IHSG Menguat 0,75 Persen Jelang Keputusan BI-Rate

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:25 WIB
IHSG ditutup menguat 47,94 poin atau 0,75 persen ke posisi 6.449,83 pada perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026, menjelang pengumuman kebijakan suku bunga Bank Indonesia. (Gemini AI)
IHSG ditutup menguat 47,94 poin atau 0,75 persen ke posisi 6.449,83 pada perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026, menjelang pengumuman kebijakan suku bunga Bank Indonesia. (Gemini AI)

RADAR BANYUWANGI - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakhiri perdagangan Selasa (18/8), dengan penguatan. 

Pelaku pasar merespons ekspektasi bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan dalam pengumuman kebijakan moneter pada Rabu (19/8).

IHSG ditutup naik 47,94 poin atau 0,75 persen menjadi 6.449,83.

Penguatan tersebut berlangsung sejak awal perdagangan dan bertahan hingga sesi kedua berakhir.

Berbeda dengan IHSG, indeks LQ45 yang mencerminkan kinerja 45 saham berkapitalisasi besar justru turun 1,25 poin atau 0,20 persen ke level 631,03.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai sentimen terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang menopang pergerakan IHSG.

“Penguatan IHSG ditopang oleh ekspektasi bahwa BI-Rate akan tetap dipertahankan di level 5,75 persen, seiring inflasi yang masih berada dalam target BI serta upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Ratna.

Bank Indonesia tengah melaksanakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Agustus 2026.

Hasil rapat tersebut akan menjadi perhatian utama investor karena keputusan suku bunga dapat memengaruhi arah pasar saham, nilai tukar, serta ekspektasi terhadap perekonomian domestik.

Sepanjang 2026, BI telah menaikkan BI-Rate secara kumulatif 100 basis poin.

Kenaikan tersebut dilakukan satu kali sebesar 50 basis poin pada Mei dan dua kali masing-masing 25 basis poin pada Juni.

Pada rapat Juli 2026, BI kemudian memilih mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen.

Ekspektasi pasar terhadap stabilitas suku bunga turut berjalan bersamaan dengan perhatian terhadap nilai tukar rupiah.

Pada perdagangan Selasa sore, rupiah berada di sekitar Rp17.862 per dolar AS.

Stabilitas mata uang menjadi salah satu pertimbangan penting bagi pelaku pasar ketika menilai prospek kebijakan moneter berikutnya.

Dari sisi eksternal, sentimen regional masih menghadapi tekanan akibat berkurangnya harapan terhadap penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran dalam waktu dekat.

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan yang berlangsung lebih lama dari kawasan terdampak.

Meskipun terdapat risiko eksternal, pergerakan sektoral di BEI menunjukkan dominasi penguatan.

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, sebanyak 10 sektor mencatat kenaikan. Sektor energi menjadi pemimpin dengan pertumbuhan 2,24 persen.

Sektor infrastruktur berada di posisi berikutnya setelah naik 1,65 persen, sedangkan sektor transportasi dan logistik meningkat 1,42 persen.

Satu-satunya sektor yang mencatat pelemahan adalah sektor keuangan, yang turun 0,29 persen.

Sejumlah saham juga mencatat perubahan harga yang cukup menonjol.

Saham KIJA, PADA, JARR, INET, dan ASLI menjadi kelompok dengan kenaikan harga terbesar.

Sementara itu, TCPI, BAIK, STAR, GRPM, dan FUTR termasuk saham yang mengalami penurunan harga paling besar.

Aktivitas perdagangan berlangsung cukup ramai.

BEI mencatat 2.162.000 kali transaksi dengan volume perdagangan mencapai 32,07 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp14,80 triliun.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 419 saham menguat, 248 saham melemah, dan 296 saham tidak mengalami perubahan harga.

Pergerakan IHSG tersebut berlangsung di tengah kondisi bursa Asia yang beragam.

Pada penutupan perdagangan, Nikkei turun 2,45 persen menjadi 67.521,00, sementara Shanghai Composite naik 0,19 persen ke 3.990,18.

Hang Seng bertambah 0,07 persen menjadi 25.471,85.

Di sisi lain, Kospi melemah 1,55 persen ke 6.869,97 dan Straits Times turun 1,16 persen menjadi 5.701,79.

Perbedaan arah tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar di kawasan Asia masih mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari kebijakan moneter hingga perkembangan geopolitik.

Perhatian investor domestik berikutnya akan tertuju pada keputusan Bank Indonesia pada Rabu. 

Keputusan untuk mempertahankan atau mengubah BI-Rate berpotensi menjadi katalis penting bagi pasar, khususnya setelah IHSG berhasil mengakhiri perdagangan Selasa di zona positif.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
pasar saham Indonesia BI-Rate ihsg Bank Indonesia bursa efek indonesia