RADAR BANYUWANGI – Enam hari akses menuju Terminal Elpiji Bosowa di Bulusan, Kalipuro, terhambat aksi unjuk rasa, pasokan LPG 3 kilogram (kg) ke Banyuwangi ikut tersendat. Truk pengangkut elpiji tak bisa keluar-masuk terminal secara normal, sejumlah SPBE sempat kekurangan pasokan, dan dampaknya kini mulai terasa di tingkat pangkalan hingga rumah tangga.
Gangguan distribusi itu membuat tabung hijau alias gas melon semakin sulit ditemukan di sejumlah wilayah. Tumpukan tabung kosong mulai terlihat di agen dan pangkalan, sementara warga harus berpindah-pindah lokasi untuk mendapatkan LPG bersubsidi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskopump) Banyuwangi Heni Sugiharti membenarkan adanya hambatan di sisi hulu distribusi tersebut.
Menurut Heni, terganggunya operasional Terminal Elpiji Bosowa berpengaruh langsung terhadap proses pengisian mobil tangki yang seharusnya memasok sejumlah Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) mitra di Banyuwangi.
"Memang ada dampak. Kemarin masih ada kekosongan di SPBE. Tapi, hari ini sudah ada distribusi dari Gresik," kata Heni kemarin (26/8).
Delapan Truk Tangki Didatangkan dari Gresik
Untuk mencegah gangguan pasokan semakin meluas, Pertamina mengambil langkah pengalihan distribusi. Pasokan elpiji didatangkan langsung dari Terminal Elpiji Gresik menuju Banyuwangi.
Sedikitnya delapan unit truk tangki telah digeser untuk memasok kebutuhan di Banyuwangi. Setiap armada memiliki kapasitas angkut hingga 15 ribu kilogram gas.
Heni menyebut, pasokan darurat tersebut nantinya dialokasikan untuk mengisi sekitar 3.920 tabung gas melon.
Jumlah itu memang membantu mengisi kekosongan di sejumlah titik. Namun, Heni mengakui pasokan tersebut masih berada di bawah kebutuhan riil LPG 3 kg masyarakat Banyuwangi setiap hari.
Dengan kata lain, distribusi darurat belum serta-merta mengembalikan kondisi pasokan seperti sebelum akses Terminal Bosowa terganggu.
Terminal Bosowa Jadi Titik Penting
Selama ini, Terminal Elpiji Bosowa memiliki posisi penting dalam rantai distribusi LPG di Banyuwangi. Fasilitas di Kelurahan Bulusan tersebut menjadi depot sentral penampungan elpiji sebelum gas disalurkan menuju enam SPBE di Banyuwangi.
Sejumlah SPBE yang mengandalkan pasokan tersebut antara lain SPBE Rogojampi, Banyuwangi Kota, Ketapang, hingga Singojuruh.
Ketika akses menuju terminal terganggu, efeknya merambat ke fasilitas pengisian. SPBE yang seharusnya mendapat pasokan dari terminal pun ikut mengalami hambatan dalam memenuhi kebutuhan tabung LPG masyarakat.
Meski demikian, Heni menegaskan persoalan tersebut bukan karena stok elpiji secara nasional menipis. Masalahnya berada pada jalur distribusi lokal yang terganggu.
"Semoga kendala teknis yang di Banyuwangi segera bisa diselesaikan oleh Pertamina sehingga kita tidak langka," harapnya.
Sopir Truk Harus Tempuh Rute Lebih Panjang
Gangguan di Terminal Bosowa juga mengubah ritme kerja sopir truk pengangkut elpiji. Mereka yang biasanya menyelesaikan distribusi dalam hitungan jam kini harus menempuh perjalanan lebih panjang untuk mengambil pasokan.
Salah seorang pengemudi yang enggan disebutkan namanya mengatakan perubahan itu mulai dirasakan sejak Selasa (25/8). Karena akses Terminal Bosowa terhambat, armada harus mengambil stok dari Gresik dan Surabaya.
"Biasanya 8 jam sudah selesai kerja, keliling ke beberapa SPBE. Sekarang butuh waktu sampai 24 jam. Harus ambil dulu di Gresik," keluhnya.
Perubahan rute tersebut membuat waktu distribusi membengkak. Jika sebelumnya satu armada dapat berkeliling memasok beberapa SPBE dalam sehari, kini waktu perjalanan untuk mengambil gas menjadi jauh lebih panjang.
Warga Keliling Sepuluh Pangkalan
Efek gangguan distribusi akhirnya sampai ke konsumen. Nurul, warga Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi, mengaku mulai kesulitan mendapatkan LPG 3 kg dalam beberapa hari terakhir.
Ia bahkan harus mendatangi sejumlah pangkalan dan subpangkalan. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
"Stok kosong semua. Saya keliling ke sekitar sepuluh pangkalan dan subpangkalan, tapi tidak ada stoknya semua," kata Nurul.
Dalam kondisi tersebut, Nurul akhirnya mendapatkan LPG setelah meminjam tabung dari kerabatnya di kawasan Kalipuro. Beberapa subpangkalan di wilayah itu disebut masih memiliki sisa stok.
"Terpaksa pinjam dulu, setidaknya bisa bertahan untuk kebutuhan selama seminggu. Semoga tidak sulit dicari elpiji lagi," tandasnya.
Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana gangguan di satu titik distribusi dapat menjalar hingga dapur rumah tangga. Selama akses Terminal Elpiji Bosowa belum kembali normal, kelancaran pasokan LPG 3 kg Banyuwangi masih bergantung pada skema distribusi alternatif yang ditempuh Pertamina. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin