RadarBanyuwangi.id – Ragam inovasi dicetuskan masyarakat Kampung Mandar agar lingkungan tempat tinggal mereka yang berdekatan dengan pantai sedap dipandang mata.
Tahun ini Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Mandar mengoperasikan perahu sampah untuk membersihkan perairan dari tumpukan sampah di muara plengsengan.
Tahun 2017 Kampung Mandar sempat mendapatkan predikat sebagai kampung terkumuh di Banyuwangi.
Tumpukan sampah mengapung di dekat perahu yang sandar di pantai seolah menjadi pemandangan yang lumrah.
Perlahan-lahan masyarakat pesisir yang tinggal berbatasan dengan Pantai Marina Boom berupaya mengatasi permasalahan sampah.
Kotoran-kotoran di area permukiman mereka bersihkan. Masyarakat Kampung Mandar terus berbenah.
Dengan penuh kesadaran mereka tidak lagi sembarangan membuang sampah di sekitar permukiman.
Yang masih kerap terjadi hingga kini, warga setempat harus berjibaku mengatasi problem sampah di wilayah muara Boom.
Sampah yang sebagian besar adalah kiriman dari hulu sungai menumpuk di area muara.
Digawangi orang-orang yang tergabung dalam Pokdarwis Kampung Mandar, masyarakat kemudian membersihkan sampah yang menumpuk dengan cara manual.
Ketua Pokdarwis Kampung Mandar Hilmansyah Anwar menceritakan, sampah di area parkir perahu tak hanya mengganggu kebersihan dan pemandangan.
Kerap kali, perahu nelayan yang hendak melaut macet karena baling-baling kapal tersangkut sampah popok atau sampah plastik.
Hilman bersama dengan anggota Pokdarwis bergerak cepat membersihkan sampah dengan cara manual menggunakan galah yang sudah dimodifikasi.
Mereka berjalan di pinggir plengsengan sembari memunguti sampah-sampah. Dalam sehari, lebih dari satu kuintal sampah berhasil mereka kumpulkan.
Sampah pantai tersebut kemudian diangkut menggunakan kendaraan roda tiga menuju tempat penampungan sampah.
”Setiap hari ada sampah di tepi muara. Sampah tersebut kiriman dari hulu sungai. Kalau dari warga sekitar sudah tidak ada. Apalagi mereka ikut mengawasi,” kata Hilman.
Tahun 2023, berbekal corporate social responsibility (CSR) dari perusahaan BUMN, Pokdarwis Kampung Mandar punya kesempatan untuk bisa meng-upgrade teknik membersihkan sampah di muara.
Berbekal modal Rp 19 juta, Hilman dkk membuat sebuah perahu sampah berbahan fiber yang bisa dioperasikan satu orang saja.
Pembuatannya dilakukan secara mandiri dengan menggunakan tangan terampil para nelayan.
Akhirnya, jadilah sebuah perahu sampah berukuran 5 x 2 meter dengan mesin berkekuatan 20 PK.
Perahu bermodel katamaran itu dibuat dengan sederhana sehingga mobilitasnya cukup fleksibel.
Perahu fiber tersebut tak hanya membersihkan satu sisi muara, tapi bisa bergerak menuju Pulau Giliwangi kawasan Marina Boom untuk membersihkan sampah.
”Perahu ini bisa dioperasikan satu orang saja, di bagian tengah ada jaring yang bisa menampung sampah. Tinggal jalan saja, nanti sampahnya masuk ke dalam jaring,” imbuh Hilman.
Setiap hari, selama satu jam, perahu sampah mengelilingi muara plengsengan sepanjang 800 meter.
Hilman mengatakan, ada 15 anggota Pokdarwis dan Poklahsar (Kelompok Pengolahan dan Pemasaran) yang bergantian mengoperasikan perahu sampah.
”Bersih-bersih dilakukan jam 2 siang bersamaan dengan menumpuknya sampah. Kami sesuaikan juga dengan kondisi di laut. Dalam waktu satu jam kami bisa kumpulkan 1 kuintal sampah,” ungkapnya.
Dengan kehadiran perahu fiber, proses pembersihan sampah di muara menjadi lebih mudah. Sampah yang terkumpul kemudian dipilah.
Ada yang bisa dijual seperti sampah plastik. Ada juga yang diambil warga yang punya budi daya magot.
Sisanya dibuang ke arm roll milik DLH (Dinas Lingkungan Hidup) di dekat Pantai Boom.
Meski baru dua bulan berjalan, Hilman berharap perahu sampah tersebut bisa mengurangi penumpukan sampah di muara Kampung Mandar.
Setidaknya, para nelayan yang memarkir perahu di tepi muara tak lagi khawatir mesinnya mati akibat terlilit sampah.
”Ke depannya perahu ini bisa dijadikan perahu wisata. Dirancang dengan kursi duduk berhadapan. Perahu ini cukup untuk mengangkut delapan orang. Selesai mengambil sampah, bisa digunakan untuk mengangkut wisatawan,” pungkas Hilman. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin