Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Belajar Sejak 1950, Setahun Baru Bisa Belajar Cengkok

Ali Sodiqin • Kamis, 27 Mei 2021 | 01:00 WIB
belajar-sejak-1950-setahun-baru-bisa-belajar-cengkok
belajar-sejak-1950-setahun-baru-bisa-belajar-cengkok


RadarBanyuwangi.id – Tradisi mocoan lontar di Kelurahan/Kecamatan Giri masih minim. Jarang peminat pembaca lontar Yusuf yang bisa menguasi hingga hafal kitab. Seperti Yusieni, 66, warga Lingkungan Karangente, Kelurahan/Kecamatan Giri. Belajar sejak usia 44 tahun, baru bisa belajar cengkok dengan lontar Yusuf saja.



Banyak mocoan lontar berkembang di sejumlah daerah. Sebab, di masa sekarang, peminat kegiatan ini semakin meningkat. Ratusan tahun lalu, mocoan lontar merupakan sebuah kegiatan yang banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Tidak terkecuali, dilakukan masyarakat Banyuwangi.



Namun, masih ada sejumlah masyarakat yang ternyata peduli keberadaan kesenian tersebut. Segelintir orang inilah yang berusaha menghidupkan kembali tradisi yang sudah jarang digandrungi masyarakat tersebut. Beberapa daerah di Banyuwangi memiliki komunitas mocoan agar kesenian ini terus hidup di tengah masyarakat. Salah satunya adalah komunitas mocoan di Kelurahan Giri, Kecamatan Giri.



Dari tradisi adat kampung di Lingkungan Krajan, Kelurahan/Kecamatan Giri, terdengar lantunan merdu tembang-tembang. Suara tersebut berasal dari para peserta mocoan yang sedang berlatih di rumah tersebut. Tepat pada 10 hari Raya Idul Fitri ini sedang berlangsung tradisi adat bersih kampung.



Ketua Lontar Yusuf, Yusieni mengatakan, lontar yusuf itu bertujuan untuk melestarikan kebudayaan di Banyuwangi. Tradisi ini sudah dilaksanakan sejak dahulu, entah tahun berapa tepatnya. "Alhamdulillah, peminatnya lumayan banyak," ujar pria berusia 66 tahun itu.



Dalam pelaksanaan lontar Yusuf itu, hanya dilakukan empat orang penembang atau pembaca. Lontar yusuf dilaksanakan setelah tradisi bersih kampung selesai. ''Hanya empat orang yang melakukan mocoan, dengan cara bergantian. Warga lainnya hanya cukup menyimak isi lontar Yusuf,'' katanya.



Lontar di Banyuwangi tidaklah sedikit. Tetapi, yang biasa dibaca oleh warga Kelurahan/Kecamatan Giri adalah Lontar Yusuf. Moco lontar diyakini oleh masyarakat mengandung hal-hal yang magis. "Ada doa dan mantra tertentu dalam setiap lontar," terangnya.



Oleh karena itu, lontar sering dibaca pada momen tertentu sebagai doa. Salah satunya, lontar Yusuf yang sering dibaca pada acara pernikahan, khitanan, dan acara lain. Ada juga Lontar Ahmad yang biasa dibaca pada acara melahirkan. "Untuk Lontar Yusuf dapat berfungsi sebagai doa untuk menolak musibah dan kesialan," paparnya.



Di Kelurahan/Kecamatan Giri, kelompok mocoan memang cukup jarang. Padahal, kelompok mocoan lontar di Banyuwangi sekarang sudah mulai tersebar disejumlah wilayah. "Hampir setiap kampung di Banyuwangi sudah ada kelompok mocoan, hanya saja tidak terlalu menonjol. Karena hanya digunakan hanya saat acara tertentu saja," ungkapnya.



Membaca lontar memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Pasalnya tulisan pada lontar menggunakan hurup Arab, sedangkan bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa kuno. Cengkok atau lagu yang digunakan adalah tembang khas setiap wilayah. "Setiap orang cengkoknya memiliki khas masing-masing, karena mereka memiliki cara tersendiri dalam mocoan tersebut," jelasnya.



Untuk belajar lontar sendiri, memang tidaklah mudah. Yusieni belajar sejak usia 44 tahun lalu, baru bisa menguasi satu lontar. Bahkan saat belajar itu, dirinya sempat putus asa. ”Sempat mutung (putus asa), karena memang cukup sulit membaca tulisan arab yang dibaca dengan cengkok,” katanya.



Sebenarnya, jika belajar secara konsisten. Lontar Yusuf bisa dikuasai hanya enam bulan saja. Sehingga, dalam kurun waktu satu tahun sudah bisa hafal. ”Initinya harus dari niat dalam hati jika belajar,” pungkasnya. (rio)


Editor : Ali Sodiqin
#budaya #adat