IHSG Hari Ini: Ada Peluang Menguat, tapi Net Sell Asing Wajib Diwaspadai

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 07:03 WIB
Layar perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. IHSG berpeluang melanjutkan penguatan dan menguji level 6.450 pada perdagangan Selasa (18/8), meski investor masih dibayangi aksi jual asing serta agenda kebijakan moneter. (Gemini AI)
Layar perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. IHSG berpeluang melanjutkan penguatan dan menguji level 6.450 pada perdagangan Selasa (18/8), meski investor masih dibayangi aksi jual asing serta agenda kebijakan moneter. (Gemini AI)

RADAR BANYUWANGI – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka pekan perdagangan dengan peluang kembali melanjutkan penguatan. Setelah menguat signifikan pada perdagangan terakhir sebelum libur Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan RI, indeks kini berhadapan dengan level resistance penting di kisaran 6.450.

Pada perdagangan Jumat (14/8), IHSG ditutup di level 6.401,89 atau menguat 1,59 persen. Penguatan tersebut menjadi modal awal bagi pasar untuk melanjutkan tren positif pada perdagangan Selasa (18/8). Sejumlah analis memperkirakan indeks memiliki peluang bergerak menuju area 6.450 hingga 6.480.

Phintraco Sekuritas menilai momentum tersebut masih ditopang sejumlah indikator teknikal. Stochastic RSI membentuk golden cross di area pivot, sedangkan histogram positif MACD menunjukkan pelebaran.

“Dengan demikian, IHSG hari ini diperkirakan akan menguji level 6.450-6.480,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Selasa (18/8).

Level 6.450 menjadi perhatian utama karena keberhasilan melewati titik tersebut dapat memperkuat konfirmasi tren kenaikan. Sebaliknya, jika indeks gagal mempertahankan momentum, tekanan jual berpotensi kembali muncul.

MNC Sekuritas juga melihat ruang penguatan masih terbuka. Dalam skenario terbaik, IHSG diproyeksikan menuju rentang 6.440–6.544. Namun, skenario koreksi tetap perlu diantisipasi apabila pola teknikal justru mengarah pada pembentukan gelombang korektif.

Dari sudut pandang yang lebih pendek, Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas mematok support IHSG di 6.324 dan resistance di 6.425.

“Untuk Selasa posisi pergerakan IHSG masih berpeluang menguat dengan support 6.324 dan resist 6.425,” ujar Herditya.

Di balik sinyal teknikal tersebut, pasar juga memperoleh dorongan dari sentimen domestik. Pernyataan pemerintah mengenai kinerja ekonomi semester I 2026 menjadi salah satu faktor yang dinilai dapat memperbaiki persepsi investor terhadap prospek perekonomian nasional.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia disebut mencapai 5,45 persen secara tahunan pada semester pertama 2026. Pemerintah juga menargetkan pertumbuhan hingga 6 persen pada akhir tahun. Di sisi lain, realisasi investasi semester I disebut telah mencapai Rp 1.010 triliun dan turut dibarengi pembukaan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja.

Phintraco Sekuritas menilai perkembangan tersebut berpotensi memberikan efek berantai kepada sektor perbankan, konsumsi, industri, hingga konstruksi apabila peningkatan investasi benar-benar mendorong kredit dan belanja masyarakat.

“Sektor perbankan, konsumsi, industri dan konstruksi berpotensi mendapat sentimen positif jika investasi mendorong terjadinya multiplier effect terhadap konsumsi dan kredit,” papar Phintraco Sekuritas.

Sentimen positif juga datang dari sektor pangan. Pemerintah menyampaikan pencapaian swasembada sejumlah komoditas, mulai beras, jagung, gula konsumsi hingga produk hortikultura. Kondisi itu berpotensi menjadi katalis bagi emiten poultry, perkebunan, pupuk, dan pengolahan makanan.

Program biodiesel B50 juga ikut menjadi perhatian pasar. Kebijakan tersebut diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp 170 triliun per tahun sekaligus meningkatkan kebutuhan crude palm oil (CPO) di dalam negeri.

Pada saat yang sama, rencana restrukturisasi badan usaha milik negara (BUMN) menjadi maksimal 300 entitas pada akhir 2026 disebut berpotensi menekan biaya overhead. Phintraco memperkirakan efisiensi tersebut dapat mencapai sekitar Rp 50 triliun per tahun.

“Dividen tahun buku 2026 dari BUMN diproyeksikan Rp 200 triliun tanpa tambahan PMN,” tulis Phintraco Sekuritas.

Meski sejumlah katalis terlihat positif, investor tidak bisa mengabaikan risiko dari aliran dana asing. Aktivitas net sell menjadi salah satu faktor yang berpotensi membatasi ruang kenaikan IHSG.

Mirae Asset Sekuritas mencatat aksi jual bersih investor asing sepanjang pekan lalu mencapai sekitar Rp 2,5 triliun. Posisi tersebut berbalik dari kondisi pekan sebelumnya ketika asing masih membukukan net buy.

Sejumlah saham menjadi sasaran tekanan jual, di antaranya TPIA, BMRI, dan ASII. Sebaliknya, investor asing masih tercatat melakukan pembelian pada BBRI, TINS, dan BBCA.

Situasi itu membuat pergerakan IHSG tidak semata ditentukan oleh grafik teknikal. Sentimen kebijakan moneter juga menjadi penentu penting sepanjang pekan ini.

Investor menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Rabu (19/8). BI Rate diperkirakan masih bertahan di level 5,75 persen. Level tersebut merupakan suku bunga acuan yang dinaikkan BI pada Juni 2026.

Pasar juga mencermati dampak review MSCI terhadap aliran dana asing. Selain itu, risalah rapat The Federal Reserve atau FOMC Minutes akan menjadi referensi investor untuk membaca arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Perhatian pasar belum berhenti di sana. Pada hari yang sama dengan agenda FOMC Minutes, China dijadwalkan mengumumkan suku bunga acuan Loan Prime Rate (LPR). Kemudian pada Jumat (21/8), investor menunggu hasil FTSE Russell August/September Review. FTSE sebelumnya telah menunda full re-ranking saham Indonesia hingga review September 2026.

Selain pasar saham, pergerakan rupiah juga menjadi faktor penting. Rupiah pada Jumat (14/8) disebut menguat 0,28 persen ke kisaran Rp17.827 per dolar AS. Penguatan mata uang domestik berpotensi membantu sentimen investor, terutama bagi emiten yang memiliki eksposur valuta asing.

Untuk saham, sejumlah nama yang masuk radar analis antara lain BMRI, BBNI, BBCA, TINS, dan MDKA. MNC Sekuritas juga menyodorkan AADI, ANTM, serta VKTR, sementara analisis teknikal lain menempatkan TLKM dan INDF sebagai saham yang patut diperhatikan.

TLKM, misalnya, ditutup menguat 1,16 persen ke Rp2.620 pada Jumat (14/8). Saham tersebut dinilai memiliki pola kenaikan dengan resistance terdekat Rp2.800. Sementara INDF ditutup di Rp7.425 dan masih berpeluang meneruskan tren naik, meski volume transaksi yang mengecil menjadi sinyal kewaspadaan.

Perdagangan Selasa akan menjadi ujian pertama bagi kekuatan rebound IHSG setelah jeda libur nasional. Kemampuan indeks bertahan di atas area psikologis 6.400 sekaligus menembus 6.450 akan menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Optimisme memang masih terbuka. Namun, tekanan net sell asing, arah BI Rate, sentimen MSCI, kebijakan The Fed, dan pergerakan bursa global bisa dengan cepat mengubah arah perdagangan.

Bagi investor ritel, situasi tersebut membuat disiplin pada level support dan resistance tetap penting. Pasar yang terlihat bullish belum berarti tanpa risiko.


Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai ajakan membeli atau menjual saham. Rekomendasi dan proyeksi yang disebutkan berasal dari analis sekuritas. Setiap keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Saham Indonesia Bursa Saham investasi bi rate ihsg