Camat Genteng, Satrio mengatakan Agus dipindahkan ke hunian yang lebih layak dari kolong jembatan sejak Kamis (1/9) lalu. “Sementara kami koskan dulu, biar tidak terus-terusan tinggal di bawah jembatan,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Biaya selama Agus menetap di rumah kos seharga Rp 300 ribu per bulan, akan ditanggung Pemerintah Desa Genteng Kulon. “Kemarin sudah koordinasi dengan pemerintah desa, katanya biaya akan ditanggung desa,” katanya.
Meski sudah menetap di tempat kos yang layak, Camat menyebut tetap akan membangunkan rumah di tanah strain Pengairan yang berlokasi di utara Jembawan Setail. “Ini sementara saja, sampai pembangunan rumah (untuk Agus) selesai,” cetusnya.
Pembangunan rumah itu, masih kata Camat, akan menggunakan dana kolektif dari berbagai pihak. “Dananya swadaya, saya nanti bantu semen, nanti ada yang bantu material juga,” katanya seraya menyebut proses pembangunan akan segera dilakukan.
Kepala Dusun Kopen, Sugeng Widodo mengatakan sudah mengenalkan Agus Santoso kepada ketua RT dan warga lainnya yang ada di kampung itu. “Seperti biasa, kalau ada warga yang baru pindah, langsung kami kenalkan dengan lingkungan,” ujarnya.
Menurut Sugeng, saat ini Agus sudah memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan Kartu Keluarga (KK) sendiri. “Sudah selesai semua (KK dan KTP), alamatnya sesuai dengan alamat calon rumah yang akan dibangun, kalau ada program bantuan bisa diikutkan,” cetusnya.
Seperti yang diberitakan harian ini sebelumnya, Agus Santoso, 70, yang tinggal di bawah jembatan Sungai Setail yang menghubungkan Desa Genteng Kulon dengan Desa Setail Kecamatan Genteng, memilih bertahan dan menolak dikembalikan ke daerah asalnya di Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo.
Saat ditemui Camat Genteng Satrio bersama salah satu stafnya, Agus ditawari untuk diantar pulang ke rumahnya keluarganya di daerah Kecamatan Bangorejo. Tapi, tawaran itu ditolak. “Saya kerasan di sini, dan saya juga tidak punya apa-apa di sana (Bangorejo),” kata Agus Santoso. (sas/abi) Editor : Agus Baihaqi