IHSG Turun 0,33 Persen di Akhir Pekan, Rupiah di Rp17.700-an, Emas Antam Naik Rp25.000

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 17:04 WIB
Perdagangan Jumat, 18 September 2026, ditandai pelemahan IHSG sebesar 0,33 persen, rupiah yang relatif stabil di kisaran Rp17.700 per dolar AS, dan kenaikan harga emas Antam sebesar Rp25.000 menjadi Rp2.623.000 per gram. (ChatGPT)
Perdagangan Jumat, 18 September 2026, ditandai pelemahan IHSG sebesar 0,33 persen, rupiah yang relatif stabil di kisaran Rp17.700 per dolar AS, dan kenaikan harga emas Antam sebesar Rp25.000 menjadi Rp2.623.000 per gram. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Pasar keuangan Indonesia menutup perdagangan Jumat (18/9), dengan arah yang berbeda.

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG gagal mempertahankan penguatan pada pagi hari dan berakhir turun 0,33 persen.

Rupiah bergerak relatif stabil di kisaran Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS), sedangkan harga emas Antam justru naik Rp25.000 menjadi Rp2.623.000 per gram.

Perbedaan arah ketiga aset tersebut bukan peristiwa yang berdiri sendiri.

Kenaikan suku bunga Amerika Serikat, perubahan imbal hasil obligasi pemerintah AS, penurunan harga minyak, aksi investor asing, hingga penantian terhadap keputusan Bank Indonesia sedang membentuk pertimbangan pelaku pasar.

Secara sederhana, perdagangan Jumat memperlihatkan satu pola, yakni minat terhadap aset berisiko masih terbatas, tekanan terhadap rupiah mulai tertahan, sedangkan emas memperoleh dukungan dari perubahan kondisi global dan nilai tukar.

Gambaran pasar pada Jumat dapat diringkas sebagai berikut:

Mengapa IHSG berbalik turun setelah sempat menguat?

IHSG sebenarnya memulai perdagangan dengan cukup kuat.

Berdasarkan data IDX Mobile yang dikutip Bisnis.com, indeks dibuka pada level 6.512,57 dan sempat mencapai 6.521,02.

Namun, penguatan tersebut tidak bertahan.

IHSG kemudian berbalik turun hingga menyentuh 6.419,49 sebelum ditutup pada 6.441,16.

Bisnis.com, dengan mengutip data IDX Mobile, melaporkan IHSG kehilangan 21,27 poin atau 0,33 persen.

Sebanyak 212 saham menguat, tetapi 464 saham melemah dan 287 saham tidak berubah.

Nilai transaksi mencapai Rp19,06 triliun dengan volume 30,38 miliar saham.

Angka-angka tersebut memberikan informasi lebih banyak daripada sekadar penurunan indeks sebesar 0,33 persen.

Jumlah saham yang turun lebih dari dua kali lipat jumlah saham yang naik menunjukkan bahwa tekanan terjadi cukup luas.

Tekanan juga terlihat pada kelompok saham perbankan besar.

Kontan melaporkan bahwa hingga akhir sesi pertama, investor asing mencatat jual bersih sekitar Rp1,14 triliun.

BBCA menjadi saham bank besar dengan jual bersih asing terbesar, yakni sekitar Rp222,05 miliar, disusul BMRI Rp108,93 miliar, BBRI Rp61,88 miliar, dan BBNI Rp16,13 miliar.

Perlu dicatat, angka Rp1,14 triliun tersebut merupakan posisi pada sesi pertama dan tidak dapat dibaca sebagai angka jual bersih asing untuk seluruh perdagangan Jumat.

Riset Kiwoom Sekuritas yang dikutip Pasardana juga menunjukkan sikap berhati-hati.

Kiwoom menilai momentum jangka pendek IHSG masih cenderung melemah dan menyarankan investor menunggu konfirmasi pergerakan indeks di sekitar area penopang sebelum melakukan akumulasi lebih agresif.

Pelemahan saham Indonesia berlangsung ketika kondisi pendanaan global kembali mengetat.

Faktor ini penting karena saham di negara berkembang tidak hanya bersaing satu sama lain, tetapi juga dengan tingkat pengembalian aset berdenominasi dolar AS yang semakin tinggi.

The Fed membuat persaingan dana global semakin ketat

Federal Reserve pada 16 September menaikkan kisaran target suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen.

Dalam pernyataan resminya, Federal Reserve menyebut keputusan tersebut disetujui dengan suara bulat 12-0.

Federal Open Market Committee (FOMC) juga menegaskan bahwa persoalan inflasi belum selesai.

“Inflasi masih tinggi. Tindakan kebijakan hari ini akan membantu mempercepat kembalinya inflasi ke sasaran Komite sebesar 2 persen,” demikian pernyataan resmi FOMC.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa The Fed masih memandang inflasi sebagai risiko yang perlu dikendalikan melalui kebijakan moneter yang ketat.

Reuters melaporkan bahwa kenaikan tersebut merupakan kenaikan suku bunga pertama The Fed dalam tiga tahun.

Berdasarkan proyeksi terbaru, 16 dari 18 pembuat kebijakan memperkirakan setidaknya masih ada satu kenaikan sebesar seperempat poin persentase sebelum akhir 2026.

Dampaknya bagi pasar Indonesia cukup langsung.

Ketika suku bunga dan imbal hasil aset dolar meningkat, investor global memperoleh alternatif tingkat pengembalian yang lebih tinggi tanpa harus mengambil risiko sebesar berinvestasi di negara berkembang.

Reuters juga mencatat bahwa imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,93 persen pada Jumat.

Tingkat imbal hasil seperti ini membuat valuasi saham harus berhadapan dengan standar pengembalian aset berisiko rendah yang lebih tinggi.

Kondisi global juga bukan hanya soal Amerika Serikat.

Reuters melaporkan Bank of Japan pada Jumat menaikkan suku bunga kebijakannya menjadi 1,25 persen, level tertinggi dalam 31 tahun.

Dengan sejumlah bank sentral utama mempertahankan atau memperketat kebijakan, biaya likuiditas global menjadi lebih tinggi.

Bagi IHSG, lingkungan seperti ini cenderung membuat investor semakin selektif.

Rupiah bertahan di Rp17.700-an, tetapi apakah tekanannya sudah selesai?

Cerita rupiah sedikit berbeda.

Data resmi Bank Indonesia menunjukkan JISDOR pada 18 September berada di Rp17.745 per dolar AS, membaik dibandingkan Rp17.753 sehari sebelumnya.

Secara harian, nilai referensi tersebut menunjukkan penguatan rupiah sekitar 0,05 persen.

Namun, posisi rupiah masih lebih lemah dibandingkan Jumat sebelumnya.

Bank Indonesia mencatat JISDOR pada 11 September sebesar Rp17.611 per dolar AS.

Dengan posisi Rp17.745 pada 18 September, rupiah masih terdepresiasi sekitar 0,76 persen dalam sepekan.

Pergerakan di pasar spot juga relatif terbatas.

Bloomberg Technoz melaporkan rupiah ditutup menguat 0,03 persen menjadi Rp17.742 per dolar AS.

Sepanjang pekan, rupiah masih melemah sekitar 0,8 persen.

Sementara itu, Okezone, dengan mengutip data pasar lain, melaporkan rupiah berakhir di Rp17.758 per dolar AS atau melemah sekitar 0,03 persen.

Perbedaan beberapa rupiah tersebut dapat terjadi karena waktu pengambilan harga dan sumber kuotasi pasar tidak selalu sama.

Namun, keduanya memberikan gambaran yang serupa, rupiah mengakhiri perdagangan Jumat dalam kondisi nyaris datar di sekitar Rp17.700-an.

Karena itu, pesan utama perdagangan Jumat bukan terletak pada apakah rupiah menguat atau melemah beberapa poin, melainkan bahwa mata uang Indonesia mulai menunjukkan stabilisasi setelah mengalami tekanan selama beberapa hari sebelumnya.

Pergerakan tersebut belum cukup kuat untuk disebut sebagai pembalikan tren.

Harga minyak membantu meredakan tekanan rupiah

Salah satu perkembangan yang membantu rupiah adalah turunnya harga minyak dunia.

Reuters melaporkan harga minyak Brent turun US$2,14 atau sekitar 2 persen menjadi US$102,68 per barel pada Jumat.

West Texas Intermediate melemah US$1,83 menjadi US$100,08 per barel.

Penurunan berlangsung selama tiga sesi berturut-turut ketika kekhawatiran mengenai gangguan pasokan Arab Saudi mulai berkurang.

Dalam laporan Reuters tersebut, analis PVM Oil Associates Tamas Varga menilai kondisi fundamental pasar belum mendukung penurunan Brent yang berkepanjangan jauh di bawah US$100 per barel.

“Prospek fundamental saat ini tidak mendukung penurunan yang berkepanjangan di bawah US$100,” kata Varga sebagaimana dikutip Reuters.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa koreksi minyak belum berarti risiko energi sepenuhnya hilang.

Ketegangan di Timur Tengah dan arus pelayaran di kawasan Selat Hormuz masih menjadi sumber ketidakpastian.

Bagi Indonesia, harga minyak mempunyai hubungan penting dengan rupiah.

Impor energi menciptakan kebutuhan terhadap dolar AS.

Semakin tinggi harga yang harus dibayar untuk energi, semakin besar pula kebutuhan valuta asing yang dapat muncul.

Harga minyak yang turun juga membantu meredakan risiko inflasi impor.

Namun, pengaruh positif ini sedang berhadapan dengan kekuatan yang berlawanan, yakni suku bunga Amerika Serikat yang baru dinaikkan.

Itulah sebabnya penurunan harga minyak pada Jumat belum otomatis menghasilkan apresiasi besar rupiah.

RDG Bank Indonesia menjadi agenda penting berikutnya

Perhatian pasar domestik selanjutnya akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.

Berdasarkan kalender resmi Bank Indonesia, RDG September dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September 2026.

Dalam pertemuan sebelumnya pada 18–19 Agustus, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen, suku bunga Deposit Facility 4,75 persen, dan Lending Facility 6,50 persen.

Bank Indonesia secara eksplisit menempatkan nilai tukar sebagai salah satu pertimbangan utama dalam kebijakannya.

“Memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah,” demikian salah satu arah kebijakan yang disampaikan Bank Indonesia dalam pernyataan resminya.

Pesan tersebut penting karena kondisi global setelah RDG Agustus justru semakin ketat.

The Fed telah menaikkan suku bunga, dolar tetap kuat, dan sejumlah bank sentral utama lain juga mengambil sikap yang lebih ketat.

Dengan demikian, pelaku pasar tidak hanya akan memperhatikan apakah BI-Rate berubah atau tetap pada 5,75 persen.

Komunikasi Bank Indonesia mengenai rupiah, inflasi, arus modal, serta respons terhadap perubahan suku bunga global dapat sama pentingnya dengan keputusan suku bunga itu sendiri.

Emas Antam naik Rp25.000

Di tengah saham yang melemah dan rupiah yang masih rentan, emas bergerak ke arah berbeda.

Berdasarkan laman resmi Logam Mulia Antam, harga emas satu gram pada Jumat ditetapkan sebesar Rp2.623.000, belum termasuk PPh 0,25 persen.

Harga setelah pajak tercantum sebesar Rp2.629.558.

Dibandingkan Kamis, ketika harga satu gram emas berada pada Rp2.598.000, harga tersebut naik Rp25.000 atau sekitar 0,96 persen.

Kontan melaporkan harga pembelian kembali juga meningkat Rp20.000 menjadi Rp2.458.000 per gram.

Dengan demikian, selisih antara harga jual dan harga pembelian kembali mencapai Rp165.000 per gram.

Selisih sekitar 6,3 persen tersebut penting diperhatikan.

Kenaikan harga emas harian tidak otomatis berarti pembeli baru sudah memperoleh keuntungan apabila langsung menjual kembali emasnya.

Mengapa emas menguat ketika suku bunga AS justru naik?

Secara teori, suku bunga tinggi merupakan hambatan bagi emas.

Emas tidak memberikan bunga ataupun kupon sehingga ketika tingkat bunga obligasi naik, biaya peluang memegang emas menjadi lebih besar.

Namun, harga emas tidak ditentukan oleh satu variabel saja.

The Star, dengan mengutip laporan Reuters, mencatat emas spot naik sekitar 0,3 persen menjadi US$4.355,05 per troy ounce pada pukul 04.23 GMT.

Penguatan tersebut berlangsung ketika harga minyak turun dan dolar AS relatif tertahan setelah sebelumnya mencapai level yang lebih tinggi.

Dalam laporan tersebut, ahli strategi riset Pepperstone Ahmad Assiri mengingatkan bahwa lingkungan suku bunga tinggi masih membatasi potensi kenaikan emas dalam waktu dekat.

“Lingkungan suku bunga tinggi ini, menurut pandangan saya, membatasi potensi kenaikan emas dalam jangka pendek,” kata Assiri.

Namun, Assiri juga menjelaskan bahwa hubungan tersebut dapat berubah apabila kenaikan imbal hasil mencerminkan kekhawatiran fiskal atau peningkatan belanja akibat perang.

Kondisi seperti itu pada akhirnya dapat menekan dolar dan memberi dukungan kepada emas.

Reuters juga melaporkan bahwa sehari sebelumnya emas melonjak lebih dari 2 persen ketika dolar, harga minyak, dan imbal hasil Treasury menurun.

Kondisi tersebut menunjukkan mengapa membaca arah emas hanya berdasarkan perubahan suku bunga sering kali tidak cukup.

Rupiah ikut menentukan harga emas yang dibayar masyarakat Indonesia

Bagi pembeli emas di Indonesia, terdapat faktor lain yang tidak kalah penting, yakni nilai tukar.

Secara sederhana, harga emas dalam rupiah dipengaruhi oleh harga emas internasional dalam dolar AS, nilai tukar dolar terhadap rupiah, serta sejumlah komponen harga dan premi domestik.

Karena itu, harga emas dunia dan rupiah dapat memberikan dorongan pada saat yang bersamaan.

Jika emas internasional naik sementara rupiah tetap lemah di sekitar Rp17.700 per dolar AS, harga emas dalam rupiah memperoleh dua sumber dukungan.

Sebaliknya, penguatan rupiah dapat menahan sebagian kenaikan harga emas global ketika dikonversi ke mata uang domestik.

Inilah salah satu alasan harga emas Antam tidak selalu bergerak dengan persentase yang sama seperti emas spot internasional.

Bagi masyarakat, implikasinya sederhana, melihat harga emas dunia saja belum cukup untuk mengetahui arah harga emas batangan di Indonesia.

Kurs rupiah juga perlu diperhatikan.

Faktor fiskal ikut menjadi perhatian pasar

Di tengah perubahan kondisi moneter global, investor juga mengamati arah kebijakan fiskal Indonesia.

Reuters melaporkan Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan pemerintah tetap mempertahankan proyeksi defisit APBN 2026 sebesar 2,85 persen terhadap produk domestik bruto.

Hingga Agustus, defisit tercatat Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB.

Dalam konferensi pers pertamanya sebagai menteri keuangan, Suahasil menekankan pentingnya menjaga kepercayaan terhadap anggaran negara.

“Anggaran negara harus tetap kredibel,” kata Suahasil sebagaimana dikutip Reuters.

Reuters juga melaporkan bahwa Suahasil menegaskan komitmen pemerintah terhadap batas defisit fiskal sebesar 3 persen terhadap PDB.

Pesan kesinambungan tersebut relevan bagi pasar karena kondisi global membuat investor semakin sensitif terhadap risiko fiskal.

Ketika imbal hasil internasional tinggi, kredibilitas fiskal menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan investor dalam menentukan premi risiko suatu negara.

Namun, pelemahan IHSG pada Jumat tidak dapat dikaitkan hanya dengan satu faktor domestik.

Kebijakan The Fed, imbal hasil obligasi AS, harga minyak, pergerakan dolar, dan arus asing berlangsung pada saat yang bersamaan.

Mengapa saham turun tetapi emas naik?

Perdagangan 18 September menjadi contoh bahwa dua aset tidak selalu memberikan respons yang sama terhadap sebuah peristiwa.

Kenaikan suku bunga The Fed meningkatkan standar imbal hasil bagi aset keuangan.

Hal tersebut dapat menekan saham karena investor mempunyai alternatif pendapatan tetap dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi.

Emas sebenarnya juga menghadapi hambatan serupa karena tidak menghasilkan bunga.

Namun, pada saat yang sama, logam mulia memperoleh dukungan dari pelemahan dolar dan penurunan imbal hasil, perubahan harga energi, serta permintaan terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik.

Bagi emas domestik, rupiah yang masih lemah memberikan faktor tambahan.

Dengan demikian, konfigurasi pasar Jumat dapat diringkas sebagai berikut, imbal hasil tinggi menjadi tantangan bagi saham, turunnya harga minyak membantu rupiah, sementara emas mendapat dukungan dari kombinasi pergerakan dolar, imbal hasil obligasi, ketidakpastian global, dan kurs rupiah.

Apa artinya bagi masyarakat?

Perdagangan 18 September menunjukkan bagaimana keputusan bank sentral di luar negeri pada akhirnya dapat merambat hingga ke aset yang dimiliki masyarakat Indonesia.

Ketika suku bunga AS naik, obligasi dan aset dolar menjadi lebih menarik.

Perubahan tersebut dapat memengaruhi aliran modal ke saham dan obligasi negara berkembang serta memberikan tekanan terhadap mata uangnya.

Rupiah yang lebih lemah pada gilirannya dapat meningkatkan biaya barang yang bergantung pada impor dan ikut menopang harga sejumlah aset berdenominasi dolar, termasuk emas.

Sementara itu, harga minyak yang turun dapat memberikan pengaruh sebaliknya dengan mengurangi sebagian tekanan impor energi dan inflasi.

Saham, rupiah, obligasi, minyak, dan emas dengan demikian bukanlah pasar yang sepenuhnya terpisah.

Perubahan pada satu pasar dapat merambat ke pasar lainnya.

Apa yang perlu diperhatikan setelah akhir pekan?

Agenda domestik terdekat adalah RDG Bank Indonesia pada 22–23 September.

Pasar juga akan mencermati pergerakan imbal hasil US Treasury, dolar AS, harga minyak, arus investor asing di pasar saham dan Surat Berharga Negara, serta perkembangan konflik di Timur Tengah.

Jika harga minyak dan imbal hasil obligasi AS terus menurun, tekanan eksternal terhadap rupiah dan aset berisiko Indonesia dapat mereda.

Sebaliknya, kenaikan kembali imbal hasil dan dolar dapat membuat persaingan untuk memperoleh dana global semakin ketat.

Untuk emas, hubungannya lebih kompleks. Penurunan imbal hasil dapat menjadi dukungan bagi logam mulia, tetapi pergerakan dolar, permintaan terhadap aset aman, perkembangan geopolitik, dan rupiah juga ikut menentukan harga yang pada akhirnya dibayar konsumen Indonesia.

Perdagangan Jumat memberikan gambaran cukup jelas mengenai posisi pasar.

IHSG masih menghadapi tekanan terhadap selera risiko, rupiah menunjukkan stabilisasi tetapi belum membalik pelemahan mingguan, sedangkan emas tetap memperoleh dukungan dari kombinasi faktor global dan nilai tukar.

Editor : Lugas Rumpakaadi
pasar saham Indonesia Rupiah hari ini IHSG hari ini analisis pasar 18 September 2026 harga emas antam