RADAR BANYUWANGI – Musim kemarau membuat petani di wilayah yang minim sumber air harus mengubah strategi tanam. Di Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, sebagian petani memilih meninggalkan padi sementara dan beralih menanam jagung serta palawija untuk menghindari risiko gagal panen akibat kekeringan.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Tanaman padi membutuhkan pasokan air lebih banyak, sementara hujan mulai jarang turun dan sejumlah lahan pertanian di wilayah tersebut kerap mengalami kekeringan ketika memasuki musim kemarau.
Bagi petani, memaksakan menanam padi dalam kondisi seperti itu justru berisiko. Ketika pasokan air tidak mencukupi, tanaman dapat terganggu pertumbuhannya hingga berujung gagal panen.
Sukijan, 45, petani asal Desa Kedungasri, menjadi salah satu yang memilih mengganti komoditas. Setelah panen padi, lahan miliknya kini ditanami jagung.
“Musim ketigo (kemarau) jadi ganti tanam jagung,” katanya, Jumat (21/8).
Tak Berani Ambil Risiko
Menurut Sukijan, perubahan pola tanam juga dilakukan oleh mayoritas petani di wilayahnya. Jagung dan tanaman palawija dipilih karena dianggap lebih sesuai dengan kondisi lahan yang minim air.
Sebelumnya, para petani masih dapat menanam padi secara serentak. Namun, setelah memasuki musim kemarau, pilihan komoditas mulai berubah.
“Setelah panen rata-rata berganti tanaman,” ujarnya.
Pertimbangan utamanya adalah risiko. Petani khawatir tanaman padi yang sudah ditanam tidak mendapatkan air cukup ketika kemarau berlangsung lebih panjang.
Daripada mengeluarkan biaya untuk menanam padi tetapi berujung gagal panen, petani memilih komoditas yang lebih mampu bertahan dengan ketersediaan air terbatas.
Dekat Saluran Air Masih Tanam Padi
Meski sebagian besar petani beralih ke jagung dan palawija, tidak semua lahan ditinggalkan dari tanaman padi.
Petani yang memiliki sawah berdekatan dengan aliran air masih berani mempertahankan padi. Ketersediaan air yang lebih mudah membuat mereka tidak terlalu bergantung pada hujan ataupun menunggu giliran mendapatkan pasokan.
“Kalau yang dekat dengan aliran air ya tetap berani tanam padi,” terang Sukijan.
Kondisi tersebut membuat pola tanam di kawasan pertanian Tegaldlimo tidak sepenuhnya seragam. Letak lahan dan akses terhadap sumber air menjadi faktor penting dalam menentukan komoditas yang ditanam petani.
Jagung Jadi Pilihan Menunggu Hujan
Petani lainnya, Khadir, 50, juga mengambil keputusan serupa. Dia memilih menanam jagung untuk mengisi lahan selama musim kemarau.
Pertimbangannya sederhana. Jagung memiliki masa tanam sekitar tiga bulan. Dengan perhitungan tersebut, panen diharapkan bertepatan dengan datangnya musim penghujan yang diperkirakan mulai sekitar November 2026.
“Tanam jagung kan sekitar tiga bulan, nanti panen pas bulan November, yang biasanya sudah terjadi musim hujan,” katanya.
Strategi tersebut menjadi cara petani menjaga lahan tetap produktif sembari menunggu perubahan musim.
Bagi petani di wilayah yang rawan kekeringan, musim kemarau bukan berarti harus membiarkan sawah menganggur. Pergantian komoditas menjadi pilihan untuk menekan risiko kerugian sekaligus mempertahankan pendapatan dari lahan pertanian.
Pada akhirnya, air menjadi penentu utama pola tanam. Lahan yang memiliki akses air masih dapat mempertahankan padi, sedangkan lahan yang bergantung pada hujan lebih memilih jagung dan palawija hingga musim penghujan kembali datang. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin