IHSG Hari Ini 18 September 2026 Berpeluang Menguat, Rupiah dan Emas Jadi Perhatian

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 06:18 WIB
Pergerakan IHSG, rupiah, dan harga emas menjadi perhatian investor menjelang akhir pekan setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan.
Pergerakan IHSG, rupiah, dan harga emas menjadi perhatian investor menjelang akhir pekan setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Pergerakan pasar keuangan Indonesia pada Jumat (18/9), diperkirakan masih dibayangi sentimen global.

Investor mencermati dampak keputusan The Federal Reserve menaikkan suku bunga, arah kebijakan Bank Indonesia, pergerakan rupiah, serta harga emas yang masih berada pada level tinggi.

Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir menguat pada perdagangan Kamis (17/9).

Sementara itu, rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat setelah keputusan The Fed menaikkan suku bunga.

Di sisi lain, emas tetap menjadi perhatian di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

IHSG ditutup menguat, tetapi ruang kenaikan masih terbatas

IHSG pada Kamis (17/9) ditutup di level 6.462,43, naik 25,58 poin atau 0,40 persen.

Penguatan juga tercermin pada sejumlah indeks utama, dengan LQ45 naik 0,22 persen dan IDX30 menguat 0,36 persen.

Pergerakan tersebut terjadi setelah sehari sebelumnya IHSG terkoreksi 0,38 persen.

Pasar sebelumnya cenderung menunggu keputusan The Fed mengenai suku bunga acuan.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan bahwa kenaikan suku bunga The Fed memberikan tekanan terhadap Bank Indonesia.

Pasar juga mencermati respons bank sentral domestik dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada 22–23 September 2026.

Untuk perdagangan Jumat, sejumlah analisis dalam laporan riset memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang 6.400–6.550.

Level 6.377 menjadi salah satu area penting yang perlu diperhatikan. Sementara itu, area 6.510–6.550 menjadi zona resistansi terdekat.

Apabila tekanan jual meningkat, IHSG berpotensi menguji area 6.370–6.400.

Dalam skenario yang lebih lemah, indeks dapat bergerak menuju sekitar 6.290.

Dengan demikian, pergerakan IHSG pada akhir pekan lebih banyak bergantung pada respons investor terhadap kebijakan moneter global dan ekspektasi terhadap kebijakan Bank Indonesia.

The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin

Sentimen utama dari pasar global berasal dari keputusan The Federal Reserve pada 16 September 2026.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memutuskan menaikkan kisaran target suku bunga dana federal sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen.

Keputusan tersebut disetujui secara bulat oleh 12 anggota FOMC. Dalam pernyataan resminya, The Fed menilai aktivitas ekonomi Amerika Serikat tetap solid, sementara inflasi masih berada pada tingkat yang tinggi.

The Fed secara eksplisit menyatakan, “Inflasi tetap tinggi.” 

Bank sentral Amerika Serikat juga menyebutkan bahwa kebijakan tersebut ditujukan untuk mendukung kembalinya inflasi menuju sasaran 2 persen secara lebih tepat waktu.

Kenaikan suku bunga Amerika Serikat berpotensi meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan oleh pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Reuters melaporkan bahwa keputusan The Fed tersebut mencerminkan perhatian bank sentral Amerika Serikat terhadap inflasi yang masih tinggi dan membuka ruang bagi kebijakan moneter yang tetap ketat.

Rupiah kembali tertekan

Rupiah juga menjadi perhatian pada perdagangan akhir pekan.

Berdasarkan data JISDOR Bank Indonesia, nilai tukar rupiah pada 17 September 2026 berada di Rp17.753 per dolar AS, dibandingkan Rp17.712 pada hari sebelumnya.

Data pasar spot yang diberitakan Kontan juga menunjukkan rupiah ditutup pada Rp17.753 per dolar AS pada Kamis (17/9), melemah dibandingkan penutupan sebelumnya.

Dalam laporan riset, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.720–Rp17.820 pada Jumat.

Level Rp17.850 menjadi salah satu batas psikologis yang perlu diperhatikan apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut.

Selain pengaruh dolar AS, pasar juga menunggu arah kebijakan Bank Indonesia.

Penurunan harga minyak dapat memberikan ruang terhadap posisi fiskal, sementara instrumen moneter BI berpotensi membantu meredam volatilitas pasar.

Bank of Japan menjadi sentimen tambahan

Selain The Fed, investor juga mencermati kebijakan Bank of Japan (BoJ).

Dalam laporan riset, BoJ diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen.

Jika pengetatan moneter Jepang berlanjut, pasar global perlu mencermati kemungkinan perubahan arus dana yang selama ini memanfaatkan perbedaan suku bunga antarnegara.

Salah satu perhatian pasar adalah potensi pengurangan transaksi yen carry trade, yaitu strategi memperoleh dana dalam mata uang berbunga rendah untuk ditempatkan pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi.

Perubahan tersebut dapat meningkatkan volatilitas di pasar keuangan apabila investor secara bersamaan melakukan penyesuaian portofolio.

Harga emas Antam mendekati Rp2,6 juta per gram

Emas masih menjadi aset yang diperhatikan ketika ketidakpastian pasar meningkat.

Pada Kamis (17/9), harga emas batangan Antam ukuran 1 gram tercatat Rp2.598.000.

Berdasarkan laman resmi Logam Mulia, harga tersebut menjadi Rp2.604.495 setelah memperhitungkan pajak penghasilan (PPh) 0,25 persen.

Harga emas Antam naik Rp5.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Harga pembelian kembali (buyback) berada pada Rp2.438.000 per gram.

Dalam laporan riset, harga emas Antam untuk Jumat diperkirakan berada di sekitar Rp2.595.000–Rp2.605.000.

Area Rp2.590.000 menjadi salah satu level dukungan terdekat.

Pergerakan emas global juga tetap dipengaruhi oleh permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter.

Pergantian Menteri Keuangan menjadi perhatian pasar domestik

Sentimen domestik lainnya berasal dari pergantian Menteri Keuangan.

Suahasil Nazara resmi menjabat Menteri Keuangan setelah menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.

Serah terima jabatan berlangsung di Kementerian Keuangan pada 15 September 2026.

Dalam pernyataannya setelah dilantik, Suahasil menegaskan fokus pada pengelolaan keuangan negara dan keberlanjutan fungsi APBN sebagai instrumen ekonomi.

“Dapat tugasnya adalah menjaga keuangan negara,” ujar Suahasil dalam keterangan yang dipublikasikan Kementerian Keuangan.

Ia juga menegaskan pentingnya APBN sebagai instrumen yang “menumbuhkan” sekaligus “menstabilkan ekonomi kita”.

Pernyataan tersebut menjadi bagian dari konteks domestik yang diperhatikan pelaku pasar ketika tekanan eksternal terhadap rupiah dan pasar saham masih berlangsung.

Sektor yang menjadi perhatian

Di pasar saham, laporan riset mencatat sejumlah sektor yang berpotensi menjadi perhatian investor, antara lain bahan dasar, barang konsumen primer, perunggasan, telekomunikasi dan infrastruktur digital, perbankan, serta energi.

Sektor barang konsumsi juga memperoleh perhatian seiring dengan ekspektasi terhadap permintaan domestik.

Sementara itu, saham berkapitalisasi besar dapat menjadi perhatian ketika investor melakukan penyesuaian portofolio terhadap kondisi pasar global.

Laporan tersebut juga memuat sejumlah saham yang menjadi perhatian analis, antara lain ADMR, BMRI, BRPT, DSSA, ISAT, BBTN, INKP, ASII, CPIN, EXCL, dan ESSA.

Daftar tersebut merupakan bagian dari analisis dalam laporan riset dan bukan jaminan kinerja saham pada perdagangan berikutnya.

Tiga hal yang perlu diperhatikan investor

Ada tiga faktor utama yang layak diperhatikan menjelang penutupan perdagangan pekan ini.

Pertama, arah kebijakan The Fed dan dampaknya terhadap dolar AS serta pasar negara berkembang.

Kedua, respons Bank Indonesia terhadap perubahan kondisi moneter global.

Rapat Dewan Gubernur BI pada 22–23 September akan menjadi salah satu agenda penting bagi pasar domestik.

Ketiga, pergerakan harga emas dan aset keuangan lainnya di tengah ketidakpastian global.

Harga emas Antam yang berada di sekitar Rp2,6 juta per gram menunjukkan tingginya perhatian pasar terhadap aset tersebut.

Dengan berbagai sentimen tersebut, laporan riset memperkirakan IHSG berada pada kisaran 6.400–6.550, rupiah sekitar Rp17.720–Rp17.820 per dolar AS, dan emas Antam sekitar Rp2.595.000–Rp2.605.000 per gram.

Pergerakan aktual tetap dapat berubah mengikuti perkembangan pasar global, data ekonomi terbaru, serta respons investor terhadap kebijakan bank sentral.

Karena itu, angka proyeksi tersebut sebaiknya dipandang sebagai rentang analisis, bukan kepastian harga.

Editor : Lugas Rumpakaadi
pasar saham Indonesia IHSG hari ini rupiah the fed harga emas antam