Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Setiap Jelang Pemilu, Makam Wali Abu Hasan Basri di Tegaldlimo Selalu Ramai Dikunjungi Peziarah

Agus Baihaqi • Sabtu, 13 Mei 2023 | 21:00 WIB
PANJATKAN DOA: Sejumlah peziarah berdoa di makam Wali Abu Hasan Basri di Dusun Sumberkepuh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Jumat (12/5). (Lugas Rumpakaadi/Radar Genteng)
PANJATKAN DOA: Sejumlah peziarah berdoa di makam Wali Abu Hasan Basri di Dusun Sumberkepuh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Jumat (12/5). (Lugas Rumpakaadi/Radar Genteng)
TEGALDLIMO, Radar Genteng – Makam Wali Abu Hasan Basri di Dusun Sumberkepuh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, ini cukup terkenal di Banyuwangi Selatan. Selama ini banyak didatangi warga.Setiap akan ada pemilihan umum (pemilu), peziarah yang datang meningkat.

Lokasi makam Wali Abu Hasan Basri atau yang dikenal Mbah Wali Hasan, berjarak sekitar 10 kilometer dari Kantor Kecamatan Tegaldlimo. Lokasi makam yang berada di pinggir jalan raya menuju Taman Nasional Alas Purwo (TN AP), sangat mudah dicari.

Di sepanjang jalan menuju pesarean waliyullah ini, ada papan petunjuk menuju arah makam. Hampir semua warga yang tinggal di Desa Kedungwungu dan beberapa desa sekitar, seperti Desa Kedungggebang dan Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, mengetahui letak makam  yang dikeramatkan itu.

Pintu masuk menuju makam, berupa bangunan gapura besar dengan lebar sekitar enam meter dan tinggi tiga meter. Di samping gapura tertulis jelas, Makam Mbah Wali Abu Hasan Basri. Sementara di gapura sebelah kanan ada relief  Pangeran Diponegoro.

Setelah memasuki jalan kecil dengan lebar tiga meter, sepintas tidak tampak ada makam. Yang terlihat hanya bangunan kecil mirip musala yang menyatu dengan rumah. Di musala dengan ukuran lima meter kali enam meter itu, ada sumur dan tempat wudu.

Di musala itu ada lorong kecil dengan lebar sekitar satu meter. Lorong itu menuju makam Mbah Wali Hasan. Pada dinding dekat lorong, ada tulisan daftar buku tamu. Juru kunci makam, Walijan, 81, beristirahat di sekitar musala itu sambal menunggu peziarah yang datang. Kakek yang sudah menjadi juru kunci sejak 1985 itu, menyampaikan para peziarah setiap hari selalu berdatangan. Terutama saat malam Jumat atau Sabtu malam Minggu Pahing. “Hampir setiap hari ada warga yang datang,” katanya.

Kedatangan para peziarah, tidak mengenal waktu. Mereka ada yang datang saat Ramadan, dan tidak sedikit yang berziarah pada bulan-bulan lainnya. “Kalau harian, ada satu atau dua orang yang datang. Ramainya tiap malam Jumat dan saat waktu pasaran meninggalnya Mbah Wali,” terangnya.

Walijan mengaku tidak tahu pasti sejarah perjalanan Mbah Wali Hasan. Yang diketahui, Mbah Wali ini pengembara dan penyebar agama Islam dari Cirebon, Jawa Barat. “Datang ke sini tahun berapa, tidak ada yang tahu,” ujarnya.

Warga sekitar yang kerap mengunjungi makam, Patah Pujiyanto, 40, mengatakan makam Mbah Wali Hasan banyak didatangi saat akan Pemilu. Para calon bupati dan anggota DPR, banyak yang datang sebelum menuju Alas Purwo. “Biasanya kesini dulu, baru ke Alas Purwo,” tuturnya.

Mantan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan Bupati Ipuk Fiestiandani, juga pernah berziarah ke makam ini. Selain itu, juga ada anggota DPR. Mereka itu berziarah dan berdoa khusus. “Minta restu sebelum mencalonkan diri sebagai pemimpin,” ungkapnya.

Peziarah yang datang tidak hanya dari Banyuwangi, ada juga yang berasal dari luar kota seperti Cirebon, Semarang, Sulawesi, Kalimantan, Madura, dan berbagai kota lain. “Ada juga yang menginap selama beberapa hari,” pungkasnya.(gas/abi) Editor : Agus Baihaqi
#ziarah kubur