs tersebut baru kali pertama ditemukan pada 1965 oleh beberapa masyarakat sekitar di Kecamatan Tegaldlimo.
Saat itu masyarakat hendak membuka lahan pertanian baru di kawasan tersebut.
Saat tengah membersihkan rerumputan, warga secara tak sengaja melihat tumpukan batu bata.
Karena kurangnya pengetahuan, bongkahan batu bata itu dibawa pulang ke rumah. Kemudian batu bata tersebut digunakan sebagai perabotan rumah.
Masyarakat menggunakan batu bata tersebut sebagai tungku dapur. Ada pula yang menggunakan batu bata itu sebagai teras rumah.
”Tak berselang lama, mereka yang mengambil bebatuan tersebut banyak yang menerima musibah hingga jatuh sakit dan beberapa meninggal dunia,” ujar Mangku Sulemi.
Beberapa hari kemudian, secara bersamaan mereka bermimpi diminta untuk mengembalikan batu tersebut ke tempat asalnya.
Lalu dengan dipandu pemuka agama setempat, akhirnya mereka mengembalikan batu tersebut. Sejak itu, kawasan tersebut disakralkan dan dilindungi.
Gapura Situs Kawitan mengarah ke timur. Bentuk gapuranya menyerupai gapura Kerajaan Majapahit dengan jalan setapak berwarna putih seperti menambah kesan spiritual yang amat tinggi.
Di bagian dalam situs terdapat bongkahan batu besar yang tersusun, dibalut kain warna kuning.
Bagian atas bongkahan batu tersebut digunakan untuk meletakkan sesajen persembahyangan.
Sejak saat itulah umat Hindu di kawasan tersebut sangat menghormati dan merawat Situs Kawitan.
Bersamaan dengan umat Hindu Bali, mereka membangun pura yang amat megah yang lokasinya sekitar 20 meter dari Situs Kawitan dan diberi nama Pura Giri Selaka.
Adapun Situs Kawitan menjadi tujuan utama ketika ada peribadatan yang dilakukan umat Hindu dari berbagai daerah.
Di antaranya untuk peribadatan Hari Raya Galungan, Kuningan, dan sebagainya.
Mitosnya, siapa pun yang mengajukan permohonan dan mencari petunjuk di Situs Kawitan, bakal dikabulkan.
Karena itu, masyarakat berbagai lapisan, mulai dari para pejabat dari orde baru hingga pascareformasi, banyak yang melakukan pertapaan hingga membawa bunga dan dupa di Situs Kawitan.
”Yang datang ke sini dari berbagai kalangan masyarakat umum, serta tidak ada batas antaragama. Mereka bisa memohon supaya diberi petunjuk,” jelas Mangku Sulemi.
Termasuk ketika musim pemilu, tidak sedikit mereka yang memiliki hajat ingin menjadi pemimpin juga mendatangi Situs Kawitan untuk memohon agar doanya dikabulkan.
Tidak hanya dari umat Hindu melainkan dari berbagai agama dan penganut kepercayaan. (ddy/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin