IHSG Turun, Rupiah Rp17.760, Harga Emas Antam Susut Rp40 Ribu Hari Ini

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 17:33 WIB
Harga emas Antam turun Rp40.000 menjadi Rp2.624.000 per gram pada perdagangan Rabu (2/9), sementara IHSG dan Rupiah juga berada dalam tekanan. (ChatGPT)
Harga emas Antam turun Rp40.000 menjadi Rp2.624.000 per gram pada perdagangan Rabu (2/9), sementara IHSG dan Rupiah juga berada dalam tekanan. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Pasar keuangan Indonesia bergerak dalam tekanan pada perdagangan Rabu (2/9). IHSG gagal bertahan di atas level 6.600, Rupiah melemah ke Rp17.760 per Dolar AS, sementara harga emas Antam turun Rp40.000 menjadi Rp2.624.000 per gram.

Pergerakan tiga instrumen tersebut berlangsung ketika pasar global menghadapi tekanan akibat eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz. Ketegangan geopolitik mendorong harga minyak mentah dunia melonjak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Bagi masyarakat, pergerakan tersebut bukan sekadar angka di layar perdagangan. Perubahan nilai Rupiah dapat berkaitan dengan biaya barang yang memiliki komponen impor, sementara pergerakan saham dan emas menjadi perhatian bagi masyarakat yang memiliki investasi.

IHSG berakhir di bawah 6.600

IHSG sempat dibuka menguat ke level 6.625,39 dan menyentuh posisi tertinggi harian 6.629,54. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan. Tekanan jual membuat indeks turun hingga 6.561,00 sebelum sebagian kerugian berhasil dipulihkan.

Pada penutupan perdagangan, IHSG berada di level 6.595,77. Angka tersebut turun 4,17 poin atau 0,06 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya di 6.599,94.

Nilai transaksi saham sepanjang perdagangan mencapai Rp9,92 triliun dengan volume 32,97 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sekitar 1,52 juta kali, sedangkan kapitalisasi pasar berada di kisaran Rp11.529 triliun.

Pelemahan terjadi di enam dari 11 sektor yang tercakup dalam IDX-IC. Sektor barang baku menjadi salah satu penekan terbesar dengan pelemahan hingga 1,30-1,78 persen. Sektor perindustrian turun 1,21 persen dan infrastruktur terkoreksi 1,06 persen.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut memberikan tekanan terhadap IHSG. Telkom Indonesia (TLKM) menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi pelemahan 4,63 poin. Berikutnya ada Merdeka Gold Resources (EMAS) sebesar 3,04 poin dan Amman Mineral Internasional (AMMN) sebesar 2,96 poin.

Investor asing jual saham, tetapi bank tetap diminati

Tekanan di pasar saham juga terlihat dari aktivitas investor asing. Pada Sesi I, investor asing mencatatkan jual bersih Rp379,67 miliar. Nilai transaksi jual asing mencapai Rp2,85 triliun, lebih besar daripada transaksi beli sebesar Rp2,47 triliun.

Namun, arus dana asing tidak sepenuhnya meninggalkan pasar saham Indonesia. Terjadi rotasi portofolio menuju sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar.

Bank Central Asia (BBCA) mencatat net foreign buy terbesar sebesar Rp106,82 miliar, disusul Bank Rakyat Indonesia (BBRI) Rp92,01 miliar dan Bank Mandiri (BMRI) Rp38,55 miliar. Pola tersebut menunjukkan bahwa di tengah tekanan pasar, investor masih memilih sebagian saham yang dinilai memiliki fundamental relatif kuat.

Kondisi tersebut menjadi salah satu penahan agar koreksi IHSG tidak berlangsung lebih dalam. Laporan tersebut mencatat sektor perbankan dipandang memiliki ketahanan yang relatif lebih baik menghadapi lingkungan suku bunga tinggi.

Rupiah melemah ke Rp17.760 per Dolar AS

Di pasar valuta asing, Rupiah juga berada dalam tekanan. Nilai tukar Rupiah di pasar spot ditutup pada Rp17.760 per Dolar AS, melemah 34 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.744.

Sepanjang perdagangan, Rupiah bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.700 hingga Rp17.850 per Dolar AS. Sementara itu, kurs JISDOR Bank Indonesia tercatat Rp17.727 per Dolar AS.

Tekanan tersebut berkaitan dengan perkembangan pasar global. Eskalasi konflik AS-Iran di Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah naik tajam. Dalam laporan tersebut, minyak WTI disebut melonjak 8,74 persen menjadi US$90,68 per barel, sedangkan Brent naik 8,40 persen menjadi US$95,45 per barel.

Kenaikan harga minyak memunculkan kekhawatiran inflasi dan mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Pada saat yang sama, indeks Dolar AS (DXY) menguat 0,1 persen ke level 99,724. Penguatan Dolar AS tersebut turut meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap Rupiah juga muncul ketika surplus perdagangan relatif terbatas. Surplus perdagangan kumulatif Januari-Juli 2026 tercatat sekitar US$3,70 miliar, sementara defisit transaksi berjalan pada kuartal II mencapai US$12,5 miliar.

Harga emas Antam turun Rp40.000

Emas yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai justru mengalami koreksi pada perdagangan yang sama. Harga emas spot dunia turun hingga 2,68 persen dan berada di sekitar US$4.309,82 per troy ounce.

Kondisi ini terjadi ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat. Karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi, kenaikan yield membuat biaya peluang memegang emas menjadi lebih tinggi. Penguatan Dolar AS turut memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas.

Koreksi harga global kemudian tercermin di pasar domestik. Harga emas Antam ukuran 1 gram turun Rp40.000 atau 1,50 persen menjadi Rp2.624.000 per gram.

Harga buyback Antam juga turun Rp40.000 menjadi Rp2.477.000 per gram. Dengan demikian, terdapat selisih Rp147.000 antara harga jual dan harga buyback untuk ukuran tersebut.

Bagi masyarakat yang memperhatikan harga emas sebagai instrumen investasi, angka buyback perlu ikut diperhatikan. Harga beli yang terlihat di pasaran tidak sama dengan nilai yang diterima ketika emas dijual kembali.

Inflasi dan manufaktur ikut menjadi perhatian

Tekanan pasar tidak hanya datang dari luar negeri. Data ekonomi domestik turut menjadi perhatian investor.

Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan, meningkat dari 2,88 persen pada Juli. Inflasi inti juga naik menjadi 2,92 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai semakin terbatasnya ruang pelonggaran suku bunga Bank Indonesia.

Pada saat yang sama, PMI Manufaktur Indonesia turun menjadi 49,8. Angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase kontraksi. Penurunan pesanan baru, persaingan pasar, serta mahalnya bahan baku impor akibat tekanan nilai tukar disebut menjadi faktor yang memengaruhi kondisi tersebut.

Bagi masyarakat dan pelaku usaha di Banyuwangi, perkembangan tersebut penting untuk dicermati karena kondisi nilai tukar, inflasi, suku bunga, dan harga energi dapat menjadi bagian dari lingkungan ekonomi yang memengaruhi biaya usaha maupun keputusan investasi. Namun, dampak spesifik terhadap perekonomian Banyuwangi masih perlu dikaji lebih mendalam.

Apa yang perlu diperhatikan selanjutnya?

IHSG diperkirakan masih berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi. Level 6.535 menjadi area support yang perlu diperhatikan, sementara kegagalan bertahan di atas 6.600 menunjukkan indeks masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek.

Untuk Rupiah, kisaran Rp17.700-Rp17.850 per Dolar AS menjadi area yang perlu dicermati. Tekanan terhadap mata uang domestik masih berkaitan dengan kondisi eksternal serta posisi transaksi berjalan dan perdagangan Indonesia.

Sementara itu, emas berada dalam fase yang berbeda. Dalam jangka pendek, harga masih dapat tertekan oleh tingginya yield obligasi AS dan penguatan Dolar AS. Namun, emas memiliki prospek jangka panjang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan risiko geopolitik.

Editor : Lugas Rumpakaadi
ekonomi banyuwangi Rupiah hari ini pasar keuangan Indonesia IHSG hari ini harga emas antam