Harga Cabai Rawit Tembus Rp58 Ribu, Petani Purwoharjo Kelimpungan Pasokan Air

Zamrozi Wahyu • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 07:00 WIB
LIHAT TANAMAN: Petani cabai sedang mengecek kondisi cabai rawit di persawahan Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo, Jumat (25/9). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
LIHAT TANAMAN: Petani cabai sedang mengecek kondisi cabai rawit di persawahan Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo, Jumat (25/9). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Harga cabai rawit di tingkat petani Banyuwangi belum juga beranjak dari level tinggi. Sejak awal September hingga Jumat (25/9), harga bertahan di atas Rp50 ribu per kilogram. Di Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo, harga saat ini berada di kisaran Rp55 ribu–Rp58 ribu per kilogram, setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp65 ribu.

Harga tinggi tersebut menjadi kabar baik dari sisi nilai jual. Namun, di balik mahalnya cabai rawit, petani justru menghadapi tantangan berat. Cuaca panas yang berlangsung terus-menerus membuat pasokan air ke lahan semakin terbatas. Tanaman cabai pun rentan rusak jika tidak mendapat perawatan ekstra.

Salah satu petani cabai rawit, Irfan, 34, mengatakan harga cabai di tingkat petani cenderung stabil tinggi sepanjang September. Padahal, komoditas tersebut biasanya mengalami perubahan harga cukup cepat.

"Harga cabai itu biasanya naik turun. Selisihnya dalam hitungan hari bisa jauh dan pergantian harga bisa hitungan jam. Kalau sejak awal bulan, harganya tidak pernah anjlok dari Rp50 ribu, bahkan pernah naik di Rp65 ribu per kilogram," katanya, Jumat (25/9).

Panas Menyengat, Tanaman Cabai Mulai Keriting

Menurut Irfan, tingginya harga cabai rawit tidak terlepas dari kondisi lahan petani yang menghadapi cuaca panas dan keterbatasan air.

Minimnya aliran air menuju persawahan membuat tanaman cabai membutuhkan perhatian lebih. Tanaman yang kekurangan air berisiko mengalami kerusakan, termasuk daun yang layu dan keriting.

"Panas menyengat dan minim air, tanaman banyak yang layu dan keriting. Kalau petani yang sawahnya ada sumurnya enak, airnya bisa tercukupi. Tetapi kalau tidak ada, biasanya ambil dari rumah dan harus bolak-balik," ujar pria asal Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, tersebut.

Kondisi itu membuat petani harus mengeluarkan tenaga tambahan untuk memastikan tanaman tetap mendapatkan air. Harga cabai yang tinggi pun tidak otomatis berarti petani bisa menikmati keuntungan lebih besar tanpa beban biaya tambahan.

Irigasi Sulit, Petani Harus Angkut Air

Persoalan serupa dirasakan petani cabai lainnya di Kecamatan Purwoharjo. Sukayin, 52, mengatakan memasuki musim kemarau membuat aliran irigasi ke lahan persawahan semakin sulit.

Sistem pengairan yang sebelumnya mengandalkan giliran tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan tanaman. Karena itu, sebagian petani memilih mencari cara lain agar tanaman tidak kekurangan air.

"Biasanya aliran air itu giliran. Tetapi karena membutuhkan waktu, para petani kebanyakan memilih dengan cara manual. Kemarin saya menyirami tanaman di sawah membawa air dari rumah," ungkapnya.

Bagi petani yang tidak memiliki sumber air sendiri, menyewa sumur menjadi salah satu pilihan. Biayanya berkisar Rp25 ribu hingga Rp50 ribu per jam, tergantung kapasitas mesin yang digunakan.

"Kalau per jam Rp50 ribu biasanya untuk mengaliri sawah seperempat bahu membutuhkan waktu sekitar lima sampai enam jam," terangnya.

Hitungannya, biaya penyewaan pompa untuk satu kali pengairan bisa mencapai sekitar Rp250 ribu hingga Rp300 ribu. Kondisi tersebut menjadi tambahan beban di tengah kebutuhan petani menjaga tanaman cabai agar tetap produktif.

Harga Tinggi di Tengah Tantangan Produksi

Harga cabai rawit yang bertahan di atas Rp50 ribu per kilogram sejak awal September menunjukkan pasokan di tingkat petani masih menghadapi tekanan. Di sisi lain, musim kemarau membuat proses produksi membutuhkan tenaga dan biaya lebih besar.

Petani kini harus menjaga keseimbangan antara mempertahankan tanaman tetap hidup, memenuhi kebutuhan air, dan memanfaatkan harga jual yang sedang tinggi.

Jika pasokan air terus terbatas, kualitas tanaman dan hasil panen menjadi tantangan berikutnya. Sebab, cabai yang mahal di tingkat petani tidak serta-merta menghapus persoalan yang dihadapi dari lahan. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
kemarau Banyuwangi cabai Banyuwangi Petani Purwoharjo harga cabai harga cabai rawit