Ketika melintas di Jalan Adi Sucipto, Kelurahan Sobo, Banyuwangi, Anda bisa melihat pemandangan yang cukup mengharukan. Hampir setiap hari, sepasang lansia berjalan menyusuri jalan. Sang suami berusaha keras menuntun sepeda pancal yang memuat puluhan sapu lidi. Sedangkan istrinya dengan sabar mendampingi sang suami dari belakang.
Keduanya adalah Mansur, 80, dan Jamila 70. Pasangan lansia tersebut berasal dari Lingkungan Pelampang, Kelurahan Pakis, Banyuwangi. Kedua pasutri tersebut begitu sabar, ulet, dan setia. Bagaimana tidak, penglihatan Mansur yang sudah melemah membuatnya kesulitan apabila harus bekerja sendiri. Di situlah Jamila mendampingi suaminya selama bekerja menjual sapu lidi di sekitaran Kota Banyuwangi.
Mansur dan Jamila selalu berangkat pukul 07.00 dari rumahnya. Sembari menuntun sepeda kayuh, Mansur menawarkan dagangannya. Pukul 14.00 keduanya kembali pulang ke rumah. ”Mbah Lanang (panggilan Jamilah kepada Mansur) sudah tidak bisa melihat jelas, jadi harus saya temani,” ujar Jamila.
Sehari-harinya Mansur membawa 22 ikat sapu korek untuk dijual. Setiap ikat dijual seharga Rp 10 ribu. Layaknya penjual yang lain, tidak ada jaminan seluruh dagangannya selalu habis terjual. Sehari berkeliling kota, kadang hanya terjual dua ikat sapu.
Meski demikian, rasa syukur tak pernah berhenti mereka ucapkan. Mansur punya prinsip, rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Manusia hanya perlu untuk terus berusaha dan berdoa. ”Tasek saget melampah, dadose nggih sadean (masih bisa berjalan, jadinya tetap berjualan),” ucap Mansur dengan nada pelan.
Sebelumnya, Mansur dan Jamila mencari nafkah sebagai buruh tani. Keduanya bekerja apabila ada panggilan untuk mengolah sawah. Namun, semakin tua, tenaga dan penglihatan keduanya tak sebaik sebelumnya. Sehingga, mereka memilih untuk berhenti sebagai buruh tani. ”Mboten kiat ajenge tani (tidak kuat mau bertani),” timpal Jamila.
Dagangan sapu lidi bukan hasil karya mereka. Mansur mengambil barang dari pembuat sapu lidi untuk dijualnya. ”Kalau ditinggal sendiri Mbah Lanang ya tidak bisa. Jalan beberapa meter harus berhenti untuk istirahat,” kata ibu satu anak itu.
Menurut Jamila, tidak ada waktu untuk berhenti bekerja. Selama mereka mampu, Mansur dan Jamila bertekad tidak ingin menyusahkan anak. Mengingat anak semata wayangnya kini sudah memiliki keluarga sendiri.
Entah habis atau tidak dagangannya, mereka memutuskan pulang jika waktu beranjak sore. Rutinitas tersebut telah dijalani Mansur dan Jamila selama bertahun-tahun. ”Pulang tak sampai sore, sampai rumah bikinkan makanan berbuka untuk Mbah Lanang,” ujar Jamila sembari menyeka keringat di dahinya. (rei/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud