RADAR BANYUWANGI - Perdagangan pasar keuangan Indonesia pada Kamis (17/9), menunjukkan pergerakan yang berbeda di antara sejumlah aset utama.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit 0,40 persen ke level 6.462,43 setelah melemah selama enam hari berturut-turut.
Di sisi lain, rupiah kembali tertekan hingga ditutup di sekitar Rp17.753 per dolar AS.
Pergerakan emas juga menunjukkan dinamika yang menarik.
Harga emas dunia turun 0,72 persen, tetapi harga emas batangan Antam justru naik Rp5.000 menjadi Rp2.598.000 per gram.
Perbedaan arah tersebut tidak terjadi secara kebetulan.
Pergerakan IHSG, rupiah, dan emas dipengaruhi oleh kombinasi kebijakan moneter Amerika Serikat, perubahan imbal hasil obligasi, nilai tukar, serta kondisi pasar domestik.
IHSG Rebound Setelah Enam Hari Melemah
IHSG menguat 25,50 poin atau 0,40 persen menjadi 6.462,43 pada perdagangan Kamis.
Sebelumnya, indeks acuan Bursa Efek Indonesia tersebut telah mengalami pelemahan selama enam sesi berturut-turut.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada kisaran 6.418 hingga 6.500.
Hingga pertengahan sesi, volume transaksi tercatat sekitar 27,3–27,6 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp13,77–Rp13,80 triliun.
Penguatan juga terlihat pada sebagian besar sektor.
Sebanyak 10 dari 11 sektor tercatat berada di zona hijau.
Sektor barang konsumen nonprimer menjadi salah satu penguat utama dengan kenaikan 1,63 persen, disusul sektor energi sebesar 1,17 persen dan barang konsumen primer sebesar 0,88 persen.
Sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang melemah, yakni sekitar 0,55 persen.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menopang indeks.
Bank Mandiri (BMRI) naik 1,88 persen menjadi Rp4.340, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menguat 0,61 persen menjadi Rp3.350, sedangkan Bank Central Asia (BBCA) naik 0,79 persen menjadi Rp6.375.
Penguatan IHSG terjadi setelah pasar sebelumnya banyak mengantisipasi keputusan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed.
The Fed Menaikkan Suku Bunga, Rupiah Kembali Tertekan
Federal Reserve pada 16 September 2026 menaikkan target suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen.
Keputusan tersebut merupakan kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak Juli 2023.
Dalam pernyataan resminya, The Fed menyebut, “Inflasi tetap tinggi.”
Bank sentral AS juga menyatakan bahwa kebijakan tersebut akan mendukung kembalinya inflasi menuju sasaran 2 persen secara lebih tepat waktu.
Kenaikan suku bunga tersebut telah banyak diperhitungkan pelaku pasar sebelum keputusan diumumkan.
Karena itu, dampaknya terhadap pasar saham tidak serta-merta menghasilkan tekanan baru.
Sebagian risiko bahkan telah tercermin dalam koreksi IHSG pada sesi-sesi sebelumnya.
Namun, kondisi berbeda terlihat pada pasar valuta asing.
Rupiah spot dibuka di sekitar Rp17.761–Rp17.764 per dolar AS dan sempat melemah hingga Rp17.768.
Pada akhir perdagangan, rupiah berada di sekitar Rp17.753 per dolar AS, melemah 57 poin atau 0,32 persen dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.696.
Dengan demikian, rupiah telah melemah selama enam hari perdagangan berturut-turut.
Penguatan dolar AS setelah keputusan The Fed menjadi salah satu faktor yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS juga membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor global.
Proyeksi The Fed Masih Menunjukkan Suku Bunga Relatif Tinggi
Tekanan terhadap aset negara berkembang tidak hanya berasal dari keputusan kenaikan suku bunga pada September.
Proyeksi terbaru pejabat The Fed juga menunjukkan bahwa suku bunga diperkirakan tetap berada pada level relatif tinggi.
Dalam Summary of Economic Projections yang dirilis pada 16 September 2026, median proyeksi suku bunga federal funds berada di 4,1 persen untuk akhir 2026 dan 2027.
Angka tersebut berada di atas titik tengah kisaran suku bunga setelah keputusan September, yaitu sekitar 3,875 persen.
Dokumen tersebut juga memberikan catatan penting bahwa proyeksi para pejabat The Fed “bukanlah perkiraan hasil triwulanan yang paling mungkin terjadi," melainkan mencerminkan penilaian masing-masing peserta mengenai kebijakan moneter yang sesuai.
Artinya, proyeksi tersebut perlu dibaca sebagai gambaran mengenai preferensi kebijakan para pejabat The Fed, bukan sebagai kepastian mengenai jalur suku bunga pada setiap kuartal.
Mengapa Emas Dunia Turun, tetapi Emas Antam Naik?
Harga emas dunia bergerak berlawanan dengan harga emas Antam dalam rupiah.
Harga emas spot dunia turun sekitar 0,72 persen dengan pergerakan intraday pada kisaran US$4.261 hingga US$4.312,51 per troy ounce.
Harga sempat menyentuh sekitar US$4.240,10 per troy ounce.
Pada saat yang sama, harga emas batangan Antam ukuran 1 gram naik Rp5.000 menjadi Rp2.598.000 per gram pada 17 September 2026.
Harga tersebut merupakan harga dasar yang tercantum pada situs resmi Logam Mulia.
Perbedaan tersebut terutama dapat dijelaskan melalui nilai tukar.
Harga emas dunia dinyatakan dalam dolar AS per troy ounce, sedangkan harga emas Antam untuk pembeli di Indonesia dinyatakan dalam rupiah per gram.
Karena itu, perubahan harga emas dalam negeri tidak hanya dipengaruhi oleh harga emas dunia, tetapi juga oleh pergerakan kurs dolar terhadap rupiah.
Ketika harga emas dunia turun, tetapi rupiah melemah cukup besar terhadap dolar AS, pelemahan nilai tukar dapat mengimbangi penurunan harga emas dalam dolar.
Dalam perdagangan 17 September, kondisi tersebut membantu menjelaskan mengapa harga emas Antam tetap meningkat meskipun harga emas dunia mengalami koreksi.
Pelemahan Rupiah Menjadi Faktor Penting bagi Harga Emas Domestik
Rupiah yang melemah membuat harga aset yang berbasis dolar AS menjadi lebih mahal ketika dikonversikan ke rupiah.
Hal tersebut tidak berarti setiap penurunan harga emas dunia akan selalu diikuti kenaikan harga emas Antam.
Besarnya perubahan harga emas domestik tetap bergantung pada kombinasi harga emas global, nilai tukar, serta faktor penetapan harga di pasar domestik.
Pada perdagangan 17 September, pengaruh pelemahan rupiah cukup kuat untuk mengimbangi penurunan harga emas dunia.
Akibatnya, harga emas Antam bergerak naik Rp5.000 menjadi Rp2.598.000 per gram.
Harga pembelian kembali atau buyback emas Antam pada hari yang sama berada di Rp2.438.000 per gram.
The Fed Menjadi Penghubung antara Rupiah dan Emas
Kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor yang menghubungkan pergerakan rupiah dan emas dalam periode ini.
Kenaikan suku bunga AS cenderung memperkuat daya tarik dolar dan aset berdenominasi dolar.
Pada saat yang sama, kenaikan imbal hasil Treasury AS dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang karena selisih imbal hasil dengan aset AS menjadi lebih sempit.
Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun tercatat menembus 5,020 persen, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia bertenor 10 tahun berada di sekitar 7,141 persen.
Pelemahan rupiah menjadi salah satu saluran transmisi kebijakan moneter AS terhadap pasar domestik.
Namun, bagi harga emas yang dihitung dalam rupiah, pelemahan rupiah justru dapat memberikan efek sebaliknya.
Nilai dolar yang lebih tinggi terhadap rupiah membuat harga emas global yang dikonversikan ke rupiah menjadi lebih mahal.
Dengan demikian, satu faktor yang menekan rupiah dapat sekaligus menjadi faktor yang menopang harga emas domestik.
IHSG dan Rupiah Merespons Faktor yang Berbeda
Perbedaan pergerakan IHSG dan rupiah pada 17 September menunjukkan bahwa pasar keuangan tidak bergerak sebagai satu kesatuan.
IHSG dapat menguat ketika pelaku pasar menilai sebagian risiko kebijakan moneter sudah tercermin dalam harga saham.
Setelah enam sesi melemah, muncul ruang bagi aksi beli kembali pada sejumlah saham.
Sementara itu, pasar valuta asing lebih sensitif terhadap perubahan imbal hasil global dan arah dolar AS.
Karena itu, kenaikan suku bunga The Fed dan tingginya imbal hasil Treasury tetap menjadi sumber tekanan bagi rupiah.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa IHSG dapat naik pada hari yang sama ketika rupiah melemah.
Apa yang Perlu Diperhatikan Setelah Perdagangan 17 September?
Pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada bagaimana pasar mencerna arah kebijakan moneter AS dan perkembangan ekonomi domestik.
Untuk pasar saham, perhatian dapat tertuju pada keberlanjutan aksi beli setelah IHSG mengalami penurunan selama enam sesi sebelumnya.
Kinerja saham-saham berkapitalisasi besar juga akan berpengaruh terhadap arah indeks secara keseluruhan.
Untuk rupiah, perkembangan dolar AS dan imbal hasil Treasury AS tetap menjadi faktor eksternal penting.
Di dalam negeri, kondisi fiskal dan kebijakan ekonomi juga dapat memengaruhi persepsi investor terhadap aset Indonesia.
Sementara itu, harga emas domestik akan dipengaruhi oleh dua komponen utama yang saling berlawanan, yakni pergerakan harga emas dunia dan nilai tukar rupiah.
Editor : Lugas Rumpakaadi