Septian Dwi Cahyo warga setempat mengatakan, warga Talkandang cukup kompak dalam menanam Bunga Melati. Mereka tak hanya menanam bunga di halaman rumahnya. Tetapi, juga di sawah yang seharusnya ditanami jagung dan padi diubah menjadi lahan tanaman bunga melati.
"Kalau di desa ini (Talkandang) khususnya di RW 1 dan RW 2, Melati ditanam di depan dan di belakang rumah warga. Bunga Melati di sini dijadikan pagar. Jadi kalau boleh sombong, uang kita ada di pagar-pagar," ungkap Septian sambil tertawa.
Kata dia, banyak yang menjadikan Bunga Melati sebagai sumber penghasilan. Khususnya, bagi ibu rumah tangga. Sehingga penghasilan tidak hanya didapatkan oleh suaminya. Hasilnya juga lumayan. Bahkan bisa juga mengalahkan penghasilan sang suami.
"Harga melati itu, khusus yang pesanan ada yang tembus sampai Rp 500 ribu. Kalau yang dijual setiap hari yang dijual untuk di bawa ke pemakaman Rp 5000. Kalau Rp 5000 kali 10 orang kan banyak juga," imbuh Septian.
Menurutnya, bunga yang harumnya khas itu hampir setiap hari dipanen. Sehingga, warga harus mensiasati bagaimana cara penjualannya setiap kali ada pembeli. Sebab, bunga tersebut tidak tahan lama. Begitu selesai dipanen, biasanya akan layu dalam waktu tiga hari. "Petani Bunga Melati harus menjual dengan cara bergantian, kalau hari Minggu bagian RT 1 RW 1. Keesokan harinya sudah bagian RT 3 RW 1. Kalau tidak begitu kan kasihan sama pemilik bunga yang lain," jelasnya.
Masih kata Septian, untuk pembeli Bunga Melati, juga ada hari dan bulan-bulan tertentu. Bisanya kalau setiap minggu, yang paling ramai ketika hari Kamis. Soalnya keesokan harinya banyak orang yang mau ziarah ke makam. Lain lagi kalau musiman perbulan. Biasanya paling banyak ketika Bulan Maulid. "Kalau bulan Maulid pokonya pesanan itu banyak. Kadang bunga yang begitu banyak tidak cukup memenuhi pesanan," cetusnya.
Dia juga menjelaskan, penghasilan yang paling besar bagi pengrajin/petani bunga ketika ada yang memesan melati hias. Pesanan seperti itu biasanya ketika ada hajatan atau kegiatan kegiatan formal. "Kalau lagi ada pengajian, biasanya kan ada pengalungan bunga, apalagi kemantenan," pungkas Septian. (hum/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal