Harga Minyak Tembus USD 102, IHSG Terancam Melemah dan Rupiah Bisa ke Rp17.650

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 05:34 WIB
Pergerakan IHSG, Rupiah, dan harga emas menjadi perhatian pasar pada perdagangan Jumat, 11 September 2026 di tengah lonjakan harga minyak dan ketidakpastian ekonomi global. (ChatGPT)
Pergerakan IHSG, Rupiah, dan harga emas menjadi perhatian pasar pada perdagangan Jumat, 11 September 2026 di tengah lonjakan harga minyak dan ketidakpastian ekonomi global. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Harga minyak dunia yang menembus USD 100 per barel kembali menjadi perhatian pasar keuangan Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi memberi tekanan terhadap IHSG dan Rupiah pada perdagangan Jumat, 11 September 2026.

IHSG sebelumnya ditutup turun 1,33 persen atau 88,86 poin ke level 6.589,3 pada Kamis, 10 September 2026. Pada saat yang sama, Rupiah di pasar spot melemah ke Rp17.547 per dolar AS, sementara harga emas Antam justru naik menjadi Rp2.625.000 per gram.

Pergerakan pasar pada akhir pekan ini berlangsung ketika ketidakpastian global masih tinggi. Eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak Brent menembus USD 102 per barel dan WTI berada di atas USD 100 per barel.

Kenaikan harga energi tersebut menjadi perhatian bagi Indonesia karena kebutuhan impor minyak dapat meningkatkan permintaan dolar AS. Pada akhirnya, kondisi itu berpotensi menambah tekanan terhadap Rupiah, inflasi, dan beban fiskal.

Di pasar global, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun juga telah mencapai 4,84 persen. Investor pun cenderung mengambil sikap lebih berhati-hati menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Federal Reserve pada 15–16 September 2026. Probabilitas kenaikan suku bunga acuan diperkirakan mencapai 60 persen berdasarkan CME FedWatch Tool.

IHSG Hari Ini Berisiko Uji Level 6.500

Pelemahan IHSG pada Kamis menjadi sinyal penting menjelang perdagangan Jumat. Setelah sempat menyentuh level tertinggi harian 6.712, indeks berbalik turun akibat tekanan jual yang melanda bursa Asia.

Secara teknikal, IHSG telah berada di bawah rata-rata pergerakan lima dan 10 hari. Indikator MACD dan Stochastic RSI juga membentuk pola Death Cross, yang menunjukkan momentum tekanan jual masih perlu diwaspadai dalam jangka pendek.

Sejumlah lembaga sekuritas memperkirakan IHSG masih menghadapi risiko koreksi. Phintraco Sekuritas memperkirakan indeks akan menguji support MA20 di 6.525, dengan area berikutnya 6.460–6.500. Resistance berada di kisaran 6.616–6.650.

MNC Sekuritas melihat IHSG masih berpotensi bergerak volatil dengan rentang 6.505–6.584. Namun, peluang pemulihan teknikal tetap terbuka apabila tekanan pasar global mereda.

Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan risiko koreksi lanjutan akan membesar jika IHSG gagal kembali merebut level 6.600. Area support berikutnya berada pada 6.475–6.375.

Kondisi tersebut menunjukkan level 6.600 menjadi salah satu titik yang perlu diperhatikan investor pada perdagangan Jumat. Jika indeks mampu kembali melewati level tersebut, ruang pemulihan dapat terbuka. Sebaliknya, kegagalan mempertahankannya dapat membuat tekanan jual berlanjut.

Data Ekonomi AS Jadi Perhatian

Tekanan eksternal datang ketika pasar menantikan data inflasi Amerika Serikat. Dalam materi proyeksi, inflasi umum AS pada Agustus diperkirakan mencapai 3,4 persen secara tahunan, sedangkan inflasi inti diperkirakan 2,4 persen.

Jika angka inflasi berada di atas perkiraan, pasar berpotensi kembali memperhitungkan kebijakan Federal Reserve yang lebih ketat. Situasi tersebut dapat menekan aset berisiko di negara berkembang, termasuk saham Indonesia.

Dari dalam negeri, terdapat sedikit kabar positif. Penjualan eceran Indonesia pada Juli 2026 tumbuh 1,1 persen secara tahunan setelah mengalami kontraksi selama tiga bulan berturut-turut. Namun, perbaikan konsumsi domestik tersebut masih menghadapi kuatnya tekanan sentimen eksternal.

Rupiah Bisa Bergerak hingga Rp17.650

Rupiah juga menghadapi tantangan pada perdagangan Jumat. Pada Kamis, kurs spot melemah 0,21 persen menjadi Rp17.547 per dolar AS. Sebaliknya, JISDOR Bank Indonesia menguat tipis 0,09 persen ke Rp17.536 per dolar AS.

Ibrahim Assuaibi dari PT Traze Andalan Futures memproyeksikan Rupiah bergerak pada kisaran Rp17.540–Rp17.590 per dolar AS dengan kecenderungan fluktuatif dan melemah.

Sementara itu, Nanang Wahyudin dari Valbury Asia Futures memperkirakan Rupiah berada di rentang lebih lebar, yakni Rp17.450–Rp17.650 per dolar AS. Penguatan Rupiah diperkirakan masih terbatas dan akan dipengaruhi efektivitas intervensi Bank Indonesia serta aliran modal asing ke pasar SBN.

Meski demikian, Rupiah tidak sepenuhnya tanpa penyangga. Posisi cadangan devisa Indonesia mencapai USD 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.

Selain itu, pasar SBN mendapat aliran dana asing sebesar USD 90,5 juta pada perdagangan Kamis. Bank Indonesia diperkirakan tetap menggunakan sejumlah instrumen, termasuk intervensi pasar spot, DNDF, dan pasar sekunder obligasi untuk membatasi volatilitas Rupiah.

Harga Emas Antam Naik, tetapi Masih Berisiko Terkoreksi

Di tengah gejolak pasar saham dan tekanan terhadap Rupiah, emas menjadi salah satu aset yang mendapat perhatian.

Harga emas dunia berada di sekitar USD 4.461,37 per troy ounce. Meningkatnya risiko geopolitik mendorong permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Namun, kenaikan imbal hasil US Treasury dan ekspektasi suku bunga tinggi Federal Reserve menjadi faktor yang membatasi penguatan harga emas.

Di pasar domestik, harga emas Antam naik Rp15.000 menjadi Rp2.625.000 per gram pada Kamis. Harga buyback juga meningkat Rp15.000 menjadi Rp2.475.000 per gram.

Untuk Jumat, 11 September 2026, harga emas Antam diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas. Support pertama berada di Rp2.614.000 per gram dan support berikutnya Rp2.500.000.

Jika terjadi pembalikan arah, emas Antam berpeluang menguji resistance Rp2.654.000 hingga Rp2.754.000 per gram.

Saham Komoditas Jadi Perhatian

Ketika sektor yang sensitif terhadap suku bunga menghadapi tekanan, arus modal berpotensi beralih menuju sektor energi dan komoditas.

Dalam materi analisis, PT United Tractors Tbk (UNTR) menjadi salah satu saham yang mendapat perhatian dengan target harga Rp27.400–Rp27.925. Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Citra Nusantara Tbk (CDIA), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) juga disebut memiliki momentum perdagangan yang menarik.

Selain itu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Jalin Akrab Raya Tbk (JARR) dinilai berpotensi menjadi instrumen yang dapat diperhatikan ketika inflasi meningkat.

Namun, daftar tersebut merupakan bagian dari proyeksi dan analisis pasar, bukan jaminan bahwa harga saham akan meningkat. Keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.

Apa Artinya bagi Masyarakat Banyuwangi?

Pergerakan IHSG memang lebih dekat dengan dunia investasi, tetapi perkembangan Rupiah dan harga minyak dapat memiliki konsekuensi yang lebih luas.

Bagi pelaku usaha dan konsumen di Banyuwangi, perubahan harga energi dan nilai tukar layak diperhatikan karena keduanya dapat memengaruhi biaya transportasi, distribusi, serta harga barang yang memiliki komponen impor.

Sementara bagi masyarakat yang memiliki emas, kenaikan harga dalam jangka pendek tidak otomatis berarti keuntungan karena terdapat selisih antara harga jual dan harga buyback. Spread harga emas berbeda antarpenyedia. Galeri 24 tercatat memiliki spread Rp144.000 per gram, sedangkan Antam Logam Mulia memberikan harga buyback hingga Rp2.512.000 per gram.

Pasar Jumat Diperkirakan Masih Volatil

Secara keseluruhan, perdagangan Jumat, 11 September 2026, masih akan sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik, harga minyak, arah dolar AS, serta ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve.

IHSG berpotensi menguji support di area 6.460–6.525 apabila tekanan jual berlanjut. Rupiah diperkirakan bergerak pada rentang Rp17.450–Rp17.650 per dolar AS, sedangkan emas Antam masih memiliki peluang menguji support Rp2.614.000 per gram.

Kondisi tersebut membuat diversifikasi dan pengelolaan risiko menjadi penting. Perhatian disarankan lebih besar pada sektor energi dan komoditas, instrumen likuid berisiko rendah, serta pembelian emas secara bertahap ketika terjadi koreksi teknikal.

Editor : Lugas Rumpakaadi
ekonomi banyuwangi pasar keuangan ihsg rupiah harga emas antam