Setiap hari, sebanyak 70 lansia di Panti Jompo (UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha) mendapatkan pelayanan ekstra layaknya di dalam keluarga sendiri. Di balik kemudahan tersebut, ada sejumlah wanita yang bertugas secara langsung mengurusi para lansia.
SHULHAN HADI, Glenmore
MENJADI pengasuh orang-orang lanjut usia tentu tidak kalah merepotkan dibanding dengan mengasuh anak kecil atau balita. Bedanya, jika anak kecil lebih banyak menggemaskan, para lansia tentu sebaliknya.
Kondisi inilah yang harus dihadapi petugas di panti jompo Tresna Werdha setiap hari. Sejumlah tugas di panti jompo tersebut dilakukan para perempuan yang telah mengabdikan diri bertahun-tahun
Siang kemarin, saat para lansia sedang asyik mengikuti kegiatan di aula, Jawa Pos Radar Banyuwangi berkesempatan menemui sejumlah petugas perempuan di balik layar. Bersama petugas lainnya, mereka bertugas menyiapkan seluruh kebutuhan dan keperluan lansia, mulai dari sarapan hingga persiapan sabun untuk mandi dan memandikan lansia.
Dari delapan perempuan yang berhasil ditemui ini, tugas yang mereka emban berbeda-beda, mulai dari juru masak, mencuci pakaian, pembimbing pengasuh, dan tenaga medis. Namun, mereka memiliki tugas yang dilakukan secara bersamaan, yaitu mengepel lantai yang biasanya dimulai sekitar pukul 07.00.
Cerita lucu pun banyak mereka alami. Kegiatan paling pagi adalah aktivitas memasak di dapur. Dua perempuan yang bertugas di sini adalah Maryam, 38, dan Suparti, 45. Keduanya harus memulai aktivitas sejak pukul 05.00. Aktivitas masak ini memiliki cerita tersendiri.
Mereka setiap hari bertugas menyiapkan menu berbeda kepada lansia. ”Sehari itu kita masak tiga kali, menunya beda,” ucap Maryam.
Dibandingkan dengan menu yang mereka sajikan untuk keluarga di rumah, menu untuk para lansia jauh lebih mewah. Menu-menu mulai dari rawon, daging, dan semua masakan yang berkualitas secara gizi harus mereka siapkan. ”Di sini rawon, daging disajikan berkala, yang jarang cuma sambal,” jelasnya.
Jika di panti mereka menyiapkan tiga kali masakan setiap hari, di rumah justru mereka hanya memasak sekali. ”Masak di rumah ya sekali saja, saat istirahat kita pulang,” kata Maryam.
Selain mereka berdua sebagai juru masak, ada lagi petugas pelayanan, yakni Sunarti, 54. Perempuan asli Bangil ini bertugas memastikan kebutuhan logistik seperti sabun, perlengkapan para lansia tersedia. Sedangkan untuk tanggung jawab kebersihan pakaian dan perlengkapan lansia, setiap hari dua petugas bernama Sulasmi, 41, dan Erin Kumalasari, 22, bertugas mencuci baju lansia ini.
Tidak sembarang mencuci seperti di rumah, untuk menjalankan pekerjaan ini, mereka harus menggunakan perlengkapan yang menutup seluruh anggota badan. Perlakuan khusus ini tidak lain agar mereka tetap steril dan terhindar dari potensi tertular penyakit. ”Yang kami cuci ini kan bajunya lansia-lansia yang golongan sakit,” ungkapnya.
Dibandingkan dengan tugas yang lain, tugas mencuci pakaian ini memiliki ”masa panen”. Saat musim diare, baju perlengkapan lansia sangat berbeda dan dipenuhi kotoran. ”Lha kalau normal saja banyak yang bocor, apalagi saat musim diare, kami menyebutnya panen,” ucap Sulasmi diikuti tawa Erin dan petugas lainnya.
Saat baju ini sudah selesai dicuci dan dikeringkan, tugas para perempuan ini tidak berhenti begitu saja. Banyak lansia yang benar-benar tidak bisa melakukan pekerjaan secara mandiri, seperti memakai baju atau melakukan kegiatan bersih-bersih.
Untuk memudahkan pekerjaan tersebut, mereka dibantu oleh Suwaibah, 41, dan Ummu Azizah, 41. Dua petugas ini mengaku kebiasaan lansia tidak jauh dengan anak-anak. ”Mereka ini seperti kembali menjadi anak-anak, ngalem,” terangnya.
Meski semua hal dari makanan dan pakaian sudah diperhatikan dan dipermudah oleh petugas, namun untuk urusan kesehatan mereka tetap saja sering mengalami gejala penyakit seperti diare dan sakit perut.
Setiap hari, petugas medis, Diana Efendi, 31, selalu rutin melakukan pemeriksaan. Anehnya para lansia ini justru sering berpura-pura sakit. Setiap kali usai pemeriksaan, Diana mengaku tidak jarang melihat obat yang diberikan hanya disimpan di bawah bantal lansia. ”Mereka ini seperti butuh perhatian Mas, tidak sakit ya bilangnya sakit,” ucapnya.
Menariknya, aksi pura-pura sakit ini sering dilakukan secara bergantian. Dalam hal ini, petugas tidak punya pilihan lain selain tetap menjalankan pelayanan. Untuk mengurangi mubazir, resep yang diberikan cukup untuk sekali minum. ”Kalau memberikan obat ya yang diminum saat itu juga, nanti berikutnya diberi lagi, kalau tidak begitu dibuang,” tandas Diana.