RADAR BANYUWANGI — Harga emas kembali menemukan tenaga setelah data inflasi Amerika Serikat memberi sinyal yang dinanti pasar. Inflasi AS pada Juli 2026 yang lebih rendah dari perkiraan membuat peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve atau The Fed pada September mulai menyusut.
Berdasarkan data yang dilansir Kitco, harga emas spot ditutup menguat 0,9 persen atau naik ke level US$4.406,20 per troy ounce dalam perdagangan Rabu (12/8/2026).
Penguatan emas terjadi setelah Amerika Serikat merilis data inflasi terbaru yang menunjukkan tekanan harga mulai melandai. Kondisi tersebut menjadi angin segar bagi aset safe haven seperti emas karena ekspektasi kebijakan moneter ketat The Fed ikut berubah.
Data consumer price index (CPI) menunjukkan inflasi AS meningkat 0,1 persen secara bulanan pada Juli dan 3,4 persen secara tahunan.
Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi naik 0,2 persen secara bulanan dan 2,5 persen secara tahunan.
Angka tersebut membuat pasar mulai mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September.
Peluang Kenaikan Bunga The Fed Menyusut
Respons pasar terlihat cukup cepat setelah data CPI dirilis.
Peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September turun menjadi sekitar 40 persen, dari sebelumnya sekitar 48 persen pada Selasa (11/8/2026).
Artinya, investor mulai melihat kemungkinan The Fed memilih menahan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Perubahan ekspektasi tersebut menjadi katalis positif bagi emas. Sebab, ketika prospek kenaikan suku bunga mereda, tekanan terhadap aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas juga cenderung berkurang.
Pasar obligasi AS turut memberikan sinyal serupa.
Yield US Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 4,68 persen, sedangkan imbal hasil surat utang AS tenor dua tahun turun menuju 4,20 persen.
Pergerakan yield menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor emas karena perubahan imbal hasil obligasi dapat memengaruhi daya tarik logam mulia.
Inflasi Jasa Masih Jadi Perhatian
Meski inflasi menunjukkan tanda-tanda melandai, kondisi ekonomi AS belum sepenuhnya bebas dari tekanan harga.
Dilansir The Guardian, kenaikan harga pada kelompok makanan dan jasa—termasuk perumahan, transportasi, serta layanan kesehatan—masih berada di kisaran 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Harga bahan pangan di tingkat konsumen memang sedikit menurun. Namun, tekanan dari sektor jasa masih menjadi perhatian karena komponen tersebut cenderung lebih sulit turun secara cepat.
Sektor energi juga memberikan gambaran yang beragam.
Harga bensin turun hampir 3 persen secara bulanan, tetapi masih sekitar 15 persen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Harga bensin rata-rata di AS berada di kisaran US$4 per galon, sekitar US$0,85 lebih tinggi dibandingkan setahun lalu.
Kondisi energi tersebut membuat risiko inflasi belum sepenuhnya menghilang dari radar The Fed.
Harga minyak mentah Brent juga menjadi salah satu sumber ketidakpastian. Harga sempat turun pada Juni setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan damai, tetapi kembali meningkat setelah kesepakatan tersebut runtuh pada Juli.
Situasi geopolitik masih menjadi faktor penting. Negosiasi untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah dan membuka kembali Selat Hormuz juga belum menemukan titik terang.
Jika gangguan pasokan energi kembali meningkat, tekanan inflasi AS berpotensi mendapatkan dorongan baru.
Pasar Tenaga Kerja Mulai Melemah
Di tengah inflasi yang mulai melandai, ekonomi AS juga menghadapi sinyal lain yang tak kalah penting: pasar tenaga kerja mulai kehilangan tenaga.
Data ketenagakerjaan menunjukkan perusahaan-perusahaan AS secara tidak terduga memangkas 23.000 pekerjaan pada Juli 2026.
Tidak berhenti di situ. Data pekerjaan untuk Mei dan Juni juga direvisi turun dengan total 103.000 pekerjaan.
Revisi tersebut menggambarkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih lemah dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Tekanan terhadap daya beli pekerja juga terlihat dari perkembangan upah. Setelah disesuaikan dengan inflasi, upah pekerja per jam tercatat turun 0,2 persen.
Kombinasi antara inflasi yang mulai melandai dan pasar tenaga kerja yang melemah menjadi alasan tambahan bagi pasar untuk memperkirakan The Fed tidak perlu memperketat kebijakan moneter secara agresif.
The Fed Masih Terbelah
Meski demikian, keputusan The Fed belum tentu mudah.
Pada pertemuan terakhir, bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuannya dengan hasil pemungutan suara 9 berbanding 3.
Tiga pejabat The Fed berbeda pendapat dan menginginkan kebijakan yang lebih ketat untuk merespons inflasi yang masih berada di atas target.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa risiko inflasi belum sepenuhnya dianggap selesai.
Karena itu, pasar kini akan mencermati data ekonomi berikutnya sebelum menarik kesimpulan lebih jauh mengenai keputusan September.
Bagi emas, situasi tersebut menciptakan ruang untuk kembali menguat. Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah atau setidaknya tidak naik biasanya menjadi katalis positif bagi logam mulia.
Harga Emas Masih Menguat pada Kamis Pagi
Momentum positif emas masih terlihat pada perdagangan Kamis (13/8/2026) pagi.
Berdasarkan data Kitco, harga emas pada pukul 06.54 WIB tercatat menguat tipis 0,05 persen atau naik 1,8 poin ke level US$4.409,40 per troy ounce.
Dengan demikian, emas masih bertahan di atas level US$4.400 per troy ounce.
Pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada bagaimana investor menerjemahkan kombinasi data inflasi, pasar tenaga kerja, yield obligasi, serta arah kebijakan The Fed.
Untuk sementara, sinyal yang datang dari ekonomi AS memberikan satu pesan penting bagi pasar emas: tekanan inflasi mulai mereda, pasar kerja melemah, dan peluang kenaikan bunga The Fed pada September tidak lagi sebesar sebelumnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin